Ilustrasi gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) OPINI | TD — Perang kerap dipahami sebagai akhir dari penderitaan. Ketika konflik berhenti, banyak pihak menganggap bahwa proses pemulihan otomatis dimulai. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Justru setelah perang usai, sering muncul bentuk ketidakadilan baru yang tersembunyi di balik agenda pembangunan.
Pembangunan pascaperang biasanya ditandai dengan perbaikan infrastruktur secara masif. Jalan diperbaiki, gedung-gedung dibangun kembali, dan fasilitas umum diperbarui. Secara visual, perubahan ini memberi kesan kemajuan yang signifikan. Akan tetapi, di balik pembangunan fisik tersebut, masih banyak masyarakat yang bergulat dengan trauma, kehilangan, dan kesulitan ekonomi yang belum terselesaikan.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pembangunan. Dalam banyak kasus, pemerintah dan investor menjadi aktor dominan, sementara warga yang paling terdampak justru tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyuarakan kebutuhan mereka. Akibatnya, pembangunan sering kali berjalan tidak selaras dengan realitas sosial di lapangan.
Fenomena ini terjadi di berbagai wilayah bekas konflik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kawasan yang sebelumnya menjadi medan perang berubah menjadi pusat proyek pembangunan besar. Sayangnya, perubahan fisik tersebut tidak selalu diiringi dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Bahkan, tidak jarang pembangunan justru memicu persoalan baru seperti penggusuran dan marginalisasi kelompok rentan.
Di sisi lain, pembangunan pascaperang sering didorong oleh kepentingan ekonomi dan politik. Upaya menarik investasi dan menunjukkan stabilitas kepada dunia internasional menjadi alasan utama percepatan pembangunan. Namun, di balik itu, terdapat risiko bahwa pembangunan hanya dijadikan simbol keberhasilan semata, tanpa benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dampak yang ditimbulkan pun bersifat kompleks. Memang, pembangunan membuka peluang kerja dan meningkatkan akses terhadap fasilitas publik. Tetapi pada saat yang sama, ketimpangan sosial dapat semakin melebar. Sebagian masyarakat memperoleh manfaat, sementara yang lain justru semakin terpinggirkan. Lebih jauh lagi, pemulihan trauma akibat perang sering kali terabaikan, seolah-olah pembangunan fisik mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan secara instan.
Dalam konteks ini, penting untuk mempertanyakan kembali orientasi pembangunan pascaperang. Apakah pembangunan benar-benar ditujukan untuk memulihkan kehidupan masyarakat, atau sekadar mengejar indikator kemajuan yang bersifat visual? Pembangunan seharusnya tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan sosial, keadilan, dan kesejahteraan manusia secara menyeluruh.
Pada akhirnya, perang memang bisa berakhir, tetapi ketidakadilan tidak serta-merta hilang. Tanpa pendekatan yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, pembangunan berisiko menjadi sekadar upaya menutupi luka, bukan menyembuhkannya.
Penulis: Assyifa Serliana Zein
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). (*)