Penulis saat mendapatkan kesempatan merefleksikan perjalanan hidup sebagai mantan anggota regu Harimau, Pasukan Siliwangi dan Dewi Sartika, Gugus Depan SMPN 1 Cisoka. (Foto: Ist) OPINI | TD — Ada masa ketika saya mengira Pramuka hanyalah seragam cokelat, barisan upacara, tali-temali, perkemahan, dan sejumlah permainan yang menyenangkan.
Belakangan saya baru memahami: ternyata saya sedang dibentuk.
Dibentuk oleh lapangan.
Dibentuk oleh hujan.
Dibentuk oleh kebersamaan.
Dibentuk oleh kekalahan.
Dibentuk oleh tanggung jawab.
Dan, terutama, dibentuk oleh seorang pembina yang bagi kami bukan sekadar pembina Pramuka: Kak Bambang Haryoko.
Saya mengenalnya ketika masih menjadi siswa SMPN 1 Cisoka. Saat itu dunia kami sederhana. Kami anak-anak kampung dengan mimpi yang bahkan belum semuanya memiliki nama.
Kami belum mengenal media sosial.
Belum mengenal istilah personal branding.
Belum mengenal bagaimana seseorang bisa membangun citra dirinya hanya melalui kamera telepon genggam.
Yang kami kenal adalah lapangan sekolah, teman satu regu, pembina, dan tugas yang harus diselesaikan.
Di sanalah Pasukan Siliwangi dan Dewi Sartika menjadi ruang pembentukan kami.
Kami belajar mendirikan tenda.
Ketika hujan turun, tenda harus tetap berdiri.
Kami belajar memasak dengan peralatan sederhana.
Ketika lapar datang, makanan harus tetap tersedia.
Kami belajar membaca arah.
Karena tersesat bukan alasan untuk berhenti mencari jalan pulang.
Kami belajar menolong teman.
Karena perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah semua anggota regu sampai bersama-sama.
Dan kami belajar memimpin.
Bukan dengan banyak bicara, tetapi dengan kesediaan berada paling depan ketika keputusan harus diambil dan berada paling belakang ketika anggota regu membutuhkan perlindungan.
Saya pernah menjadi ketua regu. Kemudian dipercaya menjadi bagian dari regu inti di Gugus Depan, yakni Regu Harimau.
Hari ini, ketika mengingatnya kembali, saya menyadari bahwa jabatan-jabatan kecil itu sesungguhnya adalah latihan pertama memahami kehidupan.
Kami sedang belajar bahwa setiap kebebasan selalu memiliki tanggung jawab.
Bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Bahwa seorang pemimpin tidak boleh hanya menikmati kemenangan, tetapi harus bersedia berdiri paling depan ketika sesuatu berjalan keliru.
Kak Bambang mempunyai tempat khusus dalam ingatan kami.
Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana seperti kami, kehadirannya bukan sekadar kehadiran seorang pembina.
Ia seperti jembatan.
Jembatan yang menghubungkan anak-anak kampung dengan dunia yang lebih luas daripada apa yang dapat kami bayangkan saat itu.
Ia membuat kami berani bermimpi.
Bukan dengan ceramah panjang tentang kesuksesan.
Tetapi dengan membiasakan kami bertanggung jawab terhadap hal-hal kecil.
Barangkali begitulah sebenarnya pendidikan bekerja.
Ia tidak selalu datang dalam bentuk teori.
Kadang ia hadir melalui seorang dewasa yang berkata, “Kerjakan.”
Lalu ketika kita gagal, ia berkata, “Ulangi.”
Ketika kita menang, ia mengingatkan, “Jangan sombong.”
Dan ketika kita mulai merasa hebat, ia membuat kita kembali menjadi bagian dari regu.
Sepuluh anak dalam Regu Harimau kemudian tumbuh menjadi manusia dengan jalan masing-masing.
Ada yang menjadi jurnalis.
Ada yang menjadi birokrat.
Ada yang bekerja sebagai profesional di berbagai korporasi.
Kehidupan membawa kami ke tempat-tempat yang dahulu bahkan belum pernah kami bayangkan.
Tetapi ada sesuatu yang tetap sama:
kami pernah ditempa bersama.
Dan pengalaman semacam itu tidak mudah hilang.
Barangkali itulah yang membuat saya selalu percaya bahwa pendidikan karakter tidak lahir dari slogan.
Ia lahir dari kebiasaan.
Dari pengulangan.
Dari disiplin.
Dari pengalaman menghadapi kesulitan bersama.
