Muhamad Hijar Ardiansah. (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Setiap April, nama Raden Ajeng Kartini kembali menggema di ruang publik Indonesia. Ia tidak sekadar dikenang sebagai tokoh sejarah, melainkan juga sebagai simbol perjuangan perempuan dalam meraih pendidikan dan kesetaraan. Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang layak diajukan: masihkah semangat Kartini relevan bagi perempuan masa kini?
Untuk menjawabnya, penting menempatkan perjuangan Kartini dalam konteks zamannya. Ia hidup dalam struktur sosial yang membatasi ruang gerak perempuan, terutama dalam hal akses pendidikan dan kebebasan menentukan pilihan hidup. Perempuan kala itu kerap diposisikan sebatas pengurus rumah tangga, tanpa ruang untuk berkembang di ranah publik. Dari keterbatasan itulah Kartini melahirkan gagasan-gagasan kritis melalui surat-suratnya, yang kemudian menginspirasi perubahan sosial di Indonesia.
Namun, esensi perjuangan Kartini tidak berhenti pada pendidikan formal. Lebih dari itu, ia memperjuangkan kebebasan berpikir—hak perempuan untuk memahami dunia, menyuarakan pendapat, serta menentukan arah hidupnya sendiri. Nilai inilah yang menjadikan Kartini sebagai tonggak emansipasi perempuan Indonesia.
Memasuki era modern, lanskap kehidupan perempuan memang telah mengalami perubahan signifikan. Akses terhadap pendidikan terbuka luas, partisipasi perempuan di dunia kerja meningkat, dan keterlibatan mereka di ruang publik semakin terlihat. Perempuan kini hadir sebagai tenaga profesional, pemimpin, kreator digital, hingga penggerak komunitas sosial. Ini menunjukkan bahwa sebagian cita-cita Kartini telah terwujud.
Meski demikian, perjuangan belum sepenuhnya usai. Tantangan baru terus bermunculan, mulai dari ketimpangan kesempatan kerja, stereotip gender, hingga tekanan sosial yang membatasi ekspresi perempuan. Di sejumlah ruang, masih terdapat pandangan yang menempatkan perempuan dalam peran domestik semata, meskipun mereka memiliki kapasitas yang setara dengan laki-laki.
Era digital juga menghadirkan dinamika tersendiri. Selain membuka peluang, ruang ini turut memunculkan persoalan seperti perundungan daring, pelecehan, serta standar kecantikan yang tidak realistis. Dengan demikian, perjuangan perempuan tidak lagi hanya berlangsung di dunia nyata, tetapi juga di ruang virtual yang kian kompleks.
Di sisi lain, berkembangnya solidaritas perempuan menjadi sinyal positif. Berbagai komunitas hadir sebagai ruang aman untuk berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan memperjuangkan hak. Fenomena ini sejalan dengan semangat Kartini yang menekankan pentingnya kolaborasi, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan.
Menariknya, makna “Kartini masa kini” juga mengalami perluasan. Jika dahulu identik dengan akses pendidikan, kini ia mencakup keberanian mengambil keputusan, kemandirian ekonomi, hingga kebebasan menentukan jalan hidup tanpa tekanan sosial. Dalam konteks ini, setiap perempuan memiliki definisi Kartini versinya sendiri.
Namun, penting ditegaskan bahwa menjadi “Kartini masa kini” tidak identik dengan kesempurnaan atau pencapaian karier semata. Perempuan yang berperan sebagai ibu, pendidik pertama di keluarga, maupun pendamping dalam kehidupan rumah tangga juga menjalankan kontribusi yang tidak kalah penting. Peran-peran ini, meski sering luput dari sorotan, memiliki dampak besar dalam membentuk generasi masa depan.
Dari sini terlihat bahwa makna perjuangan perempuan tidak hanya terletak pada pencapaian yang tampak di ruang publik, tetapi juga pada ketulusan menjalani peran hidup. Kartini mengajarkan bahwa setiap perempuan memiliki potensi yang tidak seharusnya dibatasi oleh konstruksi sosial yang tidak adil.
Pada akhirnya, semangat Kartini adalah tentang keberanian—keberanian untuk berpikir berbeda, menolak ketidakadilan, dan memperjuangkan hak untuk menjadi diri sendiri. Nilai ini tetap relevan, bahkan semakin penting di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Peringatan Hari Kartini semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi kolektif. Sudahkah ruang yang adil benar-benar tercipta bagi perempuan? Sudahkah kesetaraan dimaknai sebagai kesempatan yang setara untuk berkembang, bukan sekadar simbol?
Perempuan hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang yang telah dirintis Kartini lebih dari satu abad lalu. Mereka bukan hanya penerus, tetapi juga pelanjut yang memperluas makna kesetaraan sesuai konteks zaman.
Semangat Kartini tidak pernah usai. Ia hidup dalam setiap langkah perempuan yang berani bermimpi, berani belajar, dan berani menentukan jalan hidupnya. Selama ketidakadilan masih ada, selama itu pula semangat Kartini akan tetap relevan dalam kehidupan perempuan Indonesia hari ini.
Penulis : Muhamad Hijar Ardiansah
Penulis adalah mahasiswa S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang memiliki minat dalam dunia jurnalistik, khususnya dalam menulis berbagai karya seperti berita, opini, dan artikel. (*)