Febi Aulia Yolandi Terbaik 2 Putri di ajang pemilihan Duta Bahasa Banten (27/6) (Foto: Dokumentasi Pribadi/Azhara Natasya) TANGERANG | TD — Bagi sebagian orang, bahasa hanyalah alat untuk berkomunikasi. Namun, bagi Febi Aulia Yolandi, bahasa adalah ruang belajar, sarana menyampaikan gagasan, sekaligus jembatan untuk mengabdi kepada masyarakat. Kecintaannya terhadap dunia kebahasaan itulah yang mengantarkan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) ini meraih predikat Terbaik 2 Putri Duta Bahasa Provinsi Banten 2026.
Gelar tersebut diraih Febi pada malam Grand Final Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Banten, 27 Juni 2026. Di balik senyum yang mengembang saat namanya diumumkan sebagai pemenang, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi proses belajar, disiplin, dan ketekunan.
Sejak menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMT, Febi tidak hanya mempelajari kaidah bahasa Indonesia di ruang kuliah. Ia juga membangun keberanian untuk berbicara di depan publik, memperluas wawasan kebangsaan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis. Baginya, seorang pegiat bahasa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu menghadirkan bahasa sebagai alat pemersatu dan media edukasi di tengah masyarakat.
Semangat itulah yang membawanya mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Banten, sebuah ajang yang setiap tahun menjaring generasi muda dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, penguasaan bahasa daerah dan bahasa asing, wawasan kebahasaan serta kesastraan, hingga kemampuan menjadi komunikator publik.
Perjalanan menuju panggung grand final bukanlah sesuatu yang mudah. Febi harus melewati berbagai tahapan seleksi yang menguji kemampuan akademik maupun karakter. Mulai dari seleksi administrasi, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), tes wawasan kebahasaan, wawancara dalam tiga bahasa, penyusunan program krida, wicara publik, unjuk bakat, hingga masa karantina yang menuntut peserta terus belajar dan beradaptasi.
Di tengah padatnya aktivitas sebagai mahasiswa, Febi harus pandai membagi waktu antara perkuliahan, organisasi kemahasiswaan, dan persiapan kompetisi. Tantangan itu justru menjadi bagian dari proses yang membentuk ketangguhan dirinya.
“Proses seleksi dalam pemilihan Duta Bahasa Provinsi Banten tentu banyak tahapan, di mana setiap tahapan itu ada beberapa tes seperti UKBI, tes wawasan kebahasaan, wawancara tiga bahasa, bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing, lalu ada perancangan krida, wicara publik, unjuk bakat, dan masih banyak lagi. Setiap prosesnya aku jalani dengan baik, tentu disesuaikan kegiatan di kampus, kegiatan akademik di kampus, dan juga kegiatan UKM di kampus,” ungkap Febi, Jumat, 10 Juli 2026.
Pada malam puncak kompetisi, Febi tampil dengan pembawaan yang tenang dan penuh keyakinan. Saat dewan juri mengajukan pertanyaan mengenai isu kebahasaan, kebangsaan, dan tantangan menjaga eksistensi bahasa Indonesia di era global, ia mampu menyampaikan gagasannya secara runtut, argumentatif, dan komunikatif. Penampilan tersebut menjadi salah satu faktor yang mengantarkannya dinobatkan sebagai Terbaik 2 Putri Duta Bahasa Provinsi Banten 2026.
Meski berhasil membawa pulang gelar bergengsi, Febi memandang pencapaian itu bukan semata kemenangan pribadi. Ia percaya setiap keberhasilan lahir dari dukungan banyak orang, mulai dari keluarga yang selalu memberikan doa, para dosen yang membimbing, hingga teman-teman yang terus menyemangati selama proses kompetisi.
Baginya, nilai terbesar dari sebuah perlombaan bukan hanya trofi atau gelar, melainkan pengalaman, jaringan pertemanan, dan kesempatan untuk terus bertumbuh.
“Untuk teman-teman semua tetap semangat dan selalu percaya bahwa kalian itu bisa. Apa pun mimpi kalian, siapa pun kalian, dan apa pun latar belakang kalian, setiap mimpi pantas untuk diperjuangkan. Dalam setiap perlombaan, pastikan tujuan utamanya adalah pengalaman dan bertemu hal-hal baik lainnya. Insyaallah, apa pun hasilnya akan menjadi baik ketika niat kita juga baik,” tuturnya.
Kini, gelar Duta Bahasa menjadi awal dari tanggung jawab baru bagi Febi. Ia ingin terus mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa daerah, sekaligus mendorong generasi muda agar tidak ragu mengembangkan potensi yang dimiliki.
Perjalanan Febi Aulia Yolandi menunjukkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari keberanian mengambil peluang, kesediaan menjalani proses, dan keyakinan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Dari ruang kelas di Universitas Muhammadiyah Tangerang, langkahnya kini menjangkau panggung provinsi, membawa semangat bahwa bahasa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan identitas yang layak dijaga dan dibanggakan.
Kontributor: Azhara Natasya
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)