Pengurus Keluarga Mahasiswa Betawi Universitas Muhammadiyah Jakarta (KMB UMJ) bersama sejumlah pihak berfoto usai pelantikan pengurus baru periode 2026–2027. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Dialog Kebudayaan yang membahas penguatan identitas dan peran generasi muda Betawi di tengah arus globalisasi. (Foto: Ist) KOTA TANGSEL | TD — Keluarga Mahasiswa Betawi Universitas Muhammadiyah Jakarta (KMB UMJ) resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2026–2027. Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan Dialog Kebudayaan yang digelar di Aula Ikalum Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Kegiatan mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas, dan Menggerakkan Generasi Betawi di Tengah Arus Globalisasi”. Agenda ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan generasi muda Betawi untuk membahas tantangan pelestarian budaya sekaligus peran mereka di tengah perubahan zaman.
Dialog kebudayaan tidak hanya membahas kebudayaan Betawi secara teoritis. Sejumlah persoalan yang dihadapi generasi muda turut menjadi perhatian, termasuk regenerasi serta minimnya keberanian pemuda Betawi untuk mengambil peran lebih luas di tingkat nasional.
Ketua Umum KMB UMJ, Rafi Putra Rabbani, mengatakan persoalan regenerasi tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi. Menurut dia, masih terdapat keterbatasan ruang kepercayaan yang diberikan generasi senior kepada anak muda untuk berkembang dan mengambil peran.
Namun, Rafi menilai generasi muda juga perlu melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Menurutnya, kesempatan yang tersedia harus diikuti dengan keberanian untuk mengambil langkah strategis dan menghasilkan kontribusi nyata.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta di lapangan. Hari ini, banyak ruang gerak pemuda Betawi yang tergeser karena mayoritas generasi tua belum mau memberikan kepercayaan penuh untuk proses regenerasi. Namun, di sisi lain, kita juga harus mengkritisi diri sendiri: masih sangat jarang pemuda Betawi yang mau mengambil langkah strategis dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia,” ujar Rafi dalam keterangannya. Senin, (5/10/2026).
Karena itu, KMB UMJ mendorong adanya perubahan cara pandang terhadap peran generasi muda Betawi. Pemuda tidak hanya ditempatkan sebagai penerus tradisi, tetapi juga didorong menjadi bagian aktif dalam pembangunan bangsa.
KMB UMJ menilai kebudayaan Betawi tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial, romantisme sejarah, maupun pertunjukan seni. Nilai-nilai kebudayaan juga dapat menjadi landasan bagi generasi muda untuk bergerak di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kebijakan publik.
“Melalui KMB UMJ inilah pemuda dan pemudi Betawi dibentuk, ditempa, dan disiapkan. Kami hadir sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan SDM Betawi yang berpendidikan, adaptif terhadap arus globalisasi, serta berani mengisi posisi-posisi strategis di Republik ini,” tegasnya.
Pelantikan pengurus baru sekaligus menjadi awal bagi KMB UMJ dalam menjalankan berbagai program kerja selama periode 2026–2027. Program tersebut diarahkan pada penguatan literasi, pemberdayaan ekonomi, pengabdian masyarakat, serta pengawalan kebijakan publik yang berkaitan dengan pelestarian budaya Betawi.
Organisasi tersebut juga mendorong terbangunnya hubungan yang lebih kuat antara generasi senior dan generasi muda Betawi. Sinergi antargenerasi dinilai penting agar proses regenerasi berjalan dan potensi anak muda dapat berkembang secara lebih luas.
KMB UMJ mengajak seluruh elemen masyarakat Betawi untuk bersama-sama membuka ruang kolaborasi dan mengurangi sekat antargenerasi. Dengan demikian, generasi muda Betawi diharapkan tidak hanya mampu menjaga identitas budayanya, tetapi juga berkontribusi dalam kehidupan masyarakat di tingkat nasional maupun global. (*)