BeritaKesehatanSaintek

AMR, ‘Silent Pandemic’ yang Menewaskan Pasien Lebih Banyak dari HIV

44
×

AMR, ‘Silent Pandemic’ yang Menewaskan Pasien Lebih Banyak dari HIV

Sebarkan artikel ini
ARM
Ilustrasi Anti Bacteri Mikroba (Foto: Pixabay)
Bagikan:

Saintek | TDAnti Microbial Resistance (AMR) disebut sebagai ‘silent pandemic‘ yang menjadi kekhawatiran para pakar kesehatan dunia beberapa waktu lalu.

AMR dapat diartikan sebagai mikroba yang mengalami mutasi secara alami sebagai respon adanya antibiotik. Mikroba ini termasuk jamur, virus, dan bakteri. Mutasi ini memberikan sifat resistan pada mikroba.

Mutasi juga dapat menjadi parah bila lingkungan penderita sangat minim aksesnya terhadap udara bersih. Sanitasi yang buruk, dan pengendalian infeksi yang tidak memadai juga mendukung timbulnya resistensi tersebut.

Melansir laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), AMR mempunyai potensi lebih berbahaya daripada penyakit HIV dan malaria. Jumlah korban yang dapat direnggut pun dapat mencapai jutaan orang per tahun di seluruh dunia.

Contoh terjadinya resistensi atau AMR ini yaitu timbulnya berbagai penyakit serius, seperti pneumonia, infeksi darah, dan diare. Infeksi mikroba ini dapat berbahaya bila antibodi penderita melemah sehingga menyebabkan kematian.

Namun, bukan tidak mungkin AMR dapat dikendalikan. World Economic Forum, dalam unggahan media sosialnya menganjurkan 4 hal berikut untuk menanggulangi serangan ARM:

1. Pencegahan sejak dini

Kebersihan air, sanitasi, dan kebersihan merupakan kunci untuk mencegah serangan mikroba dan AMR. Karena itu, pengetahuan tentang kebersihan sangat perlu disosialisasikan dengan masyarakat.

2. Kemudahan akses layanan kesehatan

Layanan kesehatan yang disediakan pemerintah harus menjamin kualitas dan mudah diakses oleh masyarakat.

Untuk mewujudkan akses layanan kesehatan yang berkualitas, pemerintah harus memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan.

Selain itu, penyediaan obat yang efektif dengan harga terjangkau pun sangat penting.

3. Inovasi penelitian untuk mendukung kesehatan

Para ahli pengobatan kini memanfaatkan AI dalam rekayasa kimia untuk membuat obat baru yang tidak tersedia di alam. Hal ini termasuk antibiotik produksi Massachusetts Institute of Technology (MIT).

4. Penggunaan antibiotik yang bijak

Penggunaan antibiotik dalam kesehatan manusia maupun kesuburan pertanian memerlukan manajemen yang baik, sehingga terukur dan masuk akal. (Pat)

Bagikan: