Mohamad Romli. (Foto: Dok. Pribadi Penulis) KOLOM | TD — Dalam praktik pendidikan modern, pengetahuan sering diperlakukan seolah-olah ia netral, objektif, dan berlaku universal. Ia hadir dalam buku teks, jurnal ilmiah, serta ruang-ruang kelas dengan wibawa yang jarang digugat. Namun, di balik tampilannya yang sistematis dan meyakinkan, pengetahuan sesungguhnya tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia merupakan hasil konstruksi—dibentuk oleh sejarah, dipengaruhi oleh kepentingan, dan disaring melalui mekanisme legitimasi tertentu.
Perguruan tinggi, dalam hal ini, memegang peran penting sebagai ruang produksi sekaligus reproduksi pengetahuan. Kampus tidak hanya menghasilkan teori, tetapi juga membentuk cara berpikir. Melalui kurikulum, metode ilmiah, dan standar evaluasi, mahasiswa diarahkan untuk memahami dunia dalam kerangka yang telah ditetapkan sebelumnya. Proses ini sering berlangsung secara halus, bahkan nyaris tak disadari, sehingga apa yang diajarkan terasa sebagai satu-satunya cara yang sah untuk mengetahui.
Di titik inilah, metafora “pabrik pengetahuan” menjadi relevan. Pendidikan tidak lagi sekadar ruang pencarian, melainkan juga ruang pembentukan—bahkan, dalam batas tertentu, penyeragaman. Mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga dibentuk menjadi subjek yang selaras dengan logika epistemologis yang dominan. Akibatnya, cara pandang yang berkembang cenderung homogen, sementara kemungkinan-kemungkinan lain perlahan tersisih.
Dominasi epistemologi modern, yang bertumpu pada rasionalitas dan verifikasi empiris, memang telah membawa kemajuan besar dalam berbagai bidang. Namun, ketika ia ditempatkan sebagai satu-satunya tolok ukur kebenaran, persoalan mulai muncul. Cara-cara lain dalam memahami realitas—seperti pengalaman batin, refleksi filosofis, maupun kearifan tradisi—sering kali dipinggirkan karena tidak memenuhi standar ilmiah yang ketat. Padahal, dimensi-dimensi tersebut justru menyentuh aspek kehidupan yang tidak selalu dapat diukur, tetapi tetap nyata dan bermakna.
Dalam konteks Indonesia, situasi ini menghadirkan ironi tersendiri. Nusantara memiliki warisan pengetahuan yang kaya, mulai dari naskah kuno hingga praktik hidup masyarakat adat yang sarat makna. Pengetahuan ini tumbuh dari pengalaman panjang manusia berhadapan dengan alam dan kehidupan sosialnya. Ia mungkin tidak terformulasikan dalam bahasa akademik modern, tetapi mengandung kedalaman reflektif yang tidak bisa diabaikan. Sayangnya, sistem pendidikan formal kerap menempatkannya di pinggiran—sebagai pelengkap, bukan sebagai sumber pengetahuan yang setara.
Akibatnya, terjadi semacam keterputusan. Generasi terdidik menjadi akrab dengan teori-teori global, tetapi semakin jauh dari akar pengetahuan lokalnya sendiri. Mereka terlatih untuk menganalisis, tetapi tidak selalu diajak untuk memahami secara lebih utuh. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan berisiko melahirkan individu yang cakap secara teknis, namun kurang memiliki kedalaman dalam memaknai realitas.
Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah penolakan terhadap sains atau metode ilmiah, melainkan penempatan yang lebih proporsional. Sains tetap penting, tetapi ia perlu dipahami sebagai salah satu cara mengetahui, bukan satu-satunya. Membuka ruang dialog antara berbagai bentuk pengetahuan—ilmiah, filosofis, maupun tradisional—menjadi langkah penting untuk menghindari reduksi cara pandang.
Lebih dari itu, pendidikan perlu kembali pada esensinya sebagai proses pembentukan kesadaran. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan untuk mengetahui, tetapi juga perlu dilatih untuk mempertanyakan, merefleksikan, dan menghayati. Pengetahuan yang hidup bukanlah yang sekadar dihafal, melainkan yang diolah dalam pengalaman dan kesadaran.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata tentang sistem pendidikan, melainkan tentang bagaimana kita memposisikan diri sebagai subjek yang belajar. Apakah kita hanya akan menjadi produk dari “pabrik pengetahuan”, atau berani mengambil jarak untuk memahami dan, bila perlu, mengkritisinya?
Barangkali, di situlah letak pentingnya pendidikan yang sesungguhnya: bukan hanya membentuk manusia yang tahu banyak hal, tetapi manusia yang mampu memahami—dan tidak berhenti bertanya.
Penulis: Mohamad Romli, Penikmat Teks Filsafat & Tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)