Melampaui Kuasa Teori: Jangan Meniru Sebelum Kontekstualisasi dan Pengujian

waktu baca 11 menit
Kamis, 1 Okt 2026 06:36 34 Redaksi

OPINI | TD — Ada satu pernyataan dalam sebuah diskusi bedah buku di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Rabu (30/9), yang membuat saya kembali memikirkan posisi teori dalam membaca realitas komunikasi. Seorang narasumber mengatakan bahwa teori-teori komunikasi yang dibahas Em Griffin tidak semuanya dapat diterapkan begitu saja pada masyarakat Indonesia. Salah satu alasannya sederhana: banyak teori tersebut lahir dari pengalaman akademik dan sosial Amerika Serikat, sementara Indonesia memiliki sejarah, kebudayaan, struktur sosial, serta kebiasaan komunikasi yang berbeda.

Bagi sebagian orang, pernyataan itu mungkin terdengar seperti persoalan akademik yang hanya penting bagi mahasiswa komunikasi. Bagi saya, persoalan ini jauh lebih mendasar karena menyentuh pertanyaan tentang bagaimana kita memahami kenyataan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya kita terus menggunakan semacam “teori”, meskipun tidak selalu menyebutnya demikian. Kita memiliki cara tertentu untuk menjelaskan mengapa seseorang marah, mengapa kelompok tertentu bertindak dengan cara tertentu, mengapa sebuah berita dipercaya, mengapa simbol tertentu dianggap penting, atau mengapa suatu perilaku dipandang wajar.

Masalahnya, kita sering lupa bahwa cara melihat tersebut tidak sepenuhnya netral.

Kita melihat dunia melalui kacamata tertentu.

Dan teori adalah salah satu bentuk kacamata itu.

Ketika Kacamata Menentukan Apa yang Kita Sebut Kenyataan

Bayangkan seseorang memakai kacamata berwarna biru sepanjang hidupnya. Ketika melihat dunia, ia akan melihat banyak hal dalam nuansa biru. Jika suatu hari ada orang mengatakan bahwa dunia sebenarnya tidak berwarna biru, ia mungkin justru menganggap orang itu keliru.

Padahal persoalannya mungkin sederhana: yang berwarna bukan dunianya, melainkan kacamatanya.

Begitu pula teori.

Teori membantu kita melihat sesuatu. Ia menyediakan konsep, kategori, dan kerangka tertentu untuk memahami realitas. Karena itu, teori penting dalam ilmu pengetahuan. Tanpa teori, penelitian mudah kehilangan arah dan hanya menjadi kumpulan pengamatan yang tidak terhubung.

Namun, teori bukanlah realitas itu sendiri.

Persoalan muncul ketika kita mulai menganggap bahwa apa yang mampu dilihat oleh teori merupakan keseluruhan kenyataan. Pada titik itu, teori tidak lagi sekadar menjadi alat bantu memahami realitas, tetapi mulai menentukan bagian mana dari realitas yang dianggap penting, mana yang diabaikan, dan mana yang bahkan tidak terlihat.

Di sinilah teori dapat memiliki “kuasa”.

Bukan karena teori memaksa kita secara langsung, melainkan karena teori membentuk cara kita memandang objek yang sedang kita teliti.

Teks Tidak Pernah Berhenti pada Apa yang Tertulis

Saya teringat sebuah skema pembacaan dalam materi tentang Serat Centhini yang memperlihatkan tiga tahapan: Naskah → Discourse → Ideologi.

Skema tersebut tampak sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang cukup dalam.

Ketika membaca sebuah naskah, kita mungkin mengira bahwa tugas kita hanya memahami apa yang tertulis. Padahal pembacaan tidak pernah berhenti pada teks semata. Sebuah teks dapat menjadi bagian dari diskursus: dibaca, ditafsirkan, dibicarakan, ditempatkan dalam konteks tertentu, lalu berhubungan dengan cara masyarakat memahami sesuatu.

Dari sana kita dapat melihat bagaimana ideologi bekerja sebagai seperangkat gagasan dan cara pandang yang ikut menentukan sesuatu dipahami sebagai normal, benar, wajar, atau sebaliknya.

Dengan demikian, membaca bukan sekadar mencari arti dari apa yang tertulis.

Membaca juga berarti melihat bagaimana arti itu dibentuk.

