
Nur Agnatul Hasanah. (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Bagi beberapa orang tua memilih tempat bimbingan belajar anak adalah pilihan yang tepat, terlebih pendidikan di Indonesia saat ini lebih mendahulukan anak yang pandai ‘membaca dan menulis’ agar memudahkan guru ketika memberikan pengajaran di kelas. Lantas sudahkah langkah tersebut sesuai kebutuhan anak?
Pada kenyataannya, terkadang sebagai orang dewasa belum memahami hak anak dan kebutuhan anak yang sebenarnya seperti apa serta yang bagaimana. Padahal, menurut Jean Piaget (1920) dalam buku “The Child’s Conception of the World”, buku klasik ini membahas bagaimana anak-anak melihat dan membangun pemahaman ihwal dunia di sekitarnya berdasarkan benda konkret.
Artinya, secara konsep, Piaget membahas anak usia dini belajar melalui pengalaman langsung dengan benda konkret alias benda nyata yang bisa dilihat, disentuh, dipegang, didengar, atau dirasakan langsung oleh pancaindra anak. Dari pendapat Piaget ini dapat disimpulkan bahwa anak tumbuh bukan melalui hafalan abstrak ataupun tuntutan baca dan tulis yang biasa di ajarkan oleh tempat bimbingan belajar anak pada umumnya.
Berbeda dengan Piaget yang melihat anak seperti “ilmuwan kecil” yang mengeksplorasi dunianya secada mandiri, Lev Vygotsky percaya anak adalah makhluk sosial. Dalam bukunya “Mind in Society: Development of Higher Psychological Processes”, Vygotsky membeberkan bahwa anak berkembang lewat interaksi sosial dengan pemberian bantuan (scaffolding) yang dilakukan oleh guru ataupun orang tuanya. Teori ini juga terkenal dengan sebutan sociocultural.
Dalam belajar, scaffolding sangat membantu memberikan tahapan kepada anak selama tahap awal pembelajaran, lalu dikurangi secara perlahan seiring anak menjadi mandiri. Secara konsep, dari tahapan scaffolding yang mengharuskan adanya pendampingan membuat anak juga ikut berinteraksi dengan yang membantunya berkembang, di situlah sociocultural menemukan tempatnya.
Terlebih, sebagian besar bimbingan belajar anak yang hanya menyuruh anak duduk diam menghadap meja masing-masing sangat berdampak dan bisa menjadi merugikan anak. Bagi Vygotsky, anak justru lebih cepat berkembang secada kognitif ketika mereka sering diajak untuk berdiskusi, bermain peran, atau belajar bersama temannya (peer tutoring).
Maka dari itu, anak perlu dibimbing lewat lingkungan sosial untuk kebutuhan Kognitif. Anak mengembangkan kemampuan berpikirnya setelah mereka berinteraksi dengan orang lain (orang tua, guru, tutor, atau teman sebaya). Oleh sebab itu, bahasa dan budaya lingkungan yang sehat dan sesuai kebutuhan anak adalah alat utama otaknya untuk berkembang.
Sejalan dengan teori B.F Skinner, dalam tulisannya yang populer Science and Human Behavior (1953), menjelaskan bagaimana perilaku manusia dan anak-anak dibentuk melalui stimulus, respons, serta penguatan (positive & negative reinforcement) di lingkungan belajar. Seharusnya ini menjadi kesadaran bagi orang tua/orang dewasa yang sudah terbentuk logikanya secara keseluruhan, menyadari bahwa memaksakan anak untuk pandai menulis dan membaca lebih cepat, padahal secara domain perkembangan anak belum sepenuhnya terbentuk, dan akan menghambat proses tumbuh kembang anak di masa yang akan datang.
Untuk itu, penulis bertanya dan mengajak diskusi para pemilik dan semua jajaran, kesiapan niat dan tujuan dalam membuat bimbingan belajar ini untuk apa dan bagaimana. Karena memang menghadapi dunia anak harus terkonsep secara matang dan tidak bisa asal-asalan.
Misalnya saja, hal yang harus dipahami bagi pemilik, kepala sekolah, dan tenaga pendidik adalah kebutuhan setiap anak yang dimana tidak lain dan tidak bukan ada pada 7 aspek perkembangan anak. Jika dirincikan yakni motorik kasar, motorik halus, kognitif, bahasa dan komunikasi, sosial dan emosional, kemandirian (menolong diri sendiri), serta moral dan nilai agama. Sudahkah ketujuh hal tersebut terpenuhi?
