Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Di tengah zaman ketika pendidikan kerap diukur dari ijazah, gelar, jabatan, dan seberapa banyak pengetahuan yang bisa dipamerkan, sebuah tembang Asmaradana yang memuat sandi asma Ki Hadjar Dewantara justru mengajak kita kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia belajar?
Pertanyaan itu saya temukan ketika membaca buku Membaca Ulang Serat Centhini: Melacak Waringin Sungsang karya Emmanuel Subangun, dengan editor G. Budi Subanar. Di dalamnya terdapat bagian berjudul Pendidikan Ala Siwa-Sisya yang membuka pembacaan melalui sebuah tembang Asmaradana.
Tembang itu berbunyi:
Kidung asmara palupi,
Adreng dahat manembrama,
Jarwa babaring wiraos,
De kang kinarya kupiya,
Wantering kasarjanan,
Tata tentreming tumuwuh,
Raharja tumekeng bagya.
Saya membacanya bukan sekadar sebagai tembang Jawa, tetapi sebagai semacam percakapan lama dengan persoalan pendidikan yang masih kita hadapi hari ini.
Ada cinta, kesungguhan, penjelasan, ikhtiar, kesarjanaan, pertumbuhan yang tertata, hingga akhirnya menuju rahayu dan kebahagiaan.
Dengan kata lain, pendidikan bukan sekadar membuat manusia tahu, tetapi membuat manusia tumbuh.
Di sinilah istilah “sarjana sejati” menjadi menarik.
Tembang itu kemudian mengatakan:
Sandining sarjana yekti,
Taberi ulah surasa,
Nata patitis ciptane,
Kang tinata dadyo solah,
marma den gatek’ena,
dimen cepak ing rahayu,
arah sampurnaning gesang.
Ada satu frasa yang menurut saya layak direnungkan lama-lama: Taberi ulah surasa.
Rajin mengolah rasa.
Betapa sederhana, tetapi sekaligus dalam.
Sebab pendidikan modern sering kali begitu sibuk mengasah kepala. Kita diajari membaca, menghitung, menulis, menganalisis, menyusun argumen, melakukan penelitian, mengejar publikasi, memperoleh gelar, lalu mendapatkan pekerjaan.
Tetapi siapa yang mengajari kita mengolah rasa?
Siapa yang mengajari kita memahami kegelisahan sendiri, mengendalikan ego, merasakan penderitaan orang lain, atau menyadari bahwa kita mungkin keliru?
Padahal, pengetahuan tanpa rasa bisa membuat manusia pintar, tetapi belum tentu bijaksana.
Kita bisa membaca banyak buku. Menguasai berbagai teori. Berdebat dengan siapa saja. Bahkan memiliki gelar akademik berlapis.
Tetapi kalau semua pengetahuan itu tidak membuat kita lebih manusiawi, mungkin ada sesuatu yang belum selesai dalam pendidikan kita.
Karena itu tembang tersebut melanjutkan:
Nata patitis ciptane.
Menata cipta atau pikiran dengan teliti.
Di sini saya melihat pertemuan antara rasa dan nalar.
Rasa tidak dibiarkan liar. Pikiran juga tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Keduanya perlu ditata.
Dan hasil penataan itu kemudian keluar menjadi perilaku:
Kang tinata dadyo solah.
Apa yang tertata di dalam diri pada akhirnya menjadi solah—perilaku.
Ini pelajaran yang sebenarnya sederhana. Apa yang kita pikirkan dan rasakan tidak pernah benar-benar tinggal di dalam kepala dan hati. Pada waktunya ia akan keluar menjadi kata-kata, sikap, keputusan, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.
Maka pendidikan semestinya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Apa yang sudah kamu pelajari?”
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Apa yang berubah dalam dirimu setelah belajar?”
Pertanyaan itu terasa semakin relevan sekarang.
