Buku Mengenalkan Tarekat Sejak Dini: Panduan untuk Guru, Orang Tua, dan Masyarakat karya Nana Suryana menghadirkan ikhtiar pendidikan ruhani sejak usia dini melalui nilai adab, dzikir, dan pembinaan akhlak dalam tradisi TQN Suryalaya. (Foto: Gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan oleh penulis) KOLOM | TD — Pendidikan sejatinya adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun bagi kami, murid-murid Tarekat Qadariyan Naqsabandiyah (TQN) Suryalaya, pendidikan tak hanya berhenti pada kecerdasan intelektual, melainkan bermuara pada kesucian hati melalui bimbingan Kemursyidan Abah Anom (Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin Ra).
Di hari yang bersejarah (Hari Pendidikan Nasional 2026) ini, buku “Tarekat Kebahagiaan” hadir sebagai pengingat tentang esensi belajar yang sesungguhnya: yaitu Istiqamah.
Abah Anom telah mengajarkan bahwa pendidikan ruhani adalah fondasi dari segala ilmu. Melalui Tanbih, kami dididik untuk menjadi pribadi yang taat pada Tuhan dan berguna bagi sesama. Memperingati Hardiknas berarti menghargai proses panjang “penggodokan” jiwa yang kami lalui dalam amaliah sehari-hari.
Istiqamah dalam Amaliah
Pesan “Jangan Lepas di Tengah Perjalanan” adalah teguran lembut bagi kami agar tidak kendor dalam menjalankan Dzikirullah, Khataman, dan Manakiban. Pendidikan ruhani bukanlah kursus singkat, melainkan perjalanan seumur hidup.
Keberkahan dalam belajar bersumber dari keridhaan guru. Menguatkan sikap istiqamah berarti menjaga sambutan batin dengan Kemursyidan, memastikan bahwa setiap langkah kami tetap dalam koridor bimbingan beliau.
Hardiknas 2026 adalah momentum untuk membuktikan bahwa murid TQN Suryalaya adalah pribadi yang beradab, sesuai dengan cita-cita Abah Anom untuk melahirkan manusia yang Cageur, Bageur.
Penulis: Nana Suryana
Dosen Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya Tasikmalaya. (*)