Refleksi Harkitnas 2026, Abraham Garuda Laksono Serukan Kebangkitan Ideologis Kader PDIP

waktu baca 3 menit
Rabu, 20 Mei 2026 10:53 27 Nazwa

TANGERANG | TD — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 dimaknai secara berbeda oleh Abraham Garuda Laksono. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Wakil Ketua Bidang Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata DPD PDI Perjuangan Provinsi Banten itu menggelar saresehan politik di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan yang dihadiri pengurus PAC PDI Perjuangan dari tujuh kecamatan di Kabupaten Tangerang, yakni Curug, Kelapa Dua, Panongan, Cikupa, Legok, Pagedangan, dan Cisauk tersebut, menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi ideologis kader partai di tingkat akar rumput.

Abraham Garuda Laksono berfoto bersama pengurus PAC PDI Perjuangan dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Tangerang usai saresehan politik refleksi Harkitnas 2026 di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Kelapa Dua, Rabu (20/5/2026). (Foto : Ist)

Dalam sambutannya, Abraham menegaskan bahwa Hari Kebangkitan Nasional tidak boleh dipahami sebatas seremoni historis, melainkan momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif bangsa di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang terus berkembang.

“Harkitnas adalah panggilan sejarah agar bangsa ini tidak kehilangan arah. Ketika dunia dilanda konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, rakyat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Harga kebutuhan naik, daya beli melemah, dan tekanan hidup semakin berat,” ujar Abraham.

Ia menilai situasi global saat ini telah memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu, menurutnya, politik tidak boleh kehilangan orientasi kerakyatan.

Abraham kemudian mengajak seluruh kader PDI Perjuangan untuk kembali mengingat semangat kebangkitan nasional yang pernah dipelopori Budi Utomo pada 1908. Setelah 118 tahun berlalu, kata dia, bangsa Indonesia memang telah berkembang, namun persoalan mendasar seperti ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, hingga pelayanan kesehatan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diperjuangkan bersama.

“Kesadaran nasional harus terus dirawat. Kebangkitan bangsa bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang membangun karakter, solidaritas sosial, dan keberanian berpihak kepada rakyat kecil,” katanya.

Dalam forum tersebut, Abraham juga menekankan pentingnya kader partai memahami akar ideologi perjuangan PDI Perjuangan yang berpijak pada Pancasila dan ajaran Marhaenisme warisan Soekarno. Menurutnya, kader partai harus mampu menjadi “anak ideologis Bung Karno” yang tidak hanya aktif secara politik, tetapi juga memiliki kesadaran intelektual dan keberpihakan sosial.

Ia menjelaskan bahwa ajaran Bung Karno tentang Trisakti — berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan — masih sangat relevan di tengah tantangan globalisasi dan penetrasi budaya digital saat ini.

“Kalau kader partai kehilangan akar ideologinya, maka politik akan mudah berubah hanya menjadi perebutan kekuasaan. Padahal politik seharusnya menjadi alat perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial,” tegasnya.

Suasana saresehan berlangsung hangat dan dialogis. Para peserta dari berbagai PAC terlibat aktif dalam diskusi mengenai kondisi sosial masyarakat, tantangan kaderisasi, hingga pentingnya menjaga soliditas partai di tingkat bawah.

Soekoto, pengurus PAC PDI Perjuangan Curug, menilai kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran politik kader secara lebih mendalam.

“Abraham Garuda Laksono menjadi salah satu pionir yang terus mendorong kesadaran politik melalui saresehan seperti ini. Forum ini bukan sekadar konsolidasi organisasi, tetapi ruang untuk memperkuat semangat ideologis dan soliditas kader di akar rumput,” ujarnya.

Sementara itu, Budi, Wakil Ketua PAC PDI Perjuangan Kelapa Dua, mengatakan tradisi diskusi politik dan refleksi kebangsaan harus terus dihidupkan agar kader partai tidak kehilangan arah perjuangan.

“Tradisi seperti ini penting supaya kader partai tidak sekadar hadir saat momentum elektoral, tetapi benar-benar memahami sejarah perjuangan bangsa, ideologi partai, dan tanggung jawab moral kepada rakyat,” katanya.

Melalui momentum Harkitnas 2026 tersebut, Abraham berharap kader PDI Perjuangan mampu terus menjaga semangat persatuan, nasionalisme, dan gotong royong di tengah dinamika zaman. Ia menegaskan, kebangkitan nasional hari ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi bagaimana melahirkan kesadaran baru untuk memperjuangkan masa depan Indonesia yang lebih berkeadilan. (*)

LAINNYA