Kita hidup di tengah limpahan informasi. Hampir semua hal dapat dicari dalam hitungan detik. Pengetahuan berada di genggaman. Tetapi memiliki informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami kehidupan.
Justru di tengah kelimpahan pengetahuan, manusia membutuhkan kemampuan untuk memilah, mengolah, menghayati, dan mempertanggungjawabkan pengetahuannya.
Di sinilah pendidikan menemukan kembali maknanya sebagai proses pembentukan manusia.
Tembang tersebut juga mengatakan:
Taberi ing kautaman,
mantep teteping sedya,
sinambi sarwa geguru.
Rajin melakukan keutamaan, teguh memegang kehendak, sambil senantiasa belajar.
Saya suka bagian terakhir itu: sinambi sarwa geguru.
Sambil terus belajar.
Sebab ada paradoks dalam dunia pendidikan: semakin tinggi seseorang belajar, semestinya semakin ia menyadari bahwa dirinya belum selesai.
Gelar seharusnya tidak menjadi tanda bahwa seseorang telah berhenti menjadi murid.
Justru seorang sarjana sejati harus tetap menjadi sisya.
Tetap menjadi murid.
Buku mengajarkan sesuatu. Guru mengajarkan sesuatu. Pengalaman mengajarkan sesuatu. Bahkan kegagalan, kesalahan, kehilangan, dan perjumpaan dengan orang yang berbeda pandangan pun bisa menjadi guru, sepanjang kita mau membacanya dengan jernih.
Karena itu, menjadi sarjana bukan sekadar perkara memperoleh gelar akademik.
Sarjana adalah laku.
Ia adalah cara seseorang menjalani kehidupan setelah pengetahuan diperoleh.
Apakah pengetahuan membuat pikirannya semakin jernih?
Apakah ilmunya membuat rasanya semakin halus?
Apakah pemahamannya membuat perilakunya semakin tertata?
Apakah ia semakin rendah hati untuk terus belajar?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru membawa kita kepada bagian terakhir tembang:
Swaraning sunya kapyarsi.
Suara keheningan terdengar.
Kalimat ini bagi saya adalah bagian yang paling dalam.
Setelah manusia membaca begitu banyak buku, menguasai berbagai teori, berbicara panjang tentang dunia, berdebat mengenai kebenaran, dan sibuk membuktikan dirinya kepada orang lain, barangkali ada satu pekerjaan yang sering terlupakan: diam.
Bukan diam karena tidak tahu.
Bukan pula diam karena kalah dalam perdebatan.
Tetapi diam untuk mendengarkan sesuatu yang tidak bisa terdengar ketika batin terlalu bising.
Mungkin di sanalah pendidikan menemukan ujungnya.
Bukan pada banyaknya buku yang telah dibaca, bukan pada panjangnya gelar yang tertulis setelah nama, melainkan pada kemampuan seseorang untuk mendengar suara yang lebih dalam dari dirinya sendiri.
Tembang itu menyebutnya swaraning sunya.
Suara keheningan.
Dari sana saya memahami sampurnaning gesang bukan sebagai keadaan ketika manusia sudah sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Kesempurnaan hidup justru mungkin merupakan proses yang tidak pernah selesai: mengolah rasa, menata pikiran, memperbaiki perilaku, berbuat utama, memegang niat, dan terus belajar.
Maka, bagi saya, sarjana sejati bukanlah orang yang paling banyak mengetahui.
Ia adalah orang yang bersedia terus mengolah apa yang diketahuinya menjadi kebijaksanaan hidup.
Ia belajar agar pikirannya lebih jernih, rasanya lebih halus, tindakannya lebih tertata, dan keberadaannya memberi manfaat bagi kehidupan.
Pada akhirnya, mungkin pendidikan membawa kita kepada kesadaran yang sangat sederhana: kita belajar bukan untuk merasa sudah tahu, tetapi untuk menyadari bahwa menjadi manusia adalah pelajaran yang tidak pernah selesai.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, Mahasiswa Magister Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta. (*)