Menemukan Kekuatan dari Dalam, Buku Ini Mengajak Perempuan Mengenali Diri dan Makna Hidup

waktu baca 3 menit
Kamis, 1 Okt 2026 19:50 34 Redaksi

BUKU | TD — Di tengah tuntutan untuk selalu kuat, mandiri, dan mampu menjalankan banyak peran, perempuan kerap lupa bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari kemampuan menghadapi segala sesuatu seorang diri. Ada kekuatan yang tumbuh ketika seseorang berani mengenali dirinya, memahami nilai yang dimiliki, dan menemukan makna di balik pengalaman hidup. Gagasan inilah yang menjadi benang merah buku Perempuan, Spiritualitas, dan Pemberdayaan: Menemukan Kekuatan dalam Diri Sendiri, yang diterbitkan PT Insight Pustaka Nusa Utama pada Agustus 2026.

Buku kolaboratif karya empat akademisi perempuan tersebut membahas pengalaman perempuan, spiritualitas, identitas diri, ketahanan, serta proses pemberdayaan di tengah berbagai tantangan kehidupan. Pembahasannya tidak semata melihat pemberdayaan dari pencapaian yang tampak, tetapi juga dari proses yang berlangsung di dalam diri.

Pendidikan, pekerjaan, karier, dan keberhasilan ekonomi tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pemberdayaan. Namun, buku ini memperluas maknanya dengan mengajak perempuan mengenali siapa dirinya, menghargai nilai dirinya, serta memiliki kesadaran dalam menentukan pilihan dan menjalani kehidupannya.

Keempat penulis memiliki latar belakang akademik dan keilmuan yang beragam. Maya Djawa, Ph.D. merupakan dosen pada bidang Teologi. Dr. Maria Patricia Tjasmadi merupakan akademisi di bidang terkait Pancasila dan kajian sosial. Dr. Nini Adelina Tanamal merupakan dosen dengan bidang keilmuan pendidikan dan sosial. Sementara itu, Dr. Kristina Nurhayati, M.IKom. merupakan akademisi di bidang Ilmu Komunikasi.

Dr. Kristina Nurhayati, M.IKom., salah satu penulis buku Perempuan, Spiritualitas, dan Pemberdayaan: Menemukan Kekuatan dalam Diri Sendiri. (Foto: Dok. Pribadi untuk TangerangDaily)

Keragaman latar belakang tersebut memberi warna pada pembahasan buku. Gagasan yang disajikan bergerak dari persoalan perempuan dan spiritualitas dalam masyarakat modern, tantangan di era digital, proses menemukan kekuatan dalam diri, praktik spiritual, pentingnya komunitas yang mendukung, hingga kemampuan bertahan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Salah satu bagian reflektif yang ditulis Dr. Kristina Nurhayati, M.IKom., mengajak pembaca berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang diri: Siapa saya? Apa nilai diri saya? Apa tujuan hidup saya? Apa yang benar-benar saya perjuangkan?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi berbagai tuntutan dan penilaian dari luar. Di tengah kesibukan menjalankan peran dalam keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan sosial, seseorang dapat kehilangan ruang untuk memahami dirinya sendiri.

Dalam konteks itulah spiritualitas memperoleh tempat penting dalam buku ini. Spiritualitas tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari proses manusia dalam menghadapi pengalaman hidup, menemukan makna, dan menjaga harapan.

Kehilangan, kekecewaan, kegagalan, dan luka merupakan pengalaman yang tidak selalu dapat dihindari. Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk belajar menerima, mengampuni, memahami diri, dan menemukan kembali alasan untuk melangkah.

Buku ini juga melihat perempuan sebagai individu yang menjalani berbagai peran secara bersamaan. Tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, dan komunitas sering kali berjalan beriringan. Karena itu, pemberdayaan juga berkaitan dengan kemampuan menjaga keseimbangan antara memberikan perhatian kepada orang lain dan merawat diri sendiri.

Pembahasan mengenai ketahanan diri atau resiliensi memperkuat perspektif tersebut. Menjadi kuat tidak berarti terbebas dari kesedihan, kegagalan, atau kelemahan. Ketahanan justru dapat tumbuh dari kemampuan untuk bangkit, belajar dari pengalaman, dan beradaptasi ketika menghadapi keadaan yang tidak mudah.

Melalui perspektif empat penulis, Perempuan, Spiritualitas, dan Pemberdayaan: Menemukan Kekuatan dalam Diri Sendiri menghadirkan ruang refleksi tentang hubungan antara perempuan, spiritualitas, identitas, dan pemberdayaan.

Buku ini pada akhirnya mengajak pembaca memahami bahwa keberdayaan tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dicapai di luar diri. Ada perjalanan yang lebih sunyi, tetapi tidak kalah penting: mengenali diri, memahami nilai diri, berdamai dengan pengalaman, dan menemukan makna dalam perjalanan hidup.

Dari sanalah kekuatan dapat tumbuh. Bukan karena seseorang tidak pernah jatuh, melainkan karena ia mampu memahami pengalaman, bangkit, dan terus bertumbuh dengan kesadaran yang lebih utuh. (Red)

LAINNYA