Ilustrasi hasil survei Jakpat 2026 yang menunjukkan DANA menjadi platform e-wallet paling banyak digunakan di Indonesia dengan tingkat adopsi 72 persen, disusul GoPay 60 persen dan ShopeePay 46 persen. (Foto: Ist) EKBIS | TD — Perbedaan generasi ternyata turut membentuk cara masyarakat Indonesia memanfaatkan dompet digital (e-wallet). Riset terbaru menunjukkan bahwa meskipun adopsinya sudah sangat luas, setiap kelompok usia—mulai dari Gen Z hingga Gen X—memiliki pola penggunaan, preferensi fitur, hingga alasan pemakaian yang berbeda.
Sepanjang 2025, e-wallet tercatat sebagai kategori fintech dengan penetrasi lebih dari 90% di Indonesia. Angka ini menegaskan perannya yang semakin vital dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari transaksi ritel hingga pembayaran tagihan. Kemudahan penggunaan, desain yang intuitif, serta integrasi layanan yang luas menjadikan e-wallet sebagai standar baru dalam sistem pembayaran digital.
Untuk menggali lebih dalam, Jakpat melakukan survei terhadap 1.945 responden yang terdiri dari Gen Z (42%), Milenial (39%), dan Gen X (19%). Hasilnya memperlihatkan bahwa perbedaan generasi tidak hanya soal usia, tetapi juga cara memaknai fungsi teknologi finansial itu sendiri.
Sekitar 60% responden menggunakan e-wallet karena kemudahan aplikasi dan praktisnya metode pembayaran. Di kalangan Milenial, aspek keamanan menjadi pertimbangan penting—56% memilih layanan yang berizin dan terdaftar di OJK.
Di sisi lain, Gen Z cenderung melihat e-wallet sebagai alat multifungsi. Tiga dari sepuluh responden di kelompok ini tertarik karena fitur yang beragam, seperti pembayaran, transfer, hingga penyimpanan dana.
Secara umum, transfer uang menjadi fungsi paling dominan, digunakan oleh 7 dari 10 responden. Aktivitas lain yang juga tinggi adalah pembayaran tagihan dan belanja online (masing-masing 64%). Selain itu, hampir setengah responden menggunakan e-wallet untuk transaksi langsung (offline) dan layanan pesan antar, dengan dominasi dari kalangan Milenial dan Gen X.
Perbedaan perilaku semakin terlihat pada detail penggunaan:
“E-wallet kini tidak lagi sekadar alternatif pembayaran, tetapi telah menjadi bagian dari kebutuhan finansial sehari-hari. Menariknya, tiap generasi memanfaatkannya dengan cara yang berbeda, meski berangkat dari kebutuhan yang sama: kemudahan dan kepraktisan,” ujar Farida Hasna, Lead Researcher Jakpat, dilansir Senin, 27 April 2026.
Dalam hal sumber informasi, media sosial menjadi kanal utama (36%), diikuti rekomendasi dari orang terdekat (35%). Sementara itu, seperempat Gen X masih mengandalkan media massa sebagai sumber informasi.
Dari sisi merek, DANA menjadi e-wallet yang paling banyak digunakan dengan tingkat adopsi 72%, terutama di kalangan Gen Z. GoPay berada di posisi kedua dengan 60%, lebih dominan di kalangan Milenial dan Gen X.
Sementara itu, fitur paylater mulai menunjukkan peningkatan minat. Sekitar 15% responden menggunakannya, dengan SPayLater mendominasi (75%), khususnya di kalangan Gen Z (84%). Layanan lain seperti GoPay Later (42%) dan DANA Cicil (25%) juga turut digunakan.
Temuan ini menunjukkan bahwa preferensi pengguna semakin beragam dan tersegmentasi. Setiap generasi memiliki kecenderungan tersendiri dalam memilih layanan, sekaligus mempertegas bahwa pasar e-wallet di Indonesia tidak lagi homogen.
“Pilihan e-wallet tidak seragam di tiap generasi. Ini menunjukkan bahwa lanskap pengguna semakin beragam, dan setiap brand memiliki kekuatan di segmen yang berbeda,” tutup Hasna. (*)