Pertanyaannya tidak berhenti pada “apa yang dikatakan?”, tetapi bergerak menjadi “mengapa dikatakan seperti itu?”, “dalam konteks apa?”, “siapa yang menentukan maknanya?”, dan “mengapa makna tersebut kemudian dianggap benar?”

Pertanyaan semacam itu membawa kita dari sekadar membaca teks menuju membaca cara kerja makna.

Ketika Makna Menjelma Menjadi Kebenaran

Skema lain yang saya temukan memperlihatkan perjalanan Acuan → Denotasi → Tanda/Makna → Konotasi → Mitos → Rezim Kebenaran.

Secara sederhana, sesuatu yang kita lihat memiliki makna awal yang tampak. Namun, makna tersebut dapat berkembang melalui pengalaman sosial, kebudayaan, sejarah, dan kebiasaan.

Sebuah benda, misalnya, tidak selalu berhenti pada arti bendanya.

Pakaian tertentu dapat menjadi simbol status. Rumah tertentu dapat dibaca sebagai tanda keberhasilan. Gaya bicara tertentu dapat dianggap menunjukkan tingkat pendidikan. Bahkan sebuah kata dapat memiliki makna yang jauh lebih besar daripada pengertian yang tercantum dalam kamus.

Ketika makna semacam itu terus diproduksi dan diulang, ia lama-kelamaan terasa alamiah. Kita tidak lagi bertanya mengapa sesuatu dimaknai dengan cara tertentu. Kita cukup mengatakan, “Memang begitulah kenyataannya.”

Di titik inilah pemikiran Roland Barthes tentang mitos menjadi relevan.

Mitos, dalam pemikiran Barthes, bukan sekadar cerita khayalan. Mitos dapat bekerja ketika sesuatu yang sebenarnya dibentuk oleh sejarah dan kebudayaan tampil seolah-olah alamiah, objektif, dan memang sudah sewajarnya demikian.

Lalu bagaimana jika pola yang sama terjadi pada teori?

Saat Teori Mulai Menyembunyikan Konteks Kelahirannya

Sebuah teori pada awalnya selalu lahir dari konteks tertentu. Ada persoalan yang hendak dijawab, masyarakat yang diamati, tradisi keilmuan yang digunakan, asumsi yang dibangun, serta sejarah intelektual yang melatarbelakanginya.

Namun, setelah teori masuk ke buku teks, ruang kelas, jurnal, dan penelitian, konteks kelahirannya kadang perlahan menghilang dari ingatan kita.

Yang tersisa hanya satu kalimat sederhana:

“Ini teori komunikasi.”

Kita kemudian lupa bertanya: teori ini lahir dari pengalaman siapa?

Ketika konteks tersebut hilang, teori yang sesungguhnya memiliki sejarah dapat terlihat seperti kebenaran universal. Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Bukan berarti teori tersebut salah. Bukan pula berarti teori yang berasal dari Amerika tidak dapat digunakan di Indonesia. Persoalannya adalah anggapan bahwa teori tertentu pasti berlaku dengan cara yang sama di semua tempat hanya karena teori tersebut telah memperoleh legitimasi akademik.

Dalam ilmu komunikasi, konteks bukan sekadar latar belakang. Konteks dapat memengaruhi bagaimana pesan diproduksi, diterima, ditafsirkan, dinegosiasikan, bahkan dipertentangkan.

Karena itu, membawa teori dari satu masyarakat ke masyarakat lain seharusnya tidak dilakukan seperti memindahkan barang dari satu rak ke rak lainnya.

Ada proses yang harus dilewati: kontekstualisasi dan pengujian.

Jangan Jadikan Indonesia Sekadar Laboratorium Teori

Menurut saya, di sinilah persoalan menjadi lebih serius.

Masyarakat Indonesia jangan hanya ditempatkan sebagai objek penerapan teori. Jika sebuah teori lahir di Amerika, kemudian dibawa ke Indonesia, lalu masyarakat Indonesia hanya dijadikan tempat untuk membuktikan apakah teori tersebut bekerja, maka tanpa disadari kita telah menempatkan teori sebagai pusat dan realitas sebagai objek.

Padahal hubungan antara teori dan realitas seharusnya berlangsung dua arah.

Teori membaca realitas.

Tetapi realitas juga harus diberi kesempatan untuk “membaca balik” teori.

Ketika teori tidak mampu menjelaskan suatu fenomena, kita tidak harus buru-buru menyimpulkan bahwa masyarakatnya terlalu unik, terlalu berbeda, atau tidak sesuai dengan teori. Bisa jadi justru ada sesuatu dalam teori tersebut yang perlu dipertanyakan.

