Bangkit di Tengah Bising Dunia Digital: Menjaga Persatuan dengan Semangat Wawasan Nusantara

waktu baca 4 menit
Senin, 15 Jun 2026 21:29 71 Nazwa

OPINI | TD — Di era digital seperti sekarang, informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Hanya dalam hitungan detik, sebuah berita, opini, atau video dapat menjangkau jutaan orang melalui media sosial. Perkembangan teknologi ini tentu membawa banyak manfaat. Masyarakat semakin mudah mengakses informasi, memperoleh pengetahuan, serta berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Arus informasi yang begitu deras sering kali membuat masyarakat kesulitan membedakan antara informasi yang benar dan yang menyesatkan. Hoaks, ujaran kebencian, serta berbagai konten provokatif kerap beredar luas dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama agar ruang digital tidak menjadi sumber konflik, melainkan sarana untuk memperkuat kebersamaan sebagai bangsa Indonesia.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei mengingatkan kita bahwa persatuan merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia. Semangat kebangkitan yang dahulu mendorong para pendiri bangsa untuk melawan penjajahan harus terus dihidupkan dalam menghadapi tantangan zaman. Jika dahulu ancaman datang dalam bentuk penjajahan fisik, saat ini ancaman dapat muncul melalui penyebaran informasi yang menyesatkan, polarisasi di media sosial, hingga berbagai narasi yang memecah belah masyarakat.

Pengaruh ruang digital dalam kehidupan masyarakat Indonesia semakin besar dari tahun ke tahun. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang. Angka tersebut menandakan bahwa internet tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan atau komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik baru tempat masyarakat membentuk opini, berdiskusi, dan memperoleh berbagai informasi yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap kehidupan sosial maupun kebangsaan.

Sayangnya, peningkatan jumlah pengguna internet belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai. Banyak pengguna media sosial yang membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Tidak sedikit pula yang lebih mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi daripada mencari kebenarannya secara objektif. Kondisi ini semakin diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten sesuai minat pengguna, sehingga seseorang lebih sering terpapar pandangan yang sejalan dengan dirinya. Akibatnya, ruang digital dapat berubah menjadi ruang yang memperkuat polarisasi dan mempersempit ruang dialog.

Fenomena tersebut sering terlihat pada berbagai momentum politik di Indonesia. Penyebaran hoaks, manipulasi informasi, hingga narasi yang bersifat provokatif sering digunakan untuk memengaruhi opini publik. Perbedaan pilihan politik yang seharusnya menjadi bagian dari demokrasi terkadang berkembang menjadi konflik sosial yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap persatuan bangsa tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dapat muncul dari cara masyarakat menggunakan teknologi digital.

Di tengah kondisi tersebut, Wawasan Nusantara menjadi konsep yang tetap relevan untuk diterapkan. Wawasan Nusantara mengajarkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan pandangan hidup. Keberagaman tersebut bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama. Melalui pemahaman ini, masyarakat diharapkan mampu melihat perbedaan sebagai bagian dari identitas nasional yang memperkuat persatuan.

Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, peran dalam menjaga kualitas ruang digital sangatlah penting. Mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi yang dapat memengaruhi banyak orang melalui berbagai platform digital. Sayangnya, budaya mengejar popularitas dan viralitas sering kali lebih menonjol dibandingkan budaya literasi dan verifikasi informasi. Akibatnya, informasi yang belum tentu benar dapat dengan mudah tersebar luas.

Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai Wawasan Nusantara di era digital perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya merupakan langkah sederhana tetapi sangat penting. Selain itu, menghargai perbedaan pendapat, menghindari ujaran kebencian, serta membangun diskusi yang sehat juga menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai warga digital. Di lingkungan kampus, upaya ini dapat dilakukan melalui kegiatan literasi digital, pelatihan cek fakta, seminar, maupun diskusi yang mendorong mahasiswa berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang beredar.

Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Konten-konten yang mengangkat keberagaman budaya, tradisi, bahasa daerah, maupun nilai-nilai kebangsaan dapat menjadi cara efektif untuk memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital.

Pada akhirnya, kebangkitan nasional di era digital tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi atau tingginya jumlah pengguna internet. Kebangkitan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi secara bijak untuk memperkuat persatuan dan memperluas wawasan kebangsaan. Teknologi hanyalah alat, sedangkan manfaat atau dampaknya sangat ditentukan oleh cara manusia menggunakannya.

Melalui semangat Hari Kebangkitan Nasional, kita perlu menyadari bahwa menjaga persatuan tidak hanya dilakukan dalam kehidupan nyata, tetapi juga di ruang digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan menjadikan Wawasan Nusantara sebagai pedoman dalam berpikir, berinteraksi, dan menyebarkan informasi, masyarakat Indonesia dapat menghadapi berbagai tantangan digital tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang bersatu dalam keberagaman.

Penulis: Fathir Rizky Aliana
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang. (*)

LAINNYA