Mengapa harus memahami 7 aspek tersebut? Karena proses tumbuh kembang manusia bersifat holistik (menyeluruh) dan saling berkaitan. Saat dewasa, anak tidak hanya dituntut untuk cerdas secara akademis. Ketujuh aspek ini mempersiapkan anak agar bisa bertahan hidup, mandiri, dan memiliki empati serta rasa humanisme yang tinggi.
Pada prinsipnya, ketika anak sudah dipaksa ‘pintar’ dalam akademis dan pandai baca-tulis hitung (calistung) sejak dini, akan berdampak pada menurunnya minat belajar anak yang mengakibatkan anak benci belajar. Calistung secara prinsip tidak dilarang, tetapi metode penyampaian kepada anak harus sesuai dengan tahapan usianya, sebab “dunia anak adalah bermain” sejatinya merupakan slogan mutlak.
Pembelajaran calistung untuk anak usia dini wajib disisipkan melalui metode bermain yang menyenangkan (joyful learning). Belajar tidak selalu mengunakan kertas, dan pensil saja, tapi dengan memberikan lingkungan belajar yang terstruktur, melatih kemandirian, serta pentingnya aktivitas fisik untuk menyerap konsep abstrak dari instruksi menjadi contoh nyata pada anak, serta melatih kemandirian dengan konsep dan perintah yang jelas.
Seperti teori Maria Montessori, pada bukunya yang berjudul The Montessori Method, Anak membutuhkan kebebasan memilih aktivitas dalam lingkungan terstruktur, bukan juga kebebasan tanpa batas. Kecerdasan anak bukan hanya pada pandai dalam akademik, tapi juga bisa dari non akademik. Hal ini bisa terlihat dari minat bakat anak sejak usia dini.
Maka dari itu perlu digarisbawahi jika hak anak adalah bermain, dan hak orang dewasa untuk belajar. Belajar memahami kebutuhan anak sesuai usianya. Sepatutnya orang tua dan guru menyadari pentingnya memenuhi 7 aspek perkembangan anak untuk memutus rantai tuntutan/beban pada anak.
Tuntutan pada anak usia dini untuk membaca dan menulis menjadi tidak relevan jika dilihat dari beragam teori yang telah penulis terangkan, jika dipaksakan hal tersebut, lalu bagaimana dengan perkembangan kognitifnya? Moralnya? Motoriknya?
Jadi, bimbingan belajar ini sebenarnya dibuat untuk kebutuhan anak atau untuk memenuhi kecemasan orang dewasa? Hilang sudah masa golden age anak, ketika masanya anak yang seharusnya digunakan untuk bermain, bereksplorasi, bertanya, berimajinasi, memecahkan masalah, dan membangun pikiran kritis, malah justru dipenuhi dengan tuntutan untuk cepat membaca, menulis, dan berhitung.
Jangan sampai bimbingan belajar yang harusnya membantu anak belajar justru menjadi tempat orang dewasa menitipkan ambisinya. Anak tidak membutuhkan tuntutan untuk menjadi yang paling cepat atau paljng pintar. Mereka membutuhkan ruang bagi mereka untuk tumbuh, bermain, dan berkembang sesuai tahapnya. Karena pada akhirnya, yang perlu belajar bukan hanya anak tetapi juga orang dewasa dalam memahami kebutuhan mereka.
Untuk itu penulis mengajak segenap para ayah bunda, guru, kepsek dan para pemilik bimbingan belajar agar terus mengembangkan pengetahuan ihwal anak usia dini. Anak kita bukan cuma seonggok daging hidup, persoalan anak bukan hanya bagaimana anak berkembang secara kognitif, ‘kertas kosong’ itu juga perlu warna lain selain baca-tulis yang membosankan serta bisa mengganggu potensi terbaik anak yang sedang tumbuh dalam masa keemasan (golden age).
Butuh peran serta orang tua, lembaga pendidikan, serta guru yang memadai dalam mengisi canvas putih anak kita. Tanpa bermaksud menggurui, artinya jangan sampai kita melewatkan masa keemasan anak hanya demi ambisi agar anak berkembang secara kognitif, namun tidak memahami potensi lain yang dapat berkembang.
Penulis: Nur Agnatul Hasanah
Mahasiswa dan Pengurus HIMA PG PAUD Universitas Muhammadiyah Tangerang & Guru Sunbright Preschool. (*)