Di situlah penelitian menjadi menarik.

Ketidaksesuaian antara teori dan realitas bukan selalu kegagalan penelitian. Dalam kondisi tertentu, ketidaksesuaian itu justru dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan keterbatasan teori, menemukan konteks baru, atau bahkan mengembangkan konsep yang lebih relevan.

Ketika Realitas Menolak Masuk ke dalam Kotak

Bayangkan kita memiliki sebuah kotak. Kemudian kita menemukan benda yang ukurannya lebih besar daripada kotak tersebut.

Ada dua pilihan.

Kita dapat memotong benda itu agar masuk ke dalam kotak.

Atau kita bertanya: jangan-jangan kotaknya yang terlalu kecil?

Dalam penelitian, “kotak” itu dapat kita ibaratkan sebagai teori. Sementara data dan kenyataan empiris merupakan benda yang hendak kita pahami.

Jika data tidak sesuai dengan teori, kita sering tergoda melakukan berbagai penyesuaian agar semuanya terlihat cocok. Kita memilih data tertentu, mengabaikan bagian yang mengganggu, atau memaksakan interpretasi agar kesimpulan tetap sesuai dengan kerangka yang sejak awal sudah kita yakini.

Padahal ketidaksesuaian itu bisa menjadi temuan yang sangat berharga.

Ia dapat menunjukkan keterbatasan teori. Ia dapat memperlihatkan adanya konteks sosial yang berbeda. Bahkan, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, anomali dapat membuka ruang bagi pertanyaan dan penjelasan baru.

Karena itu, anomali tidak selalu merupakan masalah yang harus disembunyikan.

Kadang-kadang, justru anomali itulah yang membuat ilmu pengetahuan bergerak.

Kita Membentuk Makna, Lalu Makna Membentuk Kita

Di sinilah gagasan Barthes tentang hubungan timbal balik antara manusia dan realitas simbolik menjadi menarik.

Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa manusia membentuk dunia melalui makna, tetapi dunia makna yang telah dibentuk itu kemudian ikut membentuk cara manusia melihat dunia.

Kita menciptakan simbol. Kita memberi simbol makna. Makna tersebut kita ulang dalam komunikasi sehari-hari. Lama-kelamaan ia menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian memengaruhi cara kita berpikir.

Hal yang sama dapat terjadi pada teori.

Kita menggunakan teori untuk membaca masyarakat. Tetapi setelah bertahun-tahun belajar menggunakan teori tertentu, teori tersebut pada akhirnya ikut membentuk cara kita melihat masyarakat.

Kita bukan lagi sekadar menggunakan teori.

Kita mulai berpikir melalui teori.

Pada titik itu, ada satu pertanyaan yang menurut saya penting bagi siapa pun yang melakukan penelitian komunikasi:

Apa yang tidak saya lihat karena teori yang saya gunakan?

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi justru dapat menjadi bentuk kewaspadaan epistemologis. Sebab setiap kerangka teori sekaligus membuka dan menutup kemungkinan tertentu. Ia membantu kita melihat sesuatu, tetapi pada saat yang sama dapat membuat kita luput melihat hal lain.

Membaca Bukan Sekadar Melihat, tetapi Membongkar

Dalam materi yang saya baca, terdapat pula koordinat mengenai berbagai cara membaca: harafiah, hermeneutik, fetis, strategis, hingga ideologis.

Saya melihatnya bukan sebagai tingkatan yang harus diperlakukan secara kaku, melainkan sebagai pengingat bahwa membaca dapat dilakukan dengan kedalaman yang berbeda.

Membaca secara harafiah membantu kita memahami apa yang tertulis. Namun membaca lebih jauh mengajak kita melihat konteks, simbol, kepentingan, strategi, hingga ideologi yang mungkin bekerja di balik sebuah teks.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan semacam ini menjadi semakin penting.

Ketika membaca berita, misalnya, kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”

Kita juga dapat bertanya: siapa yang diberi ruang untuk berbicara? Siapa yang tidak terdengar? Kata-kata apa yang digunakan? Mengapa judulnya dibuat seperti itu? Sudut pandang siapa yang menjadi pusat pemberitaan?

