Kurikulum Akhir Kehidupan Manusia: Apa yang Kita Bawa Saat Kematian Datang?

waktu baca 6 menit
Jumat, 28 Agu 2026 21:05 38 Nazwa

OPINI | TD — Setiap manusia sesungguhnya sedang menjalani sebuah kurikulum kehidupan. Setiap hari kita belajar melalui pengalaman, mengambil keputusan, menghadapi ujian, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan menentukan arah perjalanan hidup.

Namun, tidak semua orang menjalani kurikulum kehidupannya dengan konsisten. Ada kalanya kita menyimpang dari nilai-nilai yang kita yakini. Kita terjebak dalam kesalahan, kebohongan, kesombongan, bahkan kemunafikan terhadap diri sendiri. Kita mengetahui mana yang benar, tetapi memilih yang salah. Kita memahami bahwa kehidupan memiliki tujuan, tetapi terlalu sering larut dalam kesibukan dunia.

Padahal, kehidupan bukan sekadar perjalanan untuk mencapai kesuksesan duniawi. Kehidupan adalah amanah sekaligus persiapan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Pertanyaannya kemudian: ketika kematian datang, apa yang akan kita bawa?

Kematian, Kepastian yang Tidak Bisa Ditunda

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 185:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

Ayat ini menegaskan sebuah kepastian yang tidak dapat ditawar oleh siapa pun. Kematian akan datang kepada setiap manusia, tanpa memandang usia, status sosial, pangkat, jabatan, kekayaan, maupun popularitas.

Kematian tidak mengenal pejabat atau rakyat biasa. Tidak membedakan orang kaya dan miskin. Tidak peduli apakah seseorang terkenal atau tidak dikenal.

Yang menjadi persoalan bukanlah apakah kita akan mati, karena jawabannya pasti. Persoalannya adalah bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi kematian yang waktunya tidak pernah kita ketahui.

Sering kali manusia sibuk mempersiapkan berbagai hal untuk kehidupan dunia. Kita mempersiapkan pendidikan, pekerjaan, rumah, kendaraan, tabungan, investasi, bahkan masa depan anak-anak. Semua itu penting.

Tetapi sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia?

Ketika Jabatan dan Nama Tidak Lagi Berarti

Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga akan mengurus jasadnya. Ia dimandikan, dikafani, disalatkan, kemudian diantarkan ke pemakaman.

Pada saat itu, gelar akademik tidak lagi disebut. Jabatan tidak lagi melekat. Kekayaan tidak ikut masuk ke dalam liang kubur. Popularitas tidak memberikan keistimewaan.

Manusia yang selama hidup begitu bangga dengan identitas duniawinya, pada akhirnya disebut sebagai jenazah, kemudian mayit.

Kita mungkin memiliki nama besar ketika hidup. Tetapi setelah kematian, dunia perlahan berhenti mengabsen nama kita.

Kantor tetap berjalan tanpa kita. Usaha tetap berputar. Masyarakat kembali sibuk. Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang meninggal.

Bahkan, kesedihan orang-orang yang ditinggalkan pun perlahan berubah menjadi kenangan.

Kawan-kawan di tempat kerja akan berduka. Tetangga akan menyampaikan belasungkawa. Sahabat dekat akan menangis. Keluarga akan merasakan kehilangan yang lebih dalam.

Namun, waktu terus berjalan.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun.

Pada akhirnya, manusia yang telah pergi akan lebih banyak dikenang melalui kebaikan yang pernah dilakukannya.

Di sinilah kita menemukan pelajaran penting: ketika semua atribut duniawi ditinggalkan, amal kebaikanlah yang memiliki nilai di hadapan Allah SWT.

Harta yang Ditinggalkan, Amal yang Dibawa

Harta adalah salah satu hal yang paling banyak dikejar manusia. Kita bekerja keras untuk mendapatkannya, menyimpannya, mengembangkannya, dan mewariskannya kepada keturunan.

Namun, tidak satu pun harta dunia yang dapat kita bawa ke dalam kubur.

Harta yang kita kumpulkan akan menjadi milik orang lain. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Kendaraan yang kita banggakan akan digunakan oleh orang lain. Bahkan jabatan yang kita perjuangkan akan segera digantikan oleh orang lain.

