
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, menyampaikan pentingnya penguatan literasi digital dan nilai moral dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi remaja di era digital. (Foto: Ist) KOTA TANGSEL| TD – Di tengah gelombang disrupsi digital yang bergerak begitu cepat, benteng pertahanan utama bagi generasi muda bukan lagi sekadar pagar fisik di rumah, melainkan ketahanan mental dan fondasi karakter yang kokoh.
Hal tersebut menjadi perhatian Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, saat membedah kompleksitas tantangan psikologis yang dihadapi remaja di era modern.
Menurutnya, pergaulan remaja saat ini mengalami pergeseran drastis yang belum pernah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya.
“Ketergantungan terhadap gawai telah mengubah pola interaksi sosial secara radikal, dari komunikasi tatap muka yang hangat menjadi interaksi artifisial yang sering kali hampa makna di ruang digital,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (26/8/2026).
Dia menambahkan perkembangan teknologi informasi memang membuka akses pengetahuan tanpa batas, namun di sisi lain juga membawa kerentanan psikologis yang serius jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang matang.
Tekanan sosial dari media sosial, paparan informasi negatif, hingga pergeseran nilai