Kunci Sukses Pendidikan Keluarga dalam Islam di Era Digital

waktu baca 2 menit
Minggu, 26 Apr 2026 10:57 162 Nazwa

OPINI | TD — Semua manusia yang terlahir di bumi ini tidak serta-merta menjadi pintar. Setiap individu melalui proses panjang yang disebut pendidikan. Dalam Islam, pendidikan terbagi menjadi dua pilar utama, yaitu pendidikan dalam keluarga dan pendidikan di lingkungan sekolah.

1. Pendidikan Orang Tua terhadap Anak

Seorang anak pada usia dini sangat membutuhkan pendampingan yang tepat dalam proses tumbuh kembangnya. Ia memerlukan sosok yang memahami karakternya, mampu berkomunikasi sesuai dengan tingkat usianya, serta tidak mudah salah paham terhadap perilakunya. Allah Swt. berfirman:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝٧٨

Artinya, Allah menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, kemudian diberikan pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat belajar dan bersyukur.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketegasan, ketekunan, serta ketenangan dalam mendidiknya. Terlebih di era globalisasi saat ini, di mana anak-anak sudah akrab dengan gawai sejak usia dini. Penggunaan gawai tanpa kontrol dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membatasi serta mengarahkan penggunaan teknologi secara bijak.

Memberikan gawai hanya untuk menenangkan anak yang menangis bukanlah solusi pendidikan yang tepat. Justru, hal tersebut dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Orang tua harus hadir secara utuh, bukan sekadar menggantikan peran dengan teknologi.

2. Pendidikan Guru terhadap Siswa

Pendidikan formal di sekolah melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Dalam hal ini, guru bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan bagi murid-muridnya.

إن تنفيذ التربية الخلقية والعقلية لا يكفي بمجرد الكلام، بل لا بد أن يكون بالقدوة الصالحة وإيجاد البيئة، وكل ما يراه التلاميذ وما يسمعونه من حركات وأصوات في هذا المعهد يكون عاملاً من عوامل التربية الخلقية والعقلية

Artinya, pendidikan akhlak dan intelektual tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan dan lingkungan yang baik. Segala sesuatu yang dilihat dan didengar oleh siswa akan memengaruhi pembentukan karakter mereka.

Filosofi Jawa menyebutkan bahwa guru adalah sosok yang “digugu dan ditiru”, yakni dipercaya ucapannya dan dicontoh perbuatannya. Oleh karena itu, seorang guru dituntut memiliki integritas tinggi, karena tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian siswa.

Kesimpulan

Manusia menjadi cerdas melalui proses pendidikan, bukan sejak lahir. Pendidikan utama berasal dari keluarga, khususnya orang tua yang membentuk karakter sejak dini. Sementara itu, guru berperan sebagai teladan dalam lingkungan pendidikan formal. Sinergi antara keduanya sangat penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Penulis: Daud Dzulfadhli, Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Prodi Pendidikan Bahasa Arab. (*)

LAINNYA