Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi Penulis) KOLOM | TD — Dunia mulai berubah ketika Thomas Alva Edison berhasil menyempurnakan lampu pijar melalui penelitian dan eksperimen panjang. Sejak saat itu, malam tak lagi sepenuhnya dikuasai gelap. Jalan-jalan diterangi, rumah-rumah bercahaya, dan manusia merasa telah menemukan cara menaklukkan kegelapan.
Peradaban pun bergerak semakin cepat. Kota-kota tumbuh tanpa tidur. Aktivitas berlangsung melampaui terbit dan tenggelamnya matahari. Cahaya menjadi tanda kemajuan. Semakin terang sebuah kota, semakin dianggap maju kehidupan di dalamnya.
Namun ada ironi yang diam-diam tumbuh bersama terang itu.
Di saat dunia semakin bercahaya, manusia justru tak selalu merasa terang. Di tengah gemerlap lampu, banyak orang masih menjalani hidup dalam pergulatan batin yang sunyi. Kegelapan tidak lagi sekadar soal malam, tetapi soal kehilangan makna. Ia hadir bukan hanya dalam krisis ekonomi, gejolak politik, konflik sosial, atau perubahan budaya, melainkan juga di ruang yang lebih dekat: di dalam diri manusia sendiri.
Seseorang bisa tinggal di kota yang penuh lampu, bekerja di gedung yang terang sepanjang hari, dan dikelilingi teknologi yang canggih, tetapi tetap merasa hidupnya seperti berjalan dalam kabut. Ada yang terasa hilang, meski sulit dijelaskan. Ada yang kosong, meski segala kebutuhan tampak terpenuhi.
Tasawuf memandang keadaan ini bukan sebagai masalah dunia, tetapi masalah cahaya dalam diri.
Dalam pandangan para sufi, manusia sesungguhnya seperti sebuah lampu. Jasad adalah bentuk luarnya—bohlam, kabel, dan perangkat yang tampak. Ia bisa dirawat, dipoles, bahkan dibuat indah. Tetapi lampu tak pernah menjadi cahaya hanya karena bentuknya.
Ruh adalah arus yang menghidupkan. Ia tidak terlihat, tetapi tanpanya semua menjadi mati. Ruh membuat tubuh bergerak, akal bekerja, dan kesadaran hadir. Tanpa ruh, jasad hanyalah benda yang kehilangan fungsi.
Lalu ada kolbu—hati batin. Ia seperti kaca lampu. Cahaya bisa ada di dalam, tetapi bila kaca itu tertutup debu, sinarnya tidak akan memancar. Debu dalam hati bukan sesuatu yang kasatmata. Ia bisa berupa kesombongan, ketakutan, ambisi, iri, luka, atau kecemasan yang dibiarkan menumpuk. Sedikit demi sedikit, hati menjadi kusam, dan cahaya dalam diri tak lagi menembus kehidupan.
Yang paling dalam adalah sirr, rahasia terdalam manusia. Dalam tasawuf Sunni, sirr dipahami sebagai inti batin, tempat kesadaran yang paling murni. Ia seperti filamen dalam lampu—bagian yang nyaris tak terlihat, tetapi menjadi sumber seluruh terang.
Persoalan manusia modern mungkin justru bermula di sini. Kita terlalu sibuk menjaga bohlam, tetapi lupa memeriksa cahaya. Tubuh dirawat, pengetahuan ditambah, status dikejar, teknologi dikembangkan. Namun hati sering dibiarkan keruh. Akhirnya, terang hanya tampak di luar, sementara batin tetap remang-remang.
Maka penemuan lampu pijar sebenarnya menyisakan satu pelajaran penting. Thomas Alva Edison membantu manusia menerangi ruang fisik, tetapi tak ada penemuan yang dapat menggantikan tugas paling mendasar setiap manusia: menyalakan dirinya sendiri.
Tasawuf menyebut jalan itu sebagai pembersihan hati. Sebab sumber cahaya sebenarnya sudah ada. Ruh telah menghidupkan, sirr telah menyimpan inti terang, dan hati telah disiapkan sebagai cermin. Yang sering hilang hanyalah kejernihan.
Karena itu, persoalannya bukan apakah manusia memiliki cahaya. Persoalannya, apakah ia masih mampu melihat cahaya itu di dalam dirinya.
Sebab dunia bisa seterang apa pun, jalan-jalan bisa menyala sepanjang malam, dan kota-kota bisa dipenuhi gemerlap. Tetapi jika hati gelap, manusia tetap akan merasa berjalan dalam malam yang panjang.
Terang di luar tidak selalu berarti terang di dalam. Dan sering kali, kegelapan yang paling sulit diatasi bukan yang ada di langit malam, melainkan yang diam-diam tumbuh di dalam diri.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Ikhwan Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya, Redaktur TangerangDaily. (*)