OPINI | TD — Ada saatnya manusia harus berhenti bertanya mengapa, lalu mulai belajar menerima untuk apa. Sebab, tidak semua yang terjadi dalam hidup hadir untuk segera dipahami; sebagian datang untuk dijalani, direnungi, lalu diterima dengan hati yang lapang.
Kita tumbuh dalam keyakinan bahwa hidup dapat diatur melalui perencanaan, kerja keras, dan logika. Kita membingkai masa depan dengan harapan, menyusun langkah dengan cermat, lalu berharap kenyataan bergerak sesuai rancangan. Namun, hidup sering kali justru datang sebagai pembongkar. Ia meruntuhkan skenario, mengacak peta, dan memaksa kita berhadapan dengan sesuatu yang tak pernah kita rencanakan.
Di situlah dekonstruksi takdir bermula.
Qadar bukanlah alasan untuk berhenti berusaha, melainkan kesadaran bahwa ikhtiar manusia selalu memiliki batas. Kita boleh menanam, merawat, dan menjaga, tetapi kita tidak pernah sepenuhnya berkuasa atas hasil. Ada wilayah yang memang hanya milik Tuhan, tempat logika berhenti dan kepercayaan mengambil alih.
Sabar pun kerap disalahpahami. Ia bukan sekadar diam menunggu badai berlalu, melainkan keberanian tetap melangkah meski hujan belum reda. Sabar adalah seni menjaga hati agar tidak hancur oleh kenyataan yang tak sesuai harapan.
Lalu datang tawakal, tahap paling sulit dalam perjalanan manusia. Berusaha terasa mudah dibanding menyerahkan hasil. Ego selalu ingin mengendalikan akhir cerita, memastikan semuanya sesuai rencana. Ketika kenyataan berbeda, kita merasa gagal, kecewa, bahkan marah. Padahal, tidak semua penolakan adalah kerugian, dan tidak semua kehilangan adalah kehancuran.
Iman mencapai kedewasaannya justru ketika pemahaman kita runtuh. Ketika doa belum menemukan jawaban, ketika jalan tampak gelap, ketika harapan seperti menjauh. Di saat itulah keyakinan diuji: mampukah kita tetap percaya, bahkan ketika kita belum mengerti?
Sering kali, yang membuat kita menderita bukanlah takdir itu sendiri, melainkan tafsir kita atas takdir. Kita ingin hidup selalu sesuai kehendak, padahal hidup memiliki caranya sendiri untuk mendidik manusia. Alam semesta berjalan dalam ketenangan; yang gaduh adalah hati yang menolak menerima kenyataan.
Beragama, pada akhirnya, bukan sekadar mencari jawaban atas segala pertanyaan. Ia adalah keberanian untuk hidup bersama misteri. Untuk tetap melangkah meski tak semua jalan terlihat ujungnya. Untuk tetap percaya meski tak semua luka segera menemukan maknanya.
Ketenangan tidak lahir ketika kita memahami seluruh rencana Tuhan. Ketenangan lahir ketika kita rela mengakui bahwa kita tidak harus memahami semuanya. Ada hal-hal yang cukup dijalani, diimani, lalu diserahkan.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan seorang hamba bukan terletak pada kemampuannya mengendalikan hidup, melainkan pada kesediaannya mencintai takdir yang telah dipilihkan Tuhan untuknya.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat Teks Filsafat dan Tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)