Stoikisme dan Seni Mengabaikan Hal-Hal yang Tak Perlu

waktu baca 8 menit
Selasa, 27 Okt 2026 07:13 26 Redaksi

OPINI | TD — Pernahkah kita duduk cukup lama di depan layar ponsel, membaca begitu banyak cerita tentang kehidupan orang lain, lalu tiba-tiba merasa lelah tanpa tahu apa yang sebenarnya melelahkan?

Kita membaca kabar politik, menyimak perdebatan orang-orang yang tidak kita kenal, melihat pencapaian seseorang, kemudian berpindah ke cerita lainnya. Ada yang sedang berbahagia, ada yang sedang bertengkar, ada yang memamerkan keberhasilan, ada pula yang merasa paling tahu bagaimana seharusnya orang lain menjalani hidup.

Kita mengikuti semuanya, seolah-olah ada sesuatu yang akan tertinggal jika berhenti sebentar saja.

Padahal, setelah layar ditutup, kehidupan kita sendiri masih menunggu untuk dijalani. Ada pekerjaan yang belum selesai, hubungan yang perlu dirawat, pengetahuan yang perlu didalami, dan mungkin ada sesuatu di dalam diri yang sudah lama meminta perhatian.

Aneh, ya. Kita bisa begitu rajin mengikuti kehidupan orang lain, tetapi sering kali lupa menyelami kehidupan sendiri.

Barangkali, kita bukan kekurangan informasi. Kita hanya kekurangan ruang untuk mencerna semuanya.

Di tengah keramaian semacam itu, saya teringat pada Stoikisme. Bukan semata-mata karena ingin membicarakan teori filsafat, melainkan karena ada satu pelajaran yang terasa semakin relevan: kita tidak harus memberikan perhatian kepada segala sesuatu hanya karena segala sesuatu tersedia di hadapan kita.

Dunia yang Terlalu Ramai dan Pikiran yang Tak Pernah Pulang

Informasi hari ini datang tanpa harus kita cari. Kita membuka ponsel untuk membaca satu berita, lalu terseret ke sepuluh cerita lainnya. Kita berniat mencari pengetahuan, tetapi berakhir menghabiskan waktu mengikuti kehidupan orang lain.

Masalahnya bukan pada informasi itu sendiri. Informasi membantu kita belajar, memahami persoalan, dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Persoalan muncul ketika kita tidak lagi menentukan apa yang ingin diketahui, tetapi membiarkan arus informasi menentukan ke mana perhatian kita pergi. Kepala menjadi penuh, tetapi belum tentu pikiran bertumbuh.

Saya sendiri semakin sering mempertanyakan kebiasaan manusia mengikuti standar yang dibentuk orang lain. Kita mengenal ukuran kesuksesan dari apa yang dianggap berhasil oleh masyarakat, memahami kebahagiaan dari apa yang dipamerkan di media sosial, bahkan terkadang menjalani hidup seperti sedang mengikuti templat yang sudah tersedia.

Padahal, saya percaya bahwa belajar bukan sekadar meniru. Teori dapat membantu kita memahami kenyataan, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan seluruh kenyataan. Pengalaman orang lain bisa menjadi pelajaran, tetapi belum tentu menjadi jalan terbaik bagi kehidupan kita.

Kita perlu berani berpikir, mempertanyakan, dan menemukan alasan di balik setiap keputusan. Sebab, ada perbedaan antara belajar dari orang lain dan menyerahkan seluruh kendali hidup kepada mereka.

Saya pun sampai pada pertanyaan sederhana: apakah kita benar-benar sedang mengejar sesuatu yang kita yakini bermakna, atau hanya berusaha memenuhi harapan yang telanjur ditanamkan orang lain?

Pertanyaan ini membawa saya pada salah satu gagasan penting dalam Stoikisme: membedakan apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak.

Epictetus dan Kebebasan yang Sering Kita Lupakan

Sekitar 300 SM, Zeno dari Citium memperkenalkan aliran filsafat yang kemudian dikenal sebagai Stoikisme. Pemikirannya berkembang melalui tokoh-tokoh seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius.