Dan dari seorang guru yang bersedia menemani anak-anak muda melewati proses itu.
Karena itu, ketika Sabtu malam, 12 September 2026, dalam momen refleksi atas keberhasilan Kwartir Ranting Kecamatan Cisoka meraih predikat Kwarran Tergiat I se-Kabupaten Tangerang tahun 2026 di Bumi Perkemahan Kwarran Cisoka, ingatan saya tidak berhenti pada piala.
Pikiran saya justru berjalan mundur.
Saya melihat kembali lapangan sekolah.
Melihat anak-anak dengan seragam cokelat.
Melihat Regu Harimau.
Dan entah mengapa, saya seperti kembali melihat Kak Bambang berdiri di hadapan kami.
Penghargaan itu akhirnya menjadi pintu bagi sebuah renungan:
apa sebenarnya makna prestasi dalam pendidikan?
Pertanyaan ini penting karena kita hidup pada zaman yang sangat gemar mengukur keberhasilan melalui apa yang terlihat.
Piala.
Medali.
Sertifikat.
Angka.
Popularitas.
Jumlah pengikut.
Jumlah tayangan.
Bahkan kebaikan pun terkadang baru dianggap ada setelah difoto dan dipublikasikan.
Di sinilah saya mulai merasa ada sesuatu yang perlu kita renungkan kembali.
Tidak ada yang salah dengan prestasi.
Pramuka membutuhkan prestasi.
Anak-anak perlu berkompetisi.
Mereka perlu belajar menang dan kalah.
Mereka perlu memiliki target.
Mereka perlu merasakan kebanggaan ketika kerja keras mereka menghasilkan sesuatu.
Tetapi prestasi akan kehilangan maknanya ketika ia berhenti menjadi buah dari proses dan berubah menjadi tujuan untuk membangun citra.
Kita bisa memiliki lemari penuh piala.
Tetapi apakah kita memiliki karakter?
Kita bisa memiliki puluhan sertifikat.
Tetapi apakah kita dapat dipercaya?
Kita bisa menjadi juara lomba.
Tetapi apakah kita mampu mengendalikan diri ketika kalah dalam kehidupan?
Pertanyaan itu penting karena piala hanya membuktikan bahwa seseorang memenangkan sebuah perlombaan.
Piala tidak otomatis membuktikan bahwa ia memenangkan pertarungan melawan kesombongan.
Ia tidak membuktikan bahwa ia jujur.
Ia tidak membuktikan bahwa ia bertanggung jawab.
Dan ia tidak membuktikan bahwa ia akan tetap melakukan hal yang benar ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Di sinilah pengalaman Pramuka masa lalu terasa kembali relevan.
Dahulu kami memang mengejar prestasi.
Tetapi kami tidak hidup untuk piala.
Kami hidup dalam proses.
Dan proses itulah yang ternyata menjadi bekal paling panjang.
Gerakan Pramuka sendiri menempatkan Satya dan Darma sebagai kode kehormatan. Dalam dokumen resmi Gerakan Pramuka, Darma disebut sebagai sistem nilai yang harus dihayati, dimiliki, dan diamalkan dalam kehidupan anggota di masyarakat.
Karena itu, Tri Satya tidak seharusnya berhenti sebagai kalimat yang diucapkan dengan lantang ketika pelantikan.
Ia adalah janji.
Dan janji selalu memiliki konsekuensi.
Seorang Pramuka berjanji menjalankan kewajiban kepada Tuhan Yang Maha Esa dan NKRI, mengamalkan Pancasila, menolong sesama, mempersiapkan diri membangun masyarakat, serta menepati Dasa Dharma.
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi tidak mudah dijawab.
Apa artinya menolong sesama jika kita begitu mudah menyebarkan informasi yang dapat menghancurkan nama baik seseorang?
Apa artinya mengamalkan Pancasila jika perbedaan pilihan membuat kita kehilangan rasa persaudaraan?
Apa artinya membangun masyarakat jika kepedulian kita hanya muncul ketika ada kamera?
Dan apa artinya menepati Dasa Dharma jika nilai itu hanya hidup ketika kita memakai seragam?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada tantangan zaman sekarang.
Kita hidup di tengah banjir informasi.
Masalahnya bukan lagi kekurangan informasi.
Justru sebaliknya: kita kebanjiran informasi.
Setiap hari ada berita.
Ada potongan video.
Ada tangkapan layar.
Ada komentar.
Ada opini.
Ada pesan berantai.
Ada seseorang yang berbicara seolah-olah mengetahui semuanya.
