1 Muharam 1448 H: Saatnya Membangun Kembali Masyarakat Muslim Kosmopolitan

waktu baca 5 menit
Senin, 15 Jun 2026 13:51 37 Redaksi

KOLOM | TD — Tahun baru Islam selalu hadir dengan nuansa yang berbeda. Tidak ada pesta kembang api, hitung mundur, atau gegap gempita yang memenuhi ruang publik. Tahun baru Hijriah justru mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan jujur: ke mana arah perjalanan kita sebagai individu, sebagai umat, dan sebagai bagian dari peradaban manusia?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan pada 1 Muharam 1448 Hijriah. Kita hidup di zaman yang penuh paradoks. Dunia semakin terhubung, tetapi manusia semakin mudah terpecah. Teknologi memperpendek jarak geografis, namun tidak selalu memperdekat jarak sosial. Informasi mengalir tanpa batas, tetapi kebijaksanaan sering tertinggal jauh di belakang. Kita memiliki akses pada pengetahuan yang hampir tak terbatas, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk mengolahnya menjadi pemahaman yang membebaskan.

Dalam konteks masyarakat Muslim, paradoks tersebut tampak semakin nyata. Di satu sisi, umat Islam menjadi bagian dari masyarakat global yang saling terhubung melalui pendidikan, perdagangan, migrasi, dan teknologi digital. Di sisi lain, kecenderungan eksklusivisme identitas justru menguat. Perbedaan mazhab, organisasi, pandangan politik, bahkan persoalan-persoalan keagamaan yang bersifat teknis, kerap lebih menonjol dibanding kesadaran akan misi peradaban yang lebih besar.

Akibatnya, energi umat sering habis untuk mempertahankan batas-batas kelompok, bukan untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Kita lebih sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar daripada bertanya bagaimana menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam tumbuh besar bukan karena kemampuannya membangun tembok, melainkan karena kemampuannya membangun jembatan.

Pada abad ke-8 hingga ke-13, Baghdad menjadi salah satu pusat intelektual terbesar dunia. Di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Ma’mun, Bayt al-Hikmah atau House of Wisdom berkembang menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi ilmu pengetahuan. Karya-karya Yunani, Persia, India, hingga tradisi ilmiah dari berbagai wilayah diterjemahkan, dipelajari, dikritisi, lalu dikembangkan menjadi pengetahuan baru. Dari proses itulah lahir kemajuan dalam bidang matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, hingga teknologi yang kelak turut membentuk fondasi peradaban modern.

Beberapa abad kemudian, Andalusia menghadirkan wajah lain dari kejayaan Islam. Di kota-kota seperti Cordoba, Sevilla, dan Granada, ilmu pengetahuan berkembang bersamaan dengan budaya dialog dan keterbukaan. Pada abad ke-10, Cordoba bahkan dikenal sebagai salah satu kota paling maju di dunia, dengan perpustakaan-perpustakaan besar, sistem sanitasi yang berkembang, serta tradisi intelektual yang menarik pelajar dari berbagai penjuru Eropa. Umat Islam, Yahudi, dan Kristen hidup dalam ruang sosial yang memungkinkan pertukaran gagasan berlangsung secara produktif.

Tentu sejarah tidak pernah sempurna. Namun dari Baghdad dan Andalusia, kita belajar satu pelajaran penting: kemajuan lahir ketika sebuah masyarakat memiliki kepercayaan diri intelektual. Bukan kepercayaan diri yang dibangun dari slogan dan romantisme, melainkan dari kemampuan menghasilkan gagasan, ilmu pengetahuan, dan solusi bagi persoalan zamannya.

Sayangnya, hubungan umat Islam dengan sejarah sering kali berhenti pada nostalgia. Kita bangga menceritakan kejayaan masa lalu, tetapi tidak selalu bertanya mengapa kejayaan itu bisa lahir. Kita mengagumi Ibn Sina dalam kedokteran, Al-Khawarizmi dalam matematika, Al-Farabi dalam filsafat, Al-Ghazali dalam pemikiran keislaman, atau Ibn Rushd dalam tradisi rasionalisme, tetapi belum tentu berhasil membangun ekosistem yang memungkinkan lahirnya generasi serupa pada masa kini.

Padahal dunia terus bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan, bioteknologi, energi terbarukan, ekonomi digital, dan perubahan iklim sedang membentuk ulang wajah peradaban manusia. Persaingan tidak lagi hanya terjadi pada tingkat sumber daya alam, tetapi juga pada tingkat pengetahuan, inovasi, dan kemampuan membaca masa depan.

Di tengah perubahan besar tersebut, problem terbesar umat Islam sesungguhnya bukan kurangnya semangat beragama. Problem terbesar kita adalah kurangnya keberanian intelektual untuk membaca zaman.

Kita masih terlalu sering dipaksa memilih antara iman dan akal, antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan kemajuan. Seolah-olah ketiganya berada dalam posisi yang saling bertentangan. Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam mencapai puncaknya justru ketika akal, iman, dan kreativitas berjalan beriringan.

Karena itu, kebangkitan peradaban Islam pada abad ke-21 tidak mungkin dicapai hanya dengan mengulang masa lalu. Yang perlu diwarisi bukan bentuk historisnya, melainkan semangat yang melahirkannya.

Dari Baghdad, kita mewarisi tradisi rasionalitas, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, dan keberanian untuk belajar dari siapa pun.

Dari Andalusia, kita mewarisi semangat kosmopolitanisme, keterbukaan, dan kemampuan berdialog dengan perbedaan.

Dari khazanah tasawuf, kita mewarisi kesadaran bahwa kemajuan material tanpa kedalaman moral hanya akan melahirkan krisis baru dalam bentuk yang berbeda.

Tiga warisan inilah yang dapat menjadi fondasi bagi lahirnya masyarakat Muslim kosmopolitan pada abad ke-21. Masyarakat yang mampu berpartisipasi dalam percakapan global tanpa kehilangan identitasnya. Masyarakat yang menguasai sains dan teknologi tanpa kehilangan kompas etik. Masyarakat yang religius tanpa terjebak dalam anti-intelektualisme. Masyarakat yang terbuka tanpa kehilangan akar nilai-nilainya.

Momentum Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali kesadaran tersebut. Sebab hijrah yang paling mendesak pada masa kini bukan semata perpindahan geografis sebagaimana yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, melainkan perpindahan cara berpikir: dari eksklusivisme menuju keterbukaan, dari romantisme menuju kreativitas, dari konsumsi pengetahuan menuju produksi pengetahuan, dan dari kebanggaan simbolik menuju kerja-kerja peradaban yang nyata.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya mengenang masa lalu. Peradaban dibangun oleh mereka yang mampu memahami zamannya, menjawab tantangannya, dan menciptakan masa depannya.

Di tengah dunia yang semakin kosmopolitan, masyarakat Muslim memerlukan keberanian untuk menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi pencipta gagasan, bukan sekadar pewaris cerita; menjadi pelaku sejarah, bukan hanya pengagumnya.

Barangkali itulah makna hijrah yang paling relevan pada 1 Muharam 1448 Hijriah: berpindah dari kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu menuju kerja intelektual, spiritual, dan sosial untuk melahirkan kejayaan yang baru.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.

Semoga tahun ini menjadi awal hijrah menuju masyarakat Muslim yang bernalar seperti filsuf, beriman seperti sufi, dan bekerja seperti teknokrat; masyarakat yang tidak hanya mewarisi sejarah besar, tetapi juga berani menulis babak baru peradabannya sendiri.

Penulis: Wahyu Nur Rahman. (*)

LAINNYA