HESAID Rilis EP “Waktu Terbaik”, Angkat Narasi Personal tentang Fase Kehidupan

waktu baca 3 menit
Rabu, 22 Apr 2026 15:47 57 Nazwa

MUSIK | TD — Band rock/pop punk asal Surakarta, HESAID, resmi merilis extended play (EP) perdana bertajuk Waktu Terbaik pada 20 April 2026. Karya ini kini telah tersedia di berbagai platform digital streaming.

HESAID, yang terbentuk pada 2017 dari skena underground Solo dan sekitarnya, menghadirkan lima lagu dengan karakter pop punk yang catchy, dipadukan lirik emosional yang dekat dengan pengalaman keseharian pendengar.

Seluruh lagu dalam EP ini ditulis oleh Rifqi Bimo (Bimo) dan Rosyid Al Anshori. Lirik-liriknya lahir dari cara pandang keduanya dalam membaca dinamika pemikiran dan pengalaman manusia di berbagai momen berkesan, yang kemudian menjadi landasan imajinasi dalam proses kreatif album ini.

Vokalis sekaligus gitaris, Bimo, menyebut bahwa Waktu Terbaik bukan sekadar judul, melainkan representasi momen penting yang dialami para personel.

“Judul ini sangat personal, karena memang ini adalah momen dari semua personel. Bisa dibilang, ini adalah waktu terbaik kami,” ujar Bimo, Rabu, 22 April 2206.

Menurutnya, benang merah dari seluruh lagu dalam EP ini adalah tentang momentum—waktu yang tepat dalam berbagai fase kehidupan, baik saat berkembang, menghadapi masalah, hingga mengambil keputusan besar.

Eksplorasi Emosi dan Pengalaman Nyata

EP Waktu Terbaik memuat lima trek, yakni Waktu Terbaik, 1.3.4, Save, Maapp, dan April. Lagu pembuka Waktu Terbaik menjadi fondasi naratif yang menggambarkan kesadaran seseorang untuk berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik.

Dua lagu lain, April dan Maapp, disebut Bimo sebagai karya yang paling merepresentasikan kondisi HESAID saat ini, sekaligus paling menantang dalam proses kreatif.

“April dan Maapp itu yang paling mewakili HESAID sekarang, dan juga paling sulit, baik secara emosional maupun teknis,” katanya.

Bimo mengungkapkan bahwa sejumlah lagu dalam EP ini berangkat dari pengalaman nyata. Lagu Save, misalnya, merupakan refleksi spiritual pribadi, sementara Maapp dan April terinspirasi dari kisah nyata tentang relasi dan perpisahan.

“Save itu refleksi pengalaman pribadi. Kalau Maapp dan April, itu juga cerita nyata,” ujarnya.

Secara keseluruhan, EP ini ingin menyampaikan bahwa setiap fase kehidupan memiliki “waktu terbaik”-nya masing-masing—baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan.

Proses Produksi dan Karakter Musik

Proses produksi EP ini berlangsung sekitar dua bulan. Seluruh materi direkam di Sufi Record, dengan proses mixing dan mastering ditangani oleh Heby.

Dalam eksplorasi musiknya, HESAID menggabungkan elemen pop punk dengan sentuhan emo, easycore, hingga punk rock. Mereka mengaku terinspirasi oleh sejumlah band internasional seperti Paramore, Neck Deep, All Time Low, dan Mayday Parade.

“Kami selalu mencoba menghadirkan reff yang catchy, lirik yang relate, dengan tone pop punk yang kadang emo, kadang easycore, kadang juga punk rock,” jelas Bimo.

Identitas dan Harapan

HESAID merupakan band rock/pop punk asal Surakarta yang beranggotakan dua personel inti, yakni Rifqi Bimo sebagai gitaris sekaligus vokalis dan Rosyid Al Anshori sebagai bassis. Dalam penampilan dan produksi musik, mereka turut dibantu additional player untuk gitar dan drum.

Dikenal dengan lirik emosional dan warna pop punk alternatif, HESAID memposisikan diri sebagai representasi perasaan banyak orang melalui karya-karyanya.

Melalui EP ini, HESAID berharap musik mereka dapat menjadi teman bagi pendengar dalam berbagai situasi.

“Harapannya, banyak yang relate dengan cerita di lagu-lagu ini, dan bisa jadi sahabat baru di playlist mereka,” kata Bimo.

Untuk pendengar yang sedang berada di titik terendah, Bimo merekomendasikan lagu Save sebagai penguat.

“Karena lagu ini mengingatkan bahwa seberat apa pun hidup, selalu ada Tuhan yang membersamai,” ujarnya.

Ke depan, HESAID juga tengah menjalani rangkaian tur, gigs, dan showcase untuk memperkenalkan EP ini secara langsung kepada publik.

Bagi HESAID, “waktu terbaik” bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang kesadaran atas setiap momen yang dijalani.

“Waktu terbaik itu saat kita sadar atas momen yang terjadi, dan mulai merancang kehidupan ke depan,” tutup Bimo. (*)

LAINNYA