Kebangkitan Nasional: Saatnya Generasi Z Peduli Indonesia

waktu baca 4 menit
Jumat, 12 Jun 2026 09:57 77 Redaksi

OPINI | TD — Hari Kebangkitan Nasional sering kali hadir sebagai peringatan tahunan yang berlalu begitu saja. Banyak orang mengingat tanggalnya, tetapi tidak selalu merenungkan makna yang terkandung di dalamnya. Padahal, semangat kebangkitan tetap relevan dengan kondisi bangsa saat ini.

Jika generasi terdahulu berjuang melawan penjajahan demi mempertahankan kemerdekaan, generasi masa kini menghadapi tantangan yang berbeda. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat membawa berbagai kemudahan, tetapi juga menghadirkan persoalan baru, mulai dari penyebaran hoaks, polarisasi di media sosial, hingga berkurangnya kepedulian terhadap identitas dan persatuan bangsa.

Generasi Z merupakan kelompok yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Hampir setiap aktivitas, mulai dari mencari informasi, belajar, berkomunikasi, hingga mengikuti tren terbaru, tidak terlepas dari penggunaan teknologi digital. Laporan Digital 2025 Indonesia yang dirilis oleh We Are Social dan Meltwater menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tujuh jam per hari untuk mengakses internet. Hal ini menggambarkan bahwa ruang digital bukan lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang turut membentuk cara pandang generasi muda terhadap isu sosial, budaya, dan kebangsaan.

Di tengah derasnya arus informasi global, tidak sedikit anak muda yang lebih akrab dengan tren budaya luar negeri dibandingkan budaya daerahnya sendiri. Fenomena ini bukan sesuatu yang sepenuhnya salah karena keterbukaan terhadap budaya lain dapat memperluas wawasan. Namun, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian ketika ketertarikan terhadap budaya luar tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap kekayaan budaya bangsa sendiri.

Tidak jarang generasi muda mengenal berbagai tren populer dari luar negeri, tetapi kurang mengenal kesenian, bahasa daerah, atau tradisi yang berasal dari wilayahnya sendiri. Jika keadaan ini terus berlangsung, rasa memiliki terhadap identitas nasional dapat semakin memudar.

Persoalan lain yang sering muncul adalah perdebatan di media sosial yang berujung pada saling menyerang antarkelompok. Perbedaan pandangan politik, latar belakang daerah, maupun identitas budaya kerap menjadi pemicu konflik di ruang digital. Bahkan, tidak sedikit pengguna media sosial yang menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.

Akibatnya, kesalahpahaman dapat berkembang menjadi perpecahan yang merugikan masyarakat secara luas. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan dalam menyikapi informasi dan perbedaan.

Dalam situasi seperti inilah Wawasan Nusantara memiliki relevansi yang kuat. Wawasan Nusantara merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya dengan menempatkan persatuan dan kesatuan sebagai landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui konsep ini, masyarakat diajak memahami bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku, budaya, agama, bahasa, dan daerah yang berbeda. Namun, seluruh keberagaman tersebut merupakan bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pemahaman mengenai Wawasan Nusantara menjadi semakin penting karena kehidupan masyarakat saat ini banyak berlangsung di ruang digital. Ketika seseorang menyadari bahwa setiap warga negara merupakan bagian dari bangsa yang sama, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang perlu dihargai.

Sikap tersebut dapat mendorong munculnya toleransi, rasa saling menghormati, serta kesadaran untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok tertentu.

Penerapan Wawasan Nusantara tidak harus dilakukan melalui tindakan besar. Nilai-nilainya dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menghormati pendapat yang berbeda, mempelajari budaya daerah, serta memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan keberagaman Indonesia kepada masyarakat luas.

Langkah-langkah sederhana tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi memiliki kontribusi nyata dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang semakin terhubung oleh teknologi.

Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya momentum untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa, melainkan juga kesempatan untuk merefleksikan bentuk perjuangan yang dibutuhkan pada masa kini.

Generasi Z memiliki peran besar karena berada di garis depan perkembangan teknologi dan arus informasi. Semangat kebangkitan dapat diwujudkan melalui sikap kritis terhadap informasi, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk menjaga persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga generasi yang memahami jati dirinya, bangga terhadap bangsanya, dan memiliki kesadaran untuk menjaga keutuhan Indonesia di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Penulis: Dinda Michelle Aprilia
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang. (*)

LAINNYA