Ketika Generasi Muda Lebih Dekat dengan Tren Global daripada Kekayaan Nusantara

waktu baca 4 menit
Jumat, 19 Jun 2026 17:22 31 Nazwa

OPINI | TD — Di tengah derasnya arus globalisasi digital, generasi muda Indonesia semakin mudah mengenal dunia. Mereka mengikuti tren fesyen dari berbagai negara, mendengarkan musik yang sedang populer di tangga lagu internasional, hingga akrab dengan berbagai budaya yang tersebar di media sosial. Namun ironisnya, di saat yang sama, tidak sedikit yang justru semakin jauh dari keberagaman budaya bangsanya sendiri. Fenomena inilah yang menjadi tantangan baru dalam merawat semangat kebangsaan di era modern.

Kemajuan teknologi memang telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Dunia yang dahulu terasa jauh kini berada dalam genggaman. Hanya melalui layar telepon pintar, seseorang dapat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain dalam hitungan detik. Generasi muda pun tumbuh sebagai bagian dari masyarakat global yang terbuka terhadap berbagai pengetahuan dan budaya.

Tentu saja, kondisi ini membawa banyak manfaat. Akses informasi yang luas memungkinkan generasi muda memperkaya wawasan, membangun jejaring lintas negara, dan mempelajari berbagai hal yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, di balik berbagai keuntungan tersebut, terdapat persoalan yang sering luput dari perhatian: semakin kuatnya ketertarikan terhadap budaya global tidak selalu diiringi dengan meningkatnya pemahaman terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Tidak sedikit anak muda yang mengenal berbagai istilah asing, tetapi belum memahami keberagaman bahasa daerah di Nusantara. Banyak yang mengikuti perkembangan budaya populer luar negeri, tetapi belum pernah mencari tahu tradisi masyarakat di daerah lain di Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keberagaman budaya terbesar di dunia.

Fenomena ini menjadi refleksi penting, terutama ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum tersebut bukan sekadar mengenang lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908, melainkan mengingatkan kembali bahwa Indonesia dibangun di atas kesadaran untuk bersatu di tengah berbagai perbedaan. Para pendiri bangsa menyadari bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.

Jika dahulu ancaman terhadap persatuan bangsa datang dari penjajahan fisik, maka saat ini tantangan hadir dalam bentuk yang lebih halus. Arus informasi yang bergerak tanpa batas mampu memengaruhi cara pandang, pola pikir, bahkan identitas generasi muda. Media sosial yang menjadi ruang interaksi utama sering kali lebih banyak memperlihatkan tren global daripada memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara.

Akibatnya, muncul paradoks di tengah masyarakat digital. Generasi muda semakin mengenal dunia, tetapi belum tentu semakin mengenal Indonesia. Mereka dapat dengan mudah menyebutkan tren yang sedang populer di luar negeri, tetapi kesulitan menjelaskan keberagaman budaya yang hidup di daerah-daerah lain di tanah air.

Kondisi tersebut juga tercermin dari masih munculnya stereotip dan prasangka antardaerah di ruang digital. Perbedaan budaya sering kali dipahami secara dangkal, bahkan tidak jarang dijadikan bahan ejekan. Padahal, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga persatuan nasional.

Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, dan lebih dari seribu kelompok suku bangsa, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Keberagaman tersebut bukan alasan untuk menciptakan sekat-sekat sosial, melainkan fondasi yang membentuk identitas kebangsaan. Semakin masyarakat saling mengenal, semakin kuat pula rasa persatuan yang terbangun.

Dalam konteks inilah Wawasan Nusantara menjadi semakin relevan. Wawasan Nusantara bukan sekadar konsep yang dipelajari di bangku sekolah atau perkuliahan, melainkan cara pandang yang menempatkan Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh. Melalui perspektif ini, setiap daerah dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas nasional.

Di era digital, penerapan Wawasan Nusantara dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana tetapi bermakna. Generasi muda dapat memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan budaya daerah, mempelajari tradisi dari berbagai wilayah Indonesia, menghargai perbedaan pendapat, serta menolak berbagai bentuk informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Media digital seharusnya tidak hanya menjadi jendela untuk melihat dunia, tetapi juga cermin untuk mengenali Indonesia. Teknologi yang selama ini digunakan untuk mengikuti tren global dapat menjadi sarana memperkuat pemahaman terhadap keberagaman bangsa.

Pada akhirnya, menjadi warga dunia tidak berarti harus kehilangan jati diri kebangsaan. Mengenal budaya global merupakan kebutuhan, tetapi mengenal Indonesia adalah keharusan. Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu mengikuti perkembangan dunia, melainkan bangsa yang memahami akar budayanya sendiri.

Semangat Kebangkitan Nasional pada masa kini tidak cukup diwujudkan melalui seremoni dan peringatan tahunan. Semangat tersebut harus hadir dalam kesadaran generasi muda untuk terus mengenal, memahami, dan menghargai keberagaman Nusantara. Karena di tengah dunia yang semakin terhubung, tantangan terbesar bangsa ini bukanlah menjadi bagian dari peradaban global, melainkan memastikan bahwa kita tidak kehilangan Indonesia di tengah perjalanan menuju dunia.

Penulis: Regita Aprilia
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang. (*)

LAINNYA