Membaca Derrida, Menempuh Tasawuf: Dari Dekonstruksi Menuju Kesadaran Ilahiah

waktu baca 3 menit
Minggu, 26 Apr 2026 17:30 46 Nazwa

KOLOM | TD — Menggabungkan pemikiran Jacques Derrida dengan tasawuf bukan sekadar menyandingkan dua tradisi, tetapi mempertemukan dua jalan yang berbeda arah: yang satu membongkar, yang lain menyingkap. Di antara keduanya ada ketegangan—dan justru di situlah kemungkinan kedalaman lahir.

Dalam lanskap pemikiran modern, dekonstruksi hadir sebagai upaya meruntuhkan klaim-klaim kebenaran yang dianggap mapan. Ia mencurigai bahasa, membongkar struktur makna, dan menolak kepastian yang terlalu cepat disimpulkan. Namun, dalam dunia tasawuf, perjalanan tidak berhenti pada keraguan. Ia bergerak lebih jauh—menuju pengalaman batin yang langsung, menuju kesadaran akan Yang Ilahi.

Tahap awal dalam tasawuf dikenal sebagai takhalli, yakni pengosongan diri dari ilusi, ego, dan keterikatan semu. Dalam konteks ini, dekonstruksi dapat dipahami sebagai bentuk takhalli intelektual. Ia membersihkan kesadaran dari dominasi konsep-konsep yang selama ini diterima tanpa tanya. Kita mulai meragukan apa yang sebelumnya diyakini, membongkar apa yang sebelumnya dianggap pasti. Bukan untuk jatuh dalam nihilisme, tetapi untuk membuka ruang bagi kemungkinan yang lebih jernih.

Derrida mengajarkan bahwa makna tidak pernah hadir secara utuh. Ia selalu tertunda, bergerak, dan bergeser. Tidak ada kepastian final dalam bahasa. Sementara itu, dalam tasawuf, Yang Ilahi juga tidak pernah dapat ditangkap sepenuhnya oleh akal. Ia melampaui segala definisi, melampaui segala batas konseptual. Di titik ini, ada resonansi yang halus: apa yang oleh filsafat disebut sebagai ketakterjangkauan makna, dalam tasawuf menjadi kesadaran akan ketakterbatasan Tuhan.

Namun, tasawuf tidak berhenti pada kesadaran akan keterbatasan. Ia melangkah lebih jauh menuju pengalaman. Apa yang tidak dapat dijelaskan oleh bahasa, dapat dirasakan oleh hati. Di sinilah muncul konsep dzauq—rasa batin yang tidak bisa direduksi menjadi kata-kata. Jika dekonstruksi membongkar teks, maka tasawuf menghidupkan makna dalam pengalaman.

Dekonstruksi juga dapat diarahkan pada diri. Identitas yang selama ini kita anggap kokoh ternyata rapuh dan terbentuk oleh berbagai konstruksi. “Aku” bukanlah sesuatu yang tetap. Dalam tasawuf, kesadaran ini mencapai puncaknya dalam konsep fana—lenyapnya ego dalam kehadiran Yang Ilahi. Apa yang dalam filsafat dibongkar, dalam tasawuf dileburkan.

Perbedaan paling mendasar antara keduanya terletak pada tujuan akhir. Dekonstruksi menjaga jarak dari klaim kebenaran yang final, sementara tasawuf justru bergerak menuju ma’rifat—pengenalan langsung kepada Tuhan. Karena itu, keduanya tidak perlu dipaksakan menjadi satu. Lebih tepat jika dipahami sebagai dua tahap dalam satu perjalanan batin: pembongkaran dan penyingkapan.

Dari sini, kita dapat melihat sebuah alur yang utuh: dekonstruksi meruntuhkan kepastian, melahirkan kehampaan, membuka ruang pencarian, dan akhirnya mengantar pada pengalaman spiritual. Keraguan bukanlah akhir, melainkan gerbang.

Pada akhirnya, membaca Derrida dalam terang tasawuf bukanlah upaya menyatukan dua spektrum, melainkan membuka cara baru dalam memahami diri dan realitas. Kita belajar untuk tidak mudah percaya pada kata-kata, tetapi juga tidak berhenti pada ketidakpercayaan. Kita diajak untuk melampaui konsep tanpa menolak makna.

Di antara runtuhnya kepastian dan lahirnya kesadaran, manusia berdiri. Tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nalar, tetapi juga tidak kehilangan arah. Dalam ruang itulah, kesadaran ilahiah perlahan tumbuh—bukan sebagai hasil dari argumen, melainkan sebagai buah dari perjalanan.

Penulis: Mohamad Romli, Penikmat Teks Filsafat dan Tasawuf, Ikhwan Tarekat Qadariyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya, Redaktur TangerangDaily. (*)

LAINNYA