Grebeg Suro IKG 2026 Jadi Ajang Pelestarian Budaya Jawa di Tangerang

waktu baca 3 menit
Minggu, 14 Jun 2026 12:30 24 Nazwa

TANGERANG | TD – Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) kembali menggelar Grebeg Suro IKG 2026 sebagai upaya melestarikan budaya Jawa sekaligus mempererat persaudaraan warga Gunungkidul di perantauan. Kegiatan yang akan berlangsung di Mall Ciputra Citra Raya, Tangerang, ini menghadirkan beragam tradisi khas Jawa dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau malam 1 Suro.

Acara akan dihadiri jajaran pengurus IKG, warga Gunungkidul yang berdomisili di Jabodetabek, serta sejumlah tokoh dan pejabat daerah, di antaranya Gubernur Banten, Bupati Tangerang, Bupati Gunungkidul, Kepala Badan Penghubung Daerah (Banhubda) DIY beserta jajaran, anggota DPRD Provinsi DIY, DPRD Kabupaten Gunungkidul, dan berbagai unsur masyarakat lainnya.

Ketua Panitia Grebeg Suro IKG 2026, Riyadi, menjelaskan bahwa kegiatan akan berlangsung dalam dua sesi, yakni pagi dan malam hari.

“Pada sesi pagi akan digelar Pameran Pusaka, pertunjukan Jaranan Kreasi, serta hiburan campursari yang dibawakan Paguyuban Seni (PS) IKG,” ujar Riyadi dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 14 Juni 2026.

Memasuki sesi malam, acara diawali dengan prosesi Arak-Arakan Gunungan Polowijo yang diikuti jajaran pengurus IKG mulai dari Dewan Pembina, Pelaksana Harian, perwakilan 18 Koordinator Kapanewon, hingga tujuh Koordinator Wilayah yang membawa obor. Prosesi juga dimeriahkan oleh cucuk lampah, pembawa dupa ratus, punakawan, serta gunungan hasil bumi.

Arak-arakan Gunungan Polowijo menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil bumi, lambang kesuburan, serta wujud keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Tradisi ini juga mencerminkan semangat berbagi berkah dan kemakmuran kepada masyarakat.

Rangkaian acara selanjutnya meliputi pemotongan tumpeng IKG, penyerahan Tokoh Wayang dan Cempolo, doa malam 1 Suro, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki M. Yusuf Anshor K. yang membawakan lakon Gondomono Sayembara.

Lakon tersebut mengangkat kisah Patih Gondomono dari Kerajaan Pancala yang dikenal sebagai sosok setia, teguh, dan berintegritas. Meski menghadapi fitnah serta intrik politik, Gondomono tetap memegang teguh nilai bakti, kehormatan, dan kebenaran. Cerita ini mengandung pesan moral bahwa kesetiaan sejati lahir dari ketulusan dalam mengabdi dan berbuat benar.

Sekretaris Jenderal IKG, Sulardi, mengatakan bahwa Grebeg Suro merupakan tradisi budaya dan spiritual masyarakat Jawa yang memadukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal.

“Grebeg Suro menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan. Selain itu, tradisi ini menjadi momentum refleksi diri untuk memperbaiki kehidupan di tahun yang baru,” ujarnya.

Menurut Sulardi, penyelenggaraan Grebeg Suro tidak hanya bertujuan memohon keselamatan dan keberkahan, tetapi juga menjadi sarana pelestarian warisan budaya leluhur, memperkuat silaturahmi, serta menumbuhkan semangat gotong royong antarwarga. Tradisi ini juga berpotensi menjadi media promosi seni budaya dan potensi daerah yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dan sektor pariwisata.

Ketua Umum IKG, Ipda Purn. Saimo, berharap Grebeg Suro 2026 tidak hanya menjadi ajang silaturahmi warga Gunungkidul di perantauan, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan dalam mewujudkan visi organisasi melalui pelaksanaan Sapta Cita IKG.

Sementara itu, Humas IKG, Tarsih Ekaputra, menyampaikan bahwa Grebeg Suro telah menjadi agenda tahunan yang berperan penting dalam memperkuat eksistensi dan konsolidasi organisasi.

“Saat ini IKG telah berkembang menjadi organisasi besar dengan sekitar 1.600 organ organisasi yang terdiri atas 18 Koordinator Kapanewon, tujuh Koordinator Wilayah, 144 Koordinator Kelurahan, dan 1.431 Koordinator Dusun. IKG diharapkan terus menjadi wadah yang mempererat kebersamaan, solidaritas, dan semangat gotong royong warga Gunungkidul di perantauan,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan Grebeg Suro 2026, IKG menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Jawa, memperkuat jaringan persaudaraan warga Gunungkidul di perantauan, serta memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah dan pelestarian budaya bangsa. (Ril)

LAINNYA