110 Tahun Mathla’ul Anwar: Dari Warisan Sejarah Menuju Mandat Masa Depan

waktu baca 8 menit
Minggu, 23 Agu 2026 23:35 12 Redaksi

OPINI | TD —.Seratus sepuluh tahun bukanlah rentang waktu yang pendek. Di dalamnya terdapat pergantian zaman, perubahan generasi, dinamika politik, pergulatan sosial, serta transformasi kehidupan masyarakat yang berlangsung begitu cepat.

Bagi Mathla’ul Anwar, 110 tahun bukan sekadar angka yang layak dirayakan. Ia merupakan momentum untuk melakukan refleksi: sejauh mana perjalanan panjang tersebut telah memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara. Lebih dari itu, peringatan satu abad lebih satu dekade ini semestinya menjadi kesempatan untuk merumuskan kembali mandat sejarah yang harus dijawab Mathla’ul Anwar di masa depan.

Mathla’ul Anwar lahir di Menes, Pandeglang, Banten, pada 1916. Organisasi ini didirikan oleh KH Mas Abdurrahman bersama para ulama Banten dengan orientasi utama pada pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.

Kelahirannya berlangsung dalam suasana kolonial, ketika keterbatasan akses pendidikan dan rendahnya pengetahuan menjadi persoalan besar masyarakat. Karena itu, keputusan para pendiri menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan memiliki makna yang sangat strategis.

Mereka memahami bahwa membebaskan manusia dari kebodohan merupakan bagian penting dari perjuangan membangun kemerdekaan.

Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan kebangsaan tidak hanya berlangsung melalui perlawanan fisik. Perjuangan juga tumbuh melalui pendidikan, dakwah, pesantren, madrasah, organisasi sosial, serta pembentukan kesadaran masyarakat.

Dalam konteks itulah Mathla’ul Anwar perlu ditempatkan.

Ketika negara Indonesia bahkan belum lahir, para ulama telah memikirkan bagaimana masyarakat dapat memperoleh pendidikan. Mendirikan lembaga pendidikan pada masa itu bukan pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan keberanian, ketekunan, pengorbanan, dan visi yang melampaui zamannya.

Mathla’ul Anwar kemudian berkembang dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah. Gagasan pendidikan itu juga terus dikembangkan hingga tingkat perguruan tinggi melalui Universitas Mathla’ul Anwar.

Di sinilah salah satu kontribusi fundamental Mathla’ul Anwar terhadap bangsa dapat dilihat: mendidik manusia berarti mempersiapkan masa depan bangsa.

Sekolah dan madrasah bukan sekadar bangunan fisik. Di dalamnya berlangsung proses transformasi manusia: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak sadar menjadi sadar, dari tidak memiliki keterampilan menjadi mampu, serta dari sekadar menjadi individu menjadi warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial.

Karena itu, kontribusi organisasi keumatan terhadap bangsa tidak selalu harus diukur dari keterlibatannya dalam politik kekuasaan.

Sering kali kontribusi yang paling mendasar justru berlangsung dalam kesunyian: seorang guru yang mengajar, seorang ulama yang berdakwah, pengelola madrasah yang bertahan dalam keterbatasan, atau kader yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat.

Di sanalah sejarah bangsa sesungguhnya dibangun.

Organisasi Keumatan sebagai Kekuatan Masyarakat Sipil

Indonesia tidak hanya dibangun oleh negara. Indonesia juga dibangun oleh masyarakat. Di antara kekuatan masyarakat sipil yang memiliki kontribusi penting adalah organisasi-organisasi keumatan yang telah hadir jauh sebelum negara memiliki kapasitas pembangunan seperti sekarang.

Organisasi keumatan membangun sekolah ketika negara belum mampu menjangkau seluruh masyarakat. Mendirikan rumah ibadah ketika fasilitas publik masih terbatas. Mengembangkan dakwah ketika literasi keagamaan masyarakat masih rendah. Membantu masyarakat yang membutuhkan ketika sistem perlindungan sosial belum berkembang seperti sekarang.

Dengan demikian, organisasi keumatan sesungguhnya merupakan bagian dari infrastruktur sosial bangsa. Mathla’ul Anwar adalah salah satu bagian penting dari sejarah tersebut.

Berbagai kajian mengenai kontribusi Mathla’ul Anwar di bidang pendidikan menunjukkan berkembangnya lembaga pendidikan dasar dan menengah, perguruan tinggi, penyiapan tenaga pendidik, serta penguatan nilai ketakwaan, karakter, moral, disiplin, kepedulian sosial, dan pemikiran yang moderat serta rasional.

