OPINI | TD — Setelah bulan Ramadhan usai, nilai-nilai yang telah kita bangun tidak seharusnya menguap begitu saja. Justru, sebelas bulan setelahnya adalah ruang pembuktian: sejauh mana ruh ibadah itu menetap dalam diri. Ramadhan bukan garis akhir, melainkan titik awal perjalanan menuju kedekatan yang lebih utuh kepada Allah Subhanahu wata’ala—baik secara ruhani maupun jasmani.
Dalam upaya menjaga dan memperbaiki kebiasaan hidup sehari-hari, selain melaksanakan ibadah wajib, umat Muslim dianjurkan untuk menghidupkan puasa sunnah. Ia bukan sekadar ritual tambahan, melainkan sarana taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala), penyempurna kekurangan ibadah wajib, serta latihan menundukkan hawa nafsu dan menumbuhkan kesabaran.
Secara lahir, puasa sunnah memiliki kesamaan dengan puasa wajib: menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun secara makna, ia adalah ekspresi cinta seorang hamba kepada sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam—ibadah yang dilakukan bukan karena kewajiban, melainkan karena kerinduan.
Puasa sunnah mengandung nilai-nilai mendalam:
Puasa sunnah adalah bentuk meneladani kehidupan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ia menjadi bukti kecintaan yang nyata—bahwa ibadah tidak hanya dijalankan saat diwajibkan, tetapi juga saat hati terpanggil. Inilah ibadah sukarela yang memancarkan keikhlasan.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa puasa memiliki pengaruh langsung terhadap kebersihan hati. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin membagi tingkatan puasa:
“Puasa orang awam adalah menahan perut dan syahwat.
Puasa orang khusus adalah menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa.”
Lebih dari sekadar menahan lapar, puasa menjadi latihan menahan lisan dari dusta, mata dari kebatilan, serta hati dari keburukan. Bahkan pada tingkat tertinggi, puasa adalah menjaga hati agar tidak berpaling dari Allah Subhanahu wata’ala—itulah puncak penyucian jiwa.
Hawa nafsu adalah sumber banyak kerusakan batin. Dengan puasa, syahwat dilemahkan sehingga hati menjadi lebih jernih. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Barang siapa belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi pengekang baginya.”
Puasa, dalam hal ini, berfungsi sebagai perisai—menjaga manusia dari dorongan berlebih yang dapat menjerumuskan.
Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga perilaku. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Subhanahu wata’ala tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Maknanya jelas: puasa sejati adalah yang berdampak pada akhlak. Tanpa itu, puasa hanya menjadi rutinitas kosong tanpa nilai di sisi Allah Subhanahu wata’ala
Keistimewaan puasa terletak pada sifatnya yang tersembunyi. Tidak ada yang benar-benar mengetahui keikhlasan seseorang kecuali Allah Subhanahu wata’ala. Dalam hadits qudsi disebutkan:
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Inilah ibadah yang paling murni dalam melatih niat. Ia mendidik hati untuk beramal bukan karena dilihat, tetapi karena Allah Subhanahu wata’ala semata.
Pada akhirnya, puasa sunnah bukan sekadar tambahan ibadah, melainkan “algoritma spiritual”—pola berulang yang membentuk karakter, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ia melatih konsistensi setelah Ramadhan, menjaga nyala iman agar tidak redup oleh rutinitas dunia.
Menjadikan puasa sebagai kebiasaan berarti menata ulang diri secara perlahan namun pasti. Sebuah perjalanan sunyi menuju keikhlasan, yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi bernilai tinggi di sisi Allah Subhanahu wata’ala.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Penulis: Daud Dzulfadhli, Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Prodi Pendidikan Bahasa Arab. (*)