Bagi kaum Stoik, kehidupan yang baik tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, atau pengakuan orang lain. Yang lebih penting adalah kebajikan: kemampuan bertindak dengan bijaksana, adil, berani, dan mampu mengendalikan diri.

Epictetus, seorang mantan budak yang kemudian menjadi guru filsafat, menekankan pentingnya membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita dari hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.

Kita tidak bisa menentukan apa yang akan dikatakan orang lain tentang diri kita. Kita juga tidak bisa memastikan semua orang akan menyetujui pilihan kita. Namun, kita masih bisa menentukan bagaimana menyikapinya.

Bayangkan seseorang menulis komentar buruk tentang kita di media sosial. Kita merasa tersinggung, lalu memikirkannya berulang kali. Bahkan ketika orang tersebut sudah melanjutkan kehidupannya, kita masih sibuk menyusun jawaban di kepala.

Seseorang yang mungkin hanya hadir beberapa detik dalam kehidupan kita justru memperoleh tempat berjam-jam di dalam pikiran.

Kita tidak bisa mengendalikan perkataannya, tetapi kita bisa memilih apakah perkataan itu layak dipikirkan, apakah ada kritik yang perlu dipelajari, atau apakah lebih baik membiarkannya berlalu.

Hal serupa terjadi ketika kita membandingkan kehidupan sendiri dengan pencapaian orang lain. Kita lupa bahwa apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Berbeda tidak selalu berarti salah. Berjalan lebih lambat tidak selalu berarti tertinggal. Dan tidak memenuhi harapan semua orang bukan berarti gagal menjalani kehidupan.

Kebebasan tidak selalu berarti mampu mengendalikan dunia. Terkadang, kebebasan dimulai ketika kita berhenti membiarkan dunia mengendalikan seluruh pikiran kita.

Marcus Aurelius dan Seni Berhenti Sejenak

Marcus Aurelius adalah kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik yang menuliskan refleksi pribadinya dalam Meditations. Salah satu pelajaran penting dari pemikirannya adalah perlunya memeriksa penilaian kita terhadap suatu peristiwa sebelum membiarkan penilaian itu menguasai diri.

Kita sering bereaksi terlalu cepat. Seseorang berbeda pendapat, kita membantah. Seseorang mengkritik, kita tersinggung. Seseorang berhasil, kita membandingkan diri. Seolah-olah hidup ini perlombaan untuk memberikan respons paling cepat. Padahal, cepat menanggapi tidak selalu berarti cepat memahami.

Di era media sosial, kita perlu belajar berhenti sejenak. Memeriksa informasi, memahami konteks, dan bertanya kepada diri sendiri mengapa suatu peristiwa begitu mudah menguasai pikiran.

Kita boleh memiliki pendirian tanpa harus menjadikan setiap perbedaan sebagai medan pertempuran. Kita boleh mengkritik tanpa harus kehilangan kejernihan berpikir.

Tidak menjawab bukan berarti kalah. Tidak ikut berdebat bukan berarti tidak memiliki pendirian. Dan mengubah pandangan setelah menemukan fakta baru bukan berarti kehilangan harga diri.

Ada kalanya kita justru lebih dewasa ketika memilih diam, berpikir, lalu bertindak dengan pertimbangan yang matang.

Seneca dan Waktu yang Diam-Diam Habis

Dalam esainya, On the Shortness of Life, Seneca mengajak manusia merenungkan bagaimana waktu yang berharga sering terbuang untuk hal-hal yang tidak sungguh-sungguh penting. Gagasannya terasa dekat dengan kehidupan kita sekarang.

Kita berkata tidak punya waktu untuk membaca buku, belajar sesuatu secara mendalam, atau berbincang dengan keluarga. Namun, berapa banyak waktu yang justru kita habiskan mengikuti sesuatu yang beberapa jam kemudian sudah tidak kita ingat lagi?

Kita membaca kutipan tentang kebijaksanaan, tetapi tidak menyediakan waktu untuk merenungkannya. Kita menonton video tentang kesuksesan, tetapi menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa dimulai. Kita mengumpulkan nasihat, seolah-olah mengoleksi kata-kata bijak dengan sendirinya membuat kita bijaksana.