Artinya, kontribusi organisasi keumatan tidak berhenti pada transfer ilmu pengetahuan. Bangsa yang besar tidak cukup hanya membutuhkan manusia yang cerdas. Bangsa juga membutuhkan manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Islam dan Kebangsaan

Salah satu kontribusi penting organisasi keumatan adalah mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan kebutuhan kehidupan kebangsaan.

Islam tidak hadir untuk menjauhkan manusia dari persoalan dunia. Islam justru memberikan nilai agar kehidupan berjalan dalam prinsip keadilan, kejujuran, amanah, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itu, keberagamaan yang sehat semestinya melahirkan kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial.

Masjid melahirkan ketakwaan. Sekolah melahirkan kecerdasan. Dakwah melahirkan kesadaran. Gerakan sosial melahirkan kepedulian. Kesemuanya bermuara pada satu tujuan: kemaslahatan.

Dalam kerangka itulah organisasi keumatan memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan. Ia bukan negara, tetapi dapat menjadi mitra kritis negara. Ia tidak harus menjadi bagian dari kekuasaan, tetapi dapat memberikan kontribusi agar kebijakan kekuasaan tetap berada dalam koridor kepentingan rakyat.

Organisasi keumatan idealnya menjadi kekuatan moral yang mampu menyampaikan kebenaran kepada siapa pun, termasuk kepada kekuasaan.

Bukan oposisi permanen, bukan pula pendukung kekuasaan secara membabi buta. Posisi yang lebih produktif adalah menjadi kekuatan masyarakat yang kritis, konstruktif, dan independen.

Jangan Terjebak Romantisme Sejarah

Ada satu hal penting yang perlu direnungkan dalam setiap peringatan organisasi yang telah berusia panjang: usia tidak otomatis menunjukkan keberhasilan.

Usia hanya menunjukkan bahwa sebuah organisasi mampu bertahan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang telah dihasilkan dari usia tersebut?

Apakah semakin banyak manusia yang tercerahkan? Apakah pendidikan semakin berkualitas? Apakah kader semakin berintegritas? Apakah masyarakat semakin mandiri? Apakah dakwah semakin mencerdaskan? Apakah organisasi semakin mampu memberikan solusi terhadap persoalan bangsa?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena organisasi yang telah berusia 110 tahun tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah.

Sejarah adalah sumber inspirasi, bukan tempat bersembunyi.

Kebesaran para pendiri justru harus menjadi alasan bagi generasi penerus untuk bekerja lebih keras, bukan sekadar mengulang cerita tentang kebesaran masa lalu.

Mandat Masa Depan

Tantangan Mathla’ul Anwar hari ini tentu berbeda dengan tantangan ketika organisasi tersebut didirikan.

Dahulu, tantangannya adalah keterbelakangan pendidikan, kolonialisme, dan rendahnya akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Kini, tantangannya jauh lebih kompleks: disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola komunikasi generasi muda, krisis moral, ketimpangan ekonomi, persoalan lingkungan, perubahan geopolitik, kompetisi global dalam bidang sumber daya manusia, hingga banjir informasi yang tidak selalu identik dengan kebenaran.

Karena itu, Mathla’ul Anwar membutuhkan agenda baru tanpa kehilangan akar perjuangannya.

Jika dahulu kata kuncinya adalah mencerdaskan umat, maka hari ini harus ditingkatkan menjadi membangun manusia unggul yang beriman, berilmu, berkarakter, produktif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Jika dahulu dakwah terutama dilakukan melalui mimbar, masjid, madrasah, dan majelis taklim, maka kini dakwah juga harus mampu hadir di ruang digital tanpa kehilangan kedalaman substansinya.

Jika dahulu gerakan sosial banyak berorientasi pada pelayanan dan bantuan, maka ke depan harus diperkuat menuju pemberdayaan.

Umat tidak cukup hanya diberi bantuan. Umat harus diberi kemampuan untuk bangkit dan berdiri secara mandiri.

Dari Charity Menuju Empowerment

Salah satu agenda penting organisasi keumatan ke depan adalah mengubah paradigma pelayanan sosial dari charity menuju empowerment, dari sekadar memberikan bantuan menuju membangun kemampuan.

Masyarakat yang berada dalam kondisi sulit tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek bantuan. Mereka harus diposisikan sebagai subjek pembangunan.

Karena itu, organisasi keumatan perlu membangun ekosistem ekonomi umat melalui pendidikan kewirausahaan, koperasi, pembiayaan syariah, pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, digitalisasi usaha, hingga penguatan jaringan pasar.

Di sinilah pendidikan, dakwah, dan gerakan sosial dapat menemukan bentuk baru.

