Zaenal Abidin Syuja’i. (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari sebuah niat yang pada dasarnya mulia: meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia sebagai investasi bagi sumber daya manusia masa depan. Dalam perspektif pembangunan bangsa, tidak ada yang menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi generasi muda. Anak yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh optimal, belajar dengan baik, dan mengembangkan potensi dirinya.
Namun, berbagai persoalan yang muncul dalam implementasi MBG menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah program ini telah dirancang dengan perencanaan yang matang, tata kelola yang kuat, serta mempertimbangkan prioritas pembangunan nasional secara proporsional?
Di tengah keterbatasan fiskal negara, setiap rupiah anggaran publik semestinya diarahkan pada program yang memberikan manfaat terbesar bagi kemajuan bangsa. Karena itu, diskusi mengenai MBG tidak boleh berhenti pada aspek popularitas kebijakan semata, melainkan harus menyentuh substansi efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan penggunaan anggaran negara.
Konstitusi Indonesia menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional. Pasal 31 UUD 1945 secara tegas mengamanatkan negara untuk menyelenggarakan sistem pendidikan nasional dan mengalokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN maupun APBD.
Tujuan pendidikan bukan sekadar menyediakan ruang belajar, melainkan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang dimaksud mencakup kemampuan akademik, pembentukan karakter, integritas moral, daya pikir kritis, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di sinilah pertanyaan penting layak diajukan. Ketika dunia pendidikan masih menghadapi berbagai persoalan mendasar—mulai dari kualitas guru yang belum merata, keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan, ketimpangan akses pendidikan antarwilayah, rendahnya tingkat literasi dan numerasi, hingga kesejahteraan tenaga pendidik yang belum optimal—apakah pengalokasian anggaran yang sangat besar untuk MBG merupakan pilihan yang paling tepat dan mendesak?
Pertanyaan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap pentingnya gizi, melainkan upaya untuk memastikan bahwa kebijakan publik benar-benar berpijak pada skala prioritas pembangunan yang rasional dan berorientasi jangka panjang.
Tidak dapat dipungkiri bahwa gizi memiliki pengaruh terhadap kemampuan belajar anak. Kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan fisik maupun kognitif. Namun, kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh faktor gizi semata.
Banyak negara berhasil membangun sumber daya manusia unggul karena menempatkan pendidikan sebagai investasi strategis melalui peningkatan kualitas guru, penguatan budaya literasi dan riset, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembangunan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dalam konteks tersebut, gizi berfungsi sebagai faktor pendukung, bukan satu-satunya instrumen pembangunan manusia.
Karena itu, apabila MBG menyerap ruang fiskal yang sangat besar hingga berpotensi mengurangi efektivitas program-program pendidikan lainnya, maka evaluasi menjadi sebuah keniscayaan. Pembangunan manusia membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan intelektual. Tubuh yang sehat memang penting, tetapi kecerdasan, karakter, dan kualitas pendidikan tetap menjadi fondasi utama kemajuan sebuah bangsa.
Sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa kesalahan dalam menentukan prioritas sering kali berujung pada pemborosan sumber daya yang besar. Program yang populer secara politik belum tentu menjadi program yang paling efektif dalam mendorong kemajuan bangsa.
Ketika orientasi kebijakan lebih banyak diarahkan pada program yang hasilnya mudah dilihat dalam jangka pendek, sementara investasi jangka panjang seperti peningkatan kualitas pendidikan kurang mendapatkan perhatian, maka sebuah negara berisiko kehilangan momentum untuk menciptakan generasi yang benar-benar unggul dan kompetitif.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan, revolusi digital, persaingan ekonomi internasional, perubahan geopolitik, hingga disrupsi teknologi menuntut hadirnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, inovatif, kreatif, dan adaptif.
Tantangan tersebut tidak akan mampu dijawab hanya melalui program pemenuhan gizi. Yang dibutuhkan adalah transformasi pendidikan yang serius, terukur, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah aspek tata kelola program. Besarnya anggaran selalu berbanding lurus dengan besarnya risiko penyimpangan apabila sistem pengawasan tidak berjalan secara efektif.
Munculnya berbagai persoalan administratif, indikasi ketidaksiapan pelaksanaan di sejumlah daerah, hingga potensi penyalahgunaan anggaran harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh dan objektif.
Program sebesar MBG memerlukan sistem pengawasan yang ketat, transparansi penggunaan anggaran, mekanisme evaluasi yang berkelanjutan, serta pertanggungjawaban publik yang jelas. Tanpa tata kelola yang baik, niat yang mulia sekalipun berpotensi berubah menjadi beban fiskal dan sumber persoalan baru.
Karena itu, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif, efisien, dan akuntabel.
Perdebatan mengenai MBG sejatinya bukanlah pertentangan antara kebutuhan gizi dan kebutuhan pendidikan. Keduanya merupakan elemen penting dalam pembangunan manusia. Persoalan utamanya terletak pada bagaimana negara menentukan prioritas serta memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan manfaat optimal bagi masa depan bangsa.
Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat konstitusi yang tidak boleh dikesampingkan oleh pertimbangan jangka pendek. Program pemenuhan gizi perlu dijalankan dengan baik, tetapi tidak boleh mengurangi perhatian terhadap investasi yang lebih fundamental, yakni pendidikan yang berkualitas, merata, dan berdaya saing.
Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga generasi yang cerdas, berkarakter, berintegritas, serta mampu menjawab tantangan zaman. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan publik bukan hanya terletak pada popularitasnya, melainkan pada kemampuannya membangun masa depan bangsa secara berkelanjutan.
Penulis: Zaenal Abidin Syuja’i, pemerhati sosial, pendidikan, dan keislaman. (*)