Komunitas Punk Tasawuf Underground Suarakan Masalah Kota Lewat Foto

waktu baca 4 menit
Selasa, 15 Sep 2026 19:10 42 Redaksi

KOTA TANGSEL | TD  — Komunitas punk dan santri jalanan Tasawuf Underground (TU) membuktikan bahwa mereka bukan sekadar kelompok yang kerap dipandang sebagai persoalan sosial. Melalui karya fotografi, mereka menyuarakan berbagai persoalan perkotaan, mulai dari kabel semrawut, trotoar rusak, persoalan lingkungan, hingga sulitnya anak-anak marginal mendapatkan akses pendidikan.

Suara tersebut disampaikan melalui Pameran Photovoice dan Focus Group Discussion (FGD) Advokasi Kebijakan bertajuk “Mengubah Stigma, Menantang Algoritma” yang digelar tim peneliti Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang bersama KMF Kala Citra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Gedung Student Center (SC) UIN Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Karya-karya fotografi yang dipamerkan merupakan hasil dokumentasi para santri jalanan dan anak punk Tasawuf Underground dalam merekam realitas sosial di Jakarta dan Tangerang Selatan.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Ade Irfan Abdurahman, S.Kom.I., M.Si., mengatakan fotografi dalam kegiatan tersebut tidak ditempatkan sekadar sebagai karya seni visual, tetapi menjadi medium bagi komunitas marginal untuk menyampaikan keresahan dan pengalaman mereka.

“Foto-foto yang dipamerkan hari ini bukan sekadar mengejar estetika visual, melainkan media penyampaian pesan moral dan data kemanusiaan langsung dari warga aspal jalanan,” ujar Ade.

Menurutnya, berbagai persoalan yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari dituangkan melalui kamera, di antaranya kabel yang semrawut, saluran air tersumbat, kondisi trotoar yang rusak dan berlubang, hingga persoalan akses pendidikan bagi anak-anak marginal.

“Keresehan yang dipotret murni dari sudut pandang mereka,” katanya.

Dari Jalanan, Mereka Membaca Persoalan Kota

Dalam sesi guided tour pameran dan FGD, para fotografer dari komunitas jalanan menjelaskan secara langsung cerita di balik karya yang mereka hasilkan.

Sejumlah karya mengangkat persoalan infrastruktur perkotaan yang berpotensi membahayakan masyarakat. Kondisi kabel yang semrawut dan trotoar rusak, misalnya, menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian karena dapat mengganggu keselamatan pejalan kaki dan kelompok rentan, termasuk penyandang tunanetra.

Fotografi kemudian menjadi cara komunitas TU untuk menyampaikan realitas yang mereka lihat secara langsung di ruang publik.

Pameran tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendobrak stigma terhadap anak jalanan dan komunitas punk. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai objek persoalan sosial, tetapi diberi ruang untuk menjadi subjek yang mampu mengamati, mendokumentasikan, sekaligus menyampaikan kritik terhadap kondisi lingkungan dan kehidupan perkotaan.

Pemkot Tangsel Siapkan Peluang Pemberdayaan

Kegiatan tersebut turut dihadiri pemangku kebijakan daerah, di antaranya Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tangerang Selatan H. Mukroni serta Ahmad Assegaf yang mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov DKI Jakarta.

Mukroni mengapresiasi karya dan kepedulian sosial yang ditunjukkan komunitas Tasawuf Underground.

Menurutnya, karya fotografi yang ditampilkan memperlihatkan bahwa anak-anak punk memiliki potensi, kreativitas, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Anak-anak punk membuktikan bahwa mereka punya karya nyata dan perhatian tinggi terhadap lingkungan,” ujar Mukroni.

Ia mengatakan Pemkot Tangerang Selatan terbuka untuk memfasilitasi berbagai program pemberdayaan, mulai dari pembinaan kewirausahaan, pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK), hingga kolaborasi pengelolaan sampah berbasis Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Program tersebut diharapkan dapat membuka ruang pemberdayaan ekonomi sekaligus mendorong keterlibatan komunitas marginal dalam pembangunan di tingkat daerah.

Pemprov DKI Buka Akses Wirausaha dan Pendidikan

Sementara itu, Ahmad Assegaf menyampaikan apresiasi terhadap proses pembinaan spiritual dan sosial yang dilakukan Tasawuf Underground melalui konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Ia mengatakan Pemprov DKI Jakarta memiliki sejumlah program yang dapat dikolaborasikan dengan komunitas TU, khususnya dalam bidang kepemudaan dan kewirausahaan.

“Kami dari Dispora DKI Jakarta menyediakan program Pembinaan Aktivitas Pemuda dan Bantuan Wirausaha Pemula,” kata Ahmad.

Ia juga membuka peluang agar produk usaha sablon yang dikembangkan anak-anak TU dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan dan booth Pemerintah Daerah.

Selain pemberdayaan ekonomi, persoalan pendidikan anak-anak dari kelompok marginal turut menjadi perhatian.

“Terkait kendala pendaftaran sekolah anak, kami siap berkoordinasi langsung dengan Dinas Pendidikan agar hak pendidikan anak-anak ini terpenuhi,” ujarnya.

Tujuh Rekomendasi Kebijakan Diserahkan

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan dokumen Policy Brief secara simbolis dari tim peneliti kepada perwakilan Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Tangerang Selatan.

Dokumen tersebut memuat tujuh rekomendasi strategis terkait penguatan kebijakan bagi kelompok marginal di kawasan perkotaan.

Beberapa rekomendasi di antaranya layanan administrasi kependudukan dengan sistem jemput bola, pelibatan komunitas marginal dalam perumusan kebijakan kota, serta fasilitasi transportasi inklusif dan gratis melalui layanan JakLingko.

Penyerahan Policy Brief tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan karena aspirasi yang disampaikan melalui karya fotografi tidak berhenti pada ruang pamer.

Melalui dialog bersama pemangku kebijakan, pengalaman dan persoalan yang direkam para santri jalanan dan anak punk diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan kota yang lebih inklusif.

Pameran “Mengubah Stigma, Menantang Algoritma” pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang fotografi. Dari balik lensa anak-anak jalanan, muncul pesan bahwa mereka juga memiliki perspektif, kepedulian, dan suara yang layak didengar dalam membicarakan masa depan kota. (*)

LAINNYA