Pendidikan memberikan kompetensi. Dakwah memberikan etika. Ekonomi memberikan kemandirian. Gerakan sosial memberikan keberpihakan.

Keempatnya dapat dipadukan menjadi sebuah ekosistem pemberdayaan umat.

Kaderisasi adalah Investasi Terpenting

Ada satu agenda lain yang tidak boleh ditinggalkan: kaderisasi.

Organisasi yang telah berusia 110 tahun harus berani bertanya dengan jujur: siapa yang akan melanjutkan perjuangan 20, 30, atau 50 tahun mendatang?

Kaderisasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai perekrutan anggota. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia yang memiliki ideologi organisasi, wawasan keislaman, kecakapan profesional, kepemimpinan, integritas, dan komitmen kebangsaan.

Mathla’ul Anwar membutuhkan generasi yang mampu menjadi ulama sekaligus intelektual; pendidik sekaligus profesional; aktivis sosial sekaligus entrepreneur; serta pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kemampuan membaca perubahan zaman.

Kader semacam inilah yang akan menentukan apakah usia 110 tahun menjadi penutup sebuah kejayaan masa lalu atau justru awal dari kebangkitan baru.

Menjaga Independensi dari Kekuasaan

Organisasi keumatan juga perlu menjaga jarak yang sehat dengan politik kekuasaan.

Kader-kader organisasi tentu memiliki hak politik. Mereka dapat menjadi anggota legislatif, eksekutif, birokrat, akademisi, pengusaha, maupun menjalani berbagai profesi lainnya.

Namun organisasi harus tetap memiliki independensi moral.

Ketika terlalu dekat dengan kekuasaan, organisasi berisiko kehilangan daya kritisnya. Sebaliknya, ketika terlalu jauh dari kekuasaan, organisasi dapat kehilangan kesempatan untuk berkontribusi dalam proses pengambilan kebijakan publik.

Karena itu, posisi yang lebih produktif adalah independen tetapi komunikatif; kritis tetapi konstruktif; dekat dengan rakyat sekaligus mampu berdialog dengan kekuasaan.

Inilah salah satu bentuk kedewasaan organisasi keumatan dalam negara demokrasi.

110 Tahun, dari Menes untuk Indonesia

Mathla’ul Anwar bermula dari Menes. Dari sebuah wilayah di Banten, para ulama menyalakan cahaya pendidikan dan dakwah. Cahaya tersebut kemudian bergerak melampaui batas geografis Banten dan menjadi bagian dari perjalanan kehidupan umat serta bangsa Indonesia.

Setelah 110 tahun, pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi apakah Mathla’ul Anwar memiliki sejarah.

Sejarah itu sudah ada.

Pertanyaan kita adalah: apa yang akan dilakukan Mathla’ul Anwar dengan sejarah tersebut?

Apakah sejarah akan menjadi museum kebanggaan? Ataukah sejarah akan menjadi energi untuk melahirkan lompatan baru?

Pilihan kedua adalah mandat zaman.

Organisasi yang lahir dari perjuangan para ulama tidak boleh hanya menjadi pewaris nama. Ia harus menjadi pewaris cita-cita.

Cita-cita itu adalah mencerdaskan umat, membangun akhlak, memperkuat kemandirian masyarakat, menjaga persatuan bangsa, dan menghadirkan kemaslahatan.

Karena itu, 110 tahun Mathla’ul Anwar seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui tekad: dari pendidikan menuju keunggulan, dari dakwah menuju pencerahan, dari pelayanan menuju pemberdayaan, dan dari sejarah menuju masa depan.

Indonesia hari ini membutuhkan organisasi keumatan yang tidak sekadar hadir dalam hiruk-pikuk sosial dan politik, tetapi mampu menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang memberikan arah.

Di tengah dunia yang berubah cepat, bangsa ini membutuhkan lebih banyak institusi yang mampu mempertemukan iman dan ilmu, moralitas dan profesionalitas, keislaman dan kebangsaan.

Mathla’ul Anwar memiliki modal sejarah untuk mengambil peran tersebut.

Seratus sepuluh tahun adalah bukti bahwa cahaya itu pernah dinyalakan. Kini tugas generasi penerus adalah memastikan cahaya tersebut tidak hanya tetap menyala, tetapi semakin terang: menerangi umat, mencerdaskan bangsa, memperkuat Indonesia, dan memberikan manfaat bagi kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, umur panjang sebuah organisasi bukanlah ukuran utama kebesarannya.

Ukuran yang lebih hakiki adalah seberapa besar kemaslahatan yang mampu diwariskannya kepada generasi yang akan datang.

Penulis: Zaenal Abidin Syuja’i,
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Bidang Pendidikan. (*)

LAINNYA