Purbaya Yudhi Sadewa merupakan ekonom yang lahir di Bogor pada 7 Juli 1964. Lulusan Teknik Elektro ITB ini kemudian melanjutkan pendidikan ekonomi hingga meraih gelar MSc dan doktor di Purdue University, Amerika Serikat. Sebelum menjadi Menteri Keuangan, Purbaya berkarier di sektor swasta, pemerintahan, dan memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). (Foto: kemenkeu.go.id) SOSOK | TD — Nama Purbaya Yudhi Sadewa kembali menjadi perhatian publik setelah masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan berakhir pada September 2026. Sebelum menduduki kursi yang mengurusi kebijakan fiskal negara tersebut, Purbaya dikenal sebagai ekonom yang memiliki perjalanan karier cukup panjang di sektor keuangan, pemerintahan, hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Di balik kiprahnya sebagai ekonom, Purbaya memiliki latar belakang pendidikan yang menarik. Ia justru memulai pendidikan tinggi dari bidang teknik sebelum melanjutkan studi ke bidang ekonomi.
Purbaya Yudhi Sadewa lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 7 Juli 1964. Dengan demikian, ia berusia 62 tahun pada 2026.
Nama Purbaya kemudian semakin dikenal di lingkup kebijakan ekonomi nasional seiring dengan berbagai posisi strategis yang pernah diembannya di pemerintahan maupun lembaga keuangan.
Pendidikan sarjana Purbaya ditempuh di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengambil jurusan Teknik Elektro dan menyelesaikan pendidikan tersebut sebelum kemudian melanjutkan ke bidang ekonomi.
Purbaya tercatat masuk Teknik Elektro ITB pada 1983. Latar belakang pendidikannya tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan kariernya karena setelah menyelesaikan pendidikan teknik, ia kemudian mendalami ilmu ekonomi melalui pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat.
Setelah memperoleh gelar sarjana dari ITB, Purbaya melanjutkan pendidikan ke Purdue University, Indiana, Amerika Serikat.
Di universitas tersebut, ia memperoleh gelar Master of Science (MSc) dan doktor di bidang Ilmu Ekonomi. Perjalanan akademik itu kemudian mempertemukan latar belakang teknik yang diperolehnya di Indonesia dengan bidang ekonomi yang menjadi fokus karier profesionalnya.
Sebelum memasuki dunia pemerintahan, Purbaya sempat bekerja di sektor swasta. Berdasarkan profil resminya, ia mengawali karier sebagai Field Engineer di Schlumberger Overseas SA pada 1989 hingga 1994.
Setelah itu, perjalanan profesionalnya semakin banyak bersinggungan dengan riset dan analisis ekonomi. Ia pernah menjadi Senior Economist di Danareksa Research Institute pada 2000-2005.
Purbaya kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi di lingkungan Danareksa, termasuk sebagai Direktur Utama PT Danareksa Securities pada 2006-2008 dan Chief Economist Danareksa Research Institute pada 2005-2013. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Direksi PT Danareksa (Persero) pada 2013-2015.
Pengalaman Purbaya tidak berhenti di sektor korporasi. Ia kemudian dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis di pemerintahan.
Ia pernah menjadi Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada 2010-2014. Purbaya juga tercatat sebagai anggota Komite Ekonomi Nasional pada periode yang sama.
Pada 2015, ia sempat dipercaya menjadi Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis di Kantor Staf Presiden. Setelah itu, ia menjadi Staf Khusus Bidang Ekonomi di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan pada 2015-2016, sebelum kemudian menjadi Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada 2016-2018.
Kariernya berlanjut sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada 2018-2020.
Salah satu posisi penting sebelum menjadi Menteri Keuangan adalah sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Purbaya diangkat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS pada September 2020. Ia menjalankan posisi tersebut hingga September 2025, sebelum kemudian ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Keuangan.
Pengalaman tersebut membuat Purbaya memiliki rekam jejak di bidang stabilitas sistem keuangan dan perbankan sebelum masuk ke posisi yang memiliki tanggung jawab lebih luas dalam pengelolaan keuangan negara.
Purbaya resmi diangkat menjadi Menteri Keuangan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 86/P Tahun 2025 tanggal 8 September 2025. Ia menggantikan Sri Mulyani Indrawati dalam posisi tersebut.
Selama menjabat, Purbaya antara lain terlibat dalam pengelolaan APBN, kebijakan fiskal, serta berbagai kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan belanja negara.
Pada Juli 2026, misalnya, Purbaya menyampaikan bahwa pendapatan negara hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp1.656 triliun.
Perjalanan Purbaya sebagai Menteri Keuangan berlangsung sekitar satu tahun. Pada September 2026, Presiden Prabowo Subianto menggantinya dengan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Serah terima jabatan berlangsung pada 15 September 2026 di Kementerian Keuangan. Dalam prosesi tersebut, Purbaya menyerahkan laporan kinerja selama masa jabatannya kepada Suahasil.
Pergantian tersebut kemudian menjadi perhatian karena muncul laporan mengenai adanya perbedaan pandangan terkait sejumlah kebijakan dan perubahan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan.
Reuters melaporkan bahwa pencopotan Purbaya berkaitan dengan perselisihan dengan sejumlah pejabat tinggi Kemenkeu, terutama terkait perombakan di lingkungan perpajakan serta kepabeanan dan cukai. Namun, sejumlah detail mengenai konflik tersebut berasal dari sumber yang dikutip Reuters dan perlu dibedakan dari keterangan resmi pemerintah.
Purbaya sendiri sebelumnya menyatakan dirinya kecewa dengan pencopotan tersebut, meski mengaku sudah memperkirakan kemungkinan itu setelah muncul sejumlah perbedaan dengan pejabat lain.
Dengan berakhirnya masa jabatan tersebut, perjalanan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan pun berlangsung selama sekitar satu tahun. Sebelum menduduki posisi tersebut, ia telah melewati perjalanan panjang dari pendidikan Teknik Elektro di ITB, pendidikan ekonomi di Purdue University, dunia korporasi, pemerintahan, hingga memimpin LPS. (Nazwa)