Sebagai orang yang bergelut di ruang redaksi, pertanyaan semacam ini menjadi semakin penting. Sebab berita tidak hanya terdiri atas fakta yang dikumpulkan, tetapi juga pilihan: fakta mana yang ditempatkan di awal, kutipan siapa yang dipilih, istilah apa yang digunakan, dan konteks apa yang dimasukkan atau ditinggalkan.

Begitu pula ketika melihat iklan.

Kita tidak hanya bertanya, “Produk apa yang dijual?”

Kita juga dapat bertanya, “Gaya hidup seperti apa yang sedang dijual bersama produk itu?”

Sebab sering kali yang dijual bukan hanya barang.

Yang dijual adalah makna.

Jika Teori Tidak Lagi Bertanya kepada Realitas

Jawabannya bukan membuang teori.

Justru sebaliknya, kita perlu membaca teori dengan lebih serius.

Membaca teori berarti memahami bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga dari mana teori itu berasal, persoalan apa yang ingin dijawab, asumsi apa yang digunakan, masyarakat seperti apa yang menjadi konteks kelahirannya, dan bagaimana teori tersebut telah diuji dalam konteks yang berbeda.

Setelah itu, barulah teori kita bawa berhadapan dengan realitas.

Jika cocok, kita gunakan.

Jika sebagian cocok, kita kontekstualisasikan.

Jika tidak cocok, kita pertanyakan.

Dan jika ketidaksesuaian tersebut menghasilkan temuan baru, kita tidak perlu takut mengakuinya.

Sebab ilmu pengetahuan tidak seharusnya menjadi museum yang hanya menyimpan teori-teori lama. Ilmu pengetahuan harus menjadi ruang tempat teori dan kenyataan terus berdialog.

Dari Penghafal Teori Menjadi Penguji Pengetahuan

Bagi saya, inilah salah satu tantangan penting bagi mahasiswa komunikasi hari ini.

Kita jangan hanya menjadi konsumen teori.

Kita perlu menjadi pembaca teori yang kritis.

Lebih jauh lagi, kita perlu memiliki keberanian untuk menjadi produsen pengetahuan.

Artinya, kita tidak hanya bertanya, “Teori apa yang cocok dengan penelitian saya?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang terjadi pada teori ketika ia bertemu dengan realitas yang saya teliti?”

Pertanyaan itu mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi berdiri sepenuhnya di bawah teori. Kita berdiri di antara teori dan realitas. Teori menjadi bekal untuk membaca, bukan pagar yang membatasi apa yang boleh kita lihat.

Di sinilah mahasiswa pascasarjana seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengutip teori. Tantangannya adalah memahami bagaimana teori bekerja, di mana batasnya, dan kapan realitas menuntut kita untuk mempertanyakan asumsi yang selama ini diterima.

Melampaui Teori Tanpa Harus Menolaknya

Pada akhirnya, saya kira kita tidak perlu memilih antara “percaya teori” atau “menolak teori”.

Ada jalan ketiga: menggunakan teori secara kritis.

Kita dapat belajar dari pemikiran Em Griffin tanpa menganggap seluruh teorinya berlaku otomatis untuk setiap masyarakat. Kita dapat membaca Barthes tanpa mengubahnya menjadi dogma baru. Kita dapat menggunakan teori-teori Barat tanpa kehilangan kemampuan membaca konteks Indonesia.

Dan kita dapat menghargai pengetahuan yang telah dibangun sebelumnya sambil tetap membuka kemungkinan lahirnya pengetahuan baru.

Sebab teori adalah alat.

Dan alat yang baik bukanlah alat yang harus selalu kita ikuti.

Alat yang baik adalah alat yang membantu kita melihat sesuatu dengan lebih jelas.

Jika ternyata alat tersebut tidak cukup untuk membaca kenyataan yang kita hadapi, tugas kita bukan memaksa kenyataan agar sesuai dengan alat.

Tugas kita adalah memperbaiki alatnya.

Mungkin inilah makna sebenarnya dari melampaui kuasa teori.

Bukan anti-teori. Bukan pula anti-Barat. Bukan menolak pengetahuan yang sudah ada.

Melainkan menolak berhenti berpikir hanya karena sebuah teori sudah mengatakan sesuatu kepada kita.

Sebab pada akhirnya, teori seharusnya membantu kita membaca dunia—bukan menentukan dunia seperti apa yang boleh kita lihat.

Penulis: Mohamad Romli, Redaktur TangerangDaily, Mahasiswa Magister Komunikasi Budi Luhur University. (*)

LAINNYA