Karena itu, yang perlu direnungkan bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi juga dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa harta tersebut digunakan.

Dalam perspektif Islam, harta bukan sekadar kepemilikan, melainkan amanah. Ia akan dimintai pertanggungjawaban.

Begitu pula dengan waktu, ilmu, tenaga, jabatan, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT.

Semuanya akan menjadi bagian dari pertanyaan kehidupan yang harus kita pertanggungjawabkan.

Kurikulum yang Sesungguhnya

Jika kehidupan kita ibarat sebuah pendidikan, maka kematian adalah batas akhir masa belajar di dunia.

Selama hidup, kita sebenarnya sedang mengisi lembar demi lembar kurikulum tersebut.

Ada pelajaran tentang kesabaran. Ada pelajaran tentang kejujuran. Ada ujian tentang kesetiaan. Ada ujian tentang harta. Ada ujian tentang jabatan. Ada pula ujian tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Sayangnya, sebagian manusia terlalu sibuk mengejar nilai di hadapan manusia, tetapi lupa mempersiapkan nilai di hadapan Allah SWT.

Kita ingin dipandang sukses, tetapi belum tentu ingin menjadi pribadi yang saleh.

Kita ingin dikenal banyak orang, tetapi belum tentu banyak melakukan kebaikan.

Kita ingin meninggalkan nama besar, tetapi belum tentu meninggalkan amal yang besar.

Padahal, Al-Qur’an memberikan orientasi yang sangat jelas. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 110, Allah SWT berfirman:

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya dengan sesuatu pun.”

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan akhir manusia adalah perjumpaan dengan Allah SWT. Karena itu, kehidupan dunia semestinya menjadi ruang untuk menanam amal saleh sebanyak mungkin.

Jangan Menunggu Terlambat

Kematian seharusnya tidak hanya menjadi berita duka bagi orang lain. Setiap kematian adalah pesan untuk kita yang masih hidup.

Ketika mendengar seseorang meninggal, sesungguhnya kita sedang diingatkan bahwa suatu hari nanti giliran kita akan tiba.

Maka, selagi masih diberi kesempatan, mari kita menata kembali kurikulum kehidupan.

Jika masih ada kesalahan, perbaiki.

Jika masih ada dosa, bertaubat.

Jika pernah menyakiti orang lain, mintalah maaf.

Jika memiliki rezeki lebih, berbagi.

Jika memiliki ilmu, ajarkan.

Jika memiliki jabatan, gunakan untuk kemaslahatan.

Jika memiliki kesempatan berbuat baik, jangan menunggu hari esok.

Sebab, kita tidak pernah tahu kapan halaman terakhir kehidupan akan ditutup.

Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya amal ketika kesempatan untuk beramal telah berakhir.

Dunia di Tangan, Akhirat di Hati

Imam Syafi’i dikenal dengan sebuah nasihat yang sangat dalam:

“Jadikanlah akhirat di hatimu dan dunia di tanganmu.”

Pesan ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Kita tetap harus bekerja, belajar, membangun keluarga, mencari rezeki, dan berkontribusi kepada masyarakat.

Namun, dunia jangan sampai menguasai hati.

Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai berada di hati. Jabatan boleh kita pegang, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa jabatan hanyalah amanah. Popularitas boleh datang, tetapi jangan sampai membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sebab semuanya akan berakhir.

Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan dunia.

Kita semua akan menjadi bagian dari sejarah.

Dan kita semua akan sampai pada satu titik ketika tidak ada lagi yang dapat kita tambahkan ke dalam kurikulum kehidupan.

Yang tersisa hanyalah apa yang telah kita kerjakan.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa sukses kita menjalani kehidupan, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan diri ketika kehidupan dunia berakhir.

Kita tidak tahu kapan kematian datang. Tetapi kita tahu bahwa ia pasti datang.

Maka, mari kita isi sisa perjalanan hidup dengan kejujuran, keistiqamahan, amal saleh, kepedulian, dan kebaikan. Semoga ketika lembar terakhir kehidupan kita ditutup, kita tidak datang dengan tangan kosong, tetapi membawa bekal amal yang dapat menjadi jalan menuju rahmat dan rida Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Dr. Zulkifli, MA (*)

LAINNYA