Bara yang Menolak Padam: Ketika Punk Rock Menjadi Suara Para Perintis
waktu baca 4 menit
Senin, 27 Apr 2026 22:54 217 Redaksi
Empat personel MCPR berpose dalam sesi pemotretan. Band punk rock asal Solo ini tampil dengan formasi solid, diperkuat Alby pada gitar sekaligus vokal, Hendra pada gitar, Yhousef di posisi bass, serta Choles sebagai drummer. (Foto: Ist)
MUSIK | TD — Di tengah riuhnya industri musik digital yang serba cepat dan instan, sebuah lagu punk rock justru hadir dengan napas panjang—berat, jujur, dan membekas. “Bara Dalam Gulita”, single dari MCPR yang resmi dirilis pada 18 Juli 2025, bukan sekadar karya musik. Ia adalah potret hidup, tentang kerasnya perjuangan seorang lelaki dalam menjemput rezeki dan mempertahankan harga diri.
Diproduksi oleh PRIDERS HQ dan tersedia di berbagai platform digital, lagu ini perlahan menemukan pendengarnya—mereka yang merasa pernah berada di titik paling sunyi dalam hidup, namun tetap memilih untuk bertahan.
Narasi Luka yang Tak Diperlihatkan
“Aku terlanjur terlahir sebagai lelaki / Luka, derita ku hantam sendiri.”
Lirik pembuka itu langsung menampar. Tanpa metafora yang berbelit, MCPR menempatkan pendengar pada realitas yang kerap disembunyikan: beban sosial dan ekspektasi yang melekat pada sosok lelaki. Tak ada ruang mengeluh, tak ada tempat benar-benar runtuh.
Namun justru di situlah kekuatan lagu ini. Ia tidak berusaha menjadi puitis secara berlebihan, melainkan jujur secara emosional. Ada harapan yang tak pernah terucap, ada air mata yang tak pernah jatuh—bukan karena tak ada, tetapi karena tak diberi ruang untuk hadir.
Dari Jalanan ke Kesadaran
Perjalanan MCPR bukan kisah instan. Terbentuk di Solo sejak 2006, band ini digawangi oleh empat personel awal: Alby (Encik) pada gitar yang kemudian juga mengisi vokal, Iman (Kece) pada bass dan vokal, Nanda (Gundul) sebagai gitaris, serta Wiwin di posisi drum. Mereka adalah kawan sekampung yang tumbuh dalam lingkungan komunitas punk, membangun identitas musik dari bawah—dari gigs kecil hingga panggung yang lebih luas.
Perubahan personel, krisis identitas, hingga hampir bubar menjadi bagian dari perjalanan mereka. Namun justru dari sana, karakter musik MCPR terbentuk—liar, kritis, dan tetap berpijak pada realitas sosial.
Di balik energi keras yang mereka suguhkan, MCPR saat ini berdiri dengan formasi yang solid. Band punk rock asal Solo ini diperkuat oleh Alby pada gitar sekaligus vokal, Hendra pada gitar, Yhousef di posisi bass, dan Choles sebagai drummer.
“Bara Dalam Gulita” menjadi semacam refleksi dari perjalanan panjang itu. Ia bukan hanya bercerita tentang satu individu, tetapi juga tentang generasi yang harus berjuang tanpa warisan, tentang mereka yang menjadi “perintis, bukan pewaris.”
Lirik Lengkap “Bara Dalam Gulita”
Aku terlanjur terlahir sebagai lelaki
Luka, derita ku hantam sendiri
Sekeras apapun takdir yang ku jalani
Aku sang perintis bukan pewaris
Ada harapan yang tak pernah terucap
Dari mulut berandal ini
Ada air mata yang tak pernah jatuh
Walau tulang punggung semakin rapuh
Lahir, hidup berjuang dan mati
Harga diri seorang lelaki
Kegagalan adalah bumbu kehidupan
Belajar bangkit dan rakit kembali
Semesta menjadi rumah dan gubuk ilmu
Akulah domba di sarang serigala
Ada harapan yang tak pernah terucap
Dari mulut berandal ini
Ada air mata yang tak pernah jatuh
Walau tulang punggung semakin rapuh
Bila layar telah berkembang
Pantang untuk berbalik pulang
Hidup yang keras harus di taklukkan
Laksana bara menyala dalam gulita
Hadirkan terang walau terbakar
Ada harapan yang tak pernah terucap
Dari mulut berandal ini
Ada air mata yang tak pernah jatuh
Walau tulang punggung semakin rapuh
Bila layar telah berkembang
Pantang untuk berbalik pulang
Hidup yang keras harus di taklukkan
Laksana bara menyala dalam gulita
Hadirkan terang walau terbakar
Ketika Hidup Tak Menyediakan Jalan Pulang
Salah satu bagian paling kuat dari lagu ini hadir dalam bait:
“Bila layar telah berkembang / Pantang untuk berbalik pulang.”
Kalimat ini terasa seperti prinsip hidup yang tak bisa ditawar. Dalam dunia yang tak selalu adil, mundur sering kali bukan pilihan. Ada harga diri yang dipertaruhkan, ada hidup yang harus terus dijalani—meski dengan tertatih.
Metafora “bara dalam gulita” menjadi simbol utama: kecil, nyaris padam, tetapi tetap menyala. Ia mungkin membakar, tetapi juga memberi terang. Sebuah paradoks yang sangat manusiawi.
Lebih dari Sekadar Lagu
Di era ketika banyak lagu dibuat untuk viralitas semata, “Bara Dalam Gulita” justru bergerak di arah sebaliknya. Ia tidak mengejar sensasi, melainkan resonansi. Lagu ini tidak menawarkan pelarian, tetapi justru mengajak pendengar untuk berdamai dengan realitas—sekaligus melawannya.
MCPR, lewat karya ini, seolah mengingatkan bahwa hidup bukan soal seberapa sering kita jatuh, tetapi seberapa keras kita memilih untuk bangkit kembali.
Dan mungkin, di antara gelap yang sering terasa terlalu panjang, kita semua hanya butuh satu hal: menjadi bara kecil yang menolak padam. (*)