Padahal, pengetahuan membutuhkan pengendapan. Ada hal-hal yang baru benar-benar kita pahami setelah cukup lama memikirkannya dan berani mengujinya dalam kehidupan nyata.

Kita tidak selalu membutuhkan informasi baru. Terkadang, kita hanya perlu berhenti sejenak, memahami apa yang sudah diketahui, lalu melakukan sesuatu dengannya.

Sebab, waktu yang habis untuk mengikuti kehidupan orang lain tidak selalu bisa kita gunakan kembali untuk memperbaiki kehidupan sendiri.

Mengabaikan Bukan Berarti Tidak Peduli

Seni mengabaikan hal-hal yang tidak perlu bukanlah ajakan untuk menjadi manusia yang apatis.

Kita tetap perlu peduli terhadap kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai persoalan sosial. Kita perlu membaca berita, memahami kebijakan publik, mengkritik kekuasaan, dan mengambil bagian dalam perubahan.

Stoikisme bukan alasan untuk menyerah terhadap keadaan. Menerima bahwa kita tidak mengendalikan segala sesuatu bukan berarti berhenti memperjuangkan hal-hal yang masih bisa diperbaiki.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh sistem seorang diri, tetapi kita bisa ikut memperjuangkan perubahan. Kita tidak bisa memastikan semua orang bersikap adil, tetapi kita bisa berusaha berlaku adil. Yang perlu kita tinggalkan bukanlah kepedulian, melainkan kebiasaan menghabiskan energi tanpa arah.

Ada perbedaan antara peduli dan terus-menerus merasa gelisah. Ada perbedaan antara memperjuangkan sesuatu dan membiarkan diri terkuras oleh perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa.

Kita perlu menentukan mana yang layak diperjuangkan dan mana yang hanya menguras perhatian.

Kita Bukan Sekadar Penonton

Pada akhirnya, dunia akan terus bercerita. Akan ada kabar baru, perdebatan baru, tren baru, dan kehidupan orang lain yang tampak menarik untuk diikuti. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, apalagi mengendalikan semuanya.

Namun, kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana menjalani kehidupan sendiri. Kita bisa memilih untuk membaca lebih mendalam daripada sekadar bereaksi. Kita bisa mendengarkan pendapat orang lain tanpa kehilangan pendirian. Kita bisa belajar dari keberhasilan seseorang tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan diri sendiri.

Kita juga bisa berhenti sejenak untuk bertanya apakah jalan yang sedang ditempuh benar-benar merupakan pilihan kita, atau sekadar jalan yang sejak lama diberitahukan orang lain bahwa kita harus melewatinya.

Bagi saya, hidup bukan sekadar mengikuti templat yang sudah tersedia. Kita perlu belajar dari banyak hal, tetapi tetap menyediakan ruang untuk berpikir bebas, menguji gagasan, dan menemukan makna berdasarkan pengalaman serta tanggung jawab kita sendiri.

Kita tidak harus mengetahui semua hal. Tidak harus menanggapi semua orang. Tidak harus hadir dalam setiap perdebatan. Kita hanya perlu lebih sadar dalam menentukan apa yang layak mendapatkan waktu dan perhatian. Sebab, kehidupan tidak berlangsung di kolom komentar. Ia berlangsung dalam keputusan yang kita ambil, pekerjaan yang kita selesaikan, hubungan yang kita rawat, pengetahuan yang kita dalami, dan keberanian untuk memperbaiki diri.

Dunia boleh terus bercerita. Orang lain boleh menjalani kehidupannya dengan pilihan masing-masing. Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk mengikuti cerita orang lain hingga lupa bahwa kehidupan sendiri bukan sekadar tontonan.

Kita bukan hanya penonton yang mengikuti cerita dunia. Kita adalah manusia yang bertanggung jawab atas jalan hidup sendiri.

Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, penikmat teks filsafat dan tasawuf, mahasiswa magister Komunikasi, Budi Luhur University. (*)

LAINNYA