Kemudian informasi itu berpindah dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya.
Dalam situasi semacam ini, sesuatu yang viral sering kali dianggap benar.
Sesuatu yang diulang berkali-kali dianggap fakta.
Sesuatu yang dipercaya banyak orang dianggap tidak mungkin salah.
Padahal:
viral tidak sama dengan benar.
populer tidak sama dengan benar.
mayoritas tidak selalu sama dengan kebenaran.
Di sinilah saya melihat ada hubungan yang menarik antara Pramuka masa lalu dan kehidupan digital hari ini.
Dahulu kami diajarkan membaca kompas.
Hari ini anak-anak juga harus diajarkan membaca informasi.
Dahulu kami diajarkan mengenali jejak.
Hari ini mereka harus belajar mengenali jejak digital.
Dahulu kami belajar memastikan arah sebelum melangkah.
Hari ini mereka harus belajar memastikan kebenaran sebelum membagikan sesuatu.
Mungkin inilah bentuk baru dari scouting.
Bukan hanya menjelajah alam, tetapi juga menjelajah rimba informasi.
Dasa Dharma sebenarnya sangat sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, ia sering dianggap selesai setelah dihafalkan.
Padahal setiap butirnya adalah pertanyaan bagi kehidupan.
Apakah kita benar-benar cinta kepada sesama?
Apakah kita sopan ketika berbeda pendapat?
Apakah kita mau bermusyawarah?
Apakah kita rela menolong?
Apakah kita disiplin?
Apakah kita bertanggung jawab?
Apakah kita dapat dipercaya?
Dan yang paling mendasar:
apakah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita masih berada dalam satu garis moral?
Pertanyaan terakhir ini menjadi sangat penting di media sosial.
Sebab media sosial memungkinkan manusia memiliki dua wajah.
Wajah yang terlihat baik di depan publik.
Dan wajah yang sebenarnya muncul ketika ia merasa tidak sedang diawasi.
Padahal, karakter justru terlihat pada bagian kedua.
Dasa Dharma tidak diuji ketika pembina berdiri di depan barisan.
Dasa Dharma diuji ketika tidak ada pembina.
Ketika tidak ada kamera.
Ketika tidak ada tepuk tangan.
Ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat curang dan tidak seorang pun akan mengetahuinya.
Di situlah karakter bekerja.
Ada satu bentuk keberanian yang semakin langka di zaman ini: keberanian mengakui kesalahan.
Kita hidup dalam budaya yang memaksa manusia untuk selalu terlihat benar.
Ketika salah, mencari pembenaran.
Ketika dikoreksi, menyerang balik.
Ketika fakta tidak sesuai dengan keyakinan, faktanya yang ditolak.
Padahal mengatakan “saya salah” bukan kekalahan.
Itu justru kemenangan atas ego.
Dan saya kira, salah satu pelajaran penting yang pernah diberikan Pramuka kepada kami adalah bahwa kesalahan bukan alasan untuk berhenti.
Kalau simpul salah, buka dan ulangi.
Kalau tenda roboh, dirikan kembali.
Kalau tersesat, cari arah.
Kalau kalah, belajar.
Kalau gagal, mencoba lagi.
Sederhana.
Tetapi justru di situlah pendidikan berlangsung.
Pramuka mengajarkan keberanian bukan sekadar untuk menghadapi musuh di medan perang, melainkan keberanian menghadapi diri sendiri.
Berani mengakui kesalahan.
Berani meminta maaf.
Berani memperbaiki diri.
Berani berkata:
“Saya belum tahu.”
Sebab orang yang mengatakan belum tahu masih memiliki kemungkinan untuk belajar.
Sebaliknya, orang yang merasa sudah tahu segalanya biasanya telah menutup pintu bagi pengetahuan.
Karena itu, saya kira ukuran keberhasilan pendidikan kepramukaan tidak cukup berhenti pada jumlah piala.
Kita harus bertanya lebih jauh.
Berapa banyak anak yang menjadi lebih jujur?
Berapa banyak yang menjadi lebih disiplin?
Berapa banyak yang belajar menghormati perbedaan?
Berapa banyak yang berani menolak kecurangan?
Berapa banyak yang mampu menerima kekalahan tanpa menyalahkan orang lain?
Dan berapa banyak yang tetap rendah hati ketika menang?
Sebab dunia tidak sedang kekurangan manusia yang ingin menjadi juara.
Dunia justru sedang kekurangan manusia yang dapat dipercaya.
Manusia yang perkataannya dapat dipegang.
Manusia yang tindakannya sesuai dengan ucapannya.
Manusia yang tidak berubah hanya karena tidak ada yang mengawasi.
Dan manusia yang tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran.
Kak Bambang, Pramuka, dan sebuah warisan
Mungkin inilah yang sekarang saya pahami tentang Kak Bambang.
Ia tidak sedang mengajarkan kami bagaimana menjadi terkenal.
Ia tidak sedang menyiapkan kami untuk menjadi manusia yang dipuji.
Ia sedang menyiapkan kami untuk menghadapi kehidupan.
Ia mungkin tidak pernah mengatakan bahwa suatu hari nanti anak-anak yang dibinanya akan menjadi jurnalis, birokrat, atau profesional.
Tetapi ia memberikan sesuatu yang jauh lebih penting daripada prediksi masa depan:
fondasi.
Kami boleh berjalan ke mana saja.
Boleh memiliki profesi apa saja.
Boleh memiliki pandangan hidup yang berbeda.
Tetapi fondasi itu tetap ikut berjalan bersama kami.
Dan mungkin pendidikan terbaik memang seperti itu.
Ia tidak selalu terasa ketika diberikan.
Kadang baru kita sadari puluhan tahun kemudian.
Ketika hidup menghadapkan kita pada pilihan.
Ketika tidak ada orang yang melihat.
Ketika tidak ada pembina yang mengawasi.
Ketika tidak ada tepuk tangan.
Lalu tiba-tiba kita teringat sesuatu yang dahulu pernah diajarkan.
Jangan curang.
Bertanggung jawablah.
Jaga temanmu.
Kalau kalah, jangan menyerah.
Kalau menang, jangan sombong.
Pada saat itulah seorang guru sesungguhnya masih mengajar, meskipun ia sudah tidak berada di depan kita.
Hari ini saya sudah jauh meninggalkan masa SMP.
Seragam itu telah lama saya lepas.
Lapangan tempat kami berlatih mungkin telah berubah.
Anak-anak Regu Harimau telah tumbuh menjadi manusia dengan jalan hidup masing-masing.
Kak Bambang pun telah menjadi bagian dari sejarah pribadi kami.
Tetapi nilai yang ditanamkan tidak ikut pensiun.
Justru setelah bertahun-tahun, saya semakin memahami maknanya.
Seragam hanya dikenakan beberapa jam.
Prestasi hanya dirayakan beberapa menit.
Piala hanya dipajang beberapa tahun.
Tetapi karakter dibawa sepanjang hidup.
Karena itu, tantangan Pramuka hari ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan seragam agar tetap dikenakan generasi muda.
Tantangannya jauh lebih besar:
bagaimana membuat nilai-nilai di balik seragam itu tetap hidup.
Gerakan Pramuka sendiri menempatkan pembentukan watak, akhlak, budi pekerti, dan kecakapan hidup sebagai sasaran pendidikan kepramukaan.
Maka prestasi seharusnya menjadi jalan, bukan tujuan akhir.
Piala adalah tanda bahwa sebuah proses telah menghasilkan sesuatu.
Tetapi manusia yang jujur, bertanggung jawab, rendah hati, berani, disiplin, dan dapat dipercaya adalah hasil pendidikan yang sesungguhnya.
Dan mungkin, setelah puluhan tahun berlalu, saya baru memahami apa yang dahulu dilakukan Kak Bambang kepada kami.
Ia tidak sekadar membentuk sebuah regu.
Ia sedang membentuk manusia.
Kami dahulu belajar mendirikan tenda.
Tetapi ternyata, tanpa kami sadari, Kak Bambang sedang membantu kami mendirikan diri sendiri.
Dan bangunan itulah yang sampai hari ini masih kami bawa.
Di tengah zaman ketika kebohongan dapat terlihat seperti kebenaran, ketika citra sering dianggap lebih penting daripada substansi, dan ketika jumlah pengikut kadang dijadikan ukuran nilai seseorang, warisan itu terasa semakin penting.
Sebab pada akhirnya, prestasi terbesar seorang Pramuka bukanlah berdiri di podium sambil mengangkat piala.
Prestasi terbesar adalah mampu berdiri sendirian di tengah godaan, ketika tidak ada seorang pun yang melihat, lalu tetap memilih melakukan yang benar.
Di situlah Tri Satya menjadi janji.
Di situlah Dasa Dharma menjadi laku.
Dan di situlah pendidikan Pramuka benar-benar menemukan maknanya.
Penulis: Mohamad Romli, Redaktur Tangerangdaily. (*)