Peserta mengikuti webinar keperempuanan UKM FK-3 UINSSC secara virtual melalui Zoom Meeting bersama pemateri Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah, membahas isu patriarki dan kesetaraan gender. (Foto : Ist) CIREBON | TD — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Kajian Kitab Kuning (FK-3) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) menggelar Webinar Keperempuanan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (15/5/2026).
Kegiatan bertema “Berkarier, Berdaya, dan Tetap Setara: Perempuan Menghadapi Patriarki dan Realita Marriage is Scary” itu diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Cirebon, Indramayu, hingga Surabaya.
Ketua Umum UKM FK-3, Ade Mulyana, mengatakan webinar tersebut bertujuan membuka ruang diskusi yang sehat mengenai isu perempuan, kesetaraan gender, serta pentingnya membangun relasi sosial yang saling mendukung di kalangan generasi muda.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang belajar bersama agar generasi muda semakin memahami pentingnya saling menghargai dan mendukung perempuan untuk berkembang, baik dalam pendidikan, karier, maupun kehidupan sosial,” ujarnya.
Webinar menghadirkan Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perempuan hingga kini masih kerap dibatasi oleh standar sosial dan konstruksi budaya yang berkembang di masyarakat.
Ia juga mengutip pandangan filsuf Prancis, , yang menyatakan bahwa “Perempuan tidak dilahirkan, tetapi dijadikan.” Menurutnya, pandangan tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan selama ini banyak dibentuk oleh budaya dan lingkungan sosial.
“Perempuan tidak harus memilih antara pendidikan, karier, atau keluarga. Semua dapat berjalan beriringan apabila dibangun melalui relasi yang sehat, setara, dan saling mendukung,” jelasnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satunya disampaikan Muhammad Badrul Kamal yang menanyakan bagaimana laki-laki seharusnya menyikapi budaya patriarki di tengah kehidupan sosial saat ini.
Menanggapi hal tersebut, pemateri menjelaskan bahwa budaya patriarki tidak selalu menguntungkan laki-laki. Menurutnya, patriarki juga kerap memberi tekanan sosial kepada laki-laki, seperti tuntutan untuk selalu kuat, menahan emosi, dan memikul seluruh beban keluarga seorang diri.
Melalui webinar ini, UKM FK-3 berharap generasi muda semakin memahami pentingnya membangun relasi yang sehat, saling menghargai, serta mendukung perempuan agar terus berkembang, berdaya, dan memperoleh kesempatan yang setara di berbagai bidang kehidupan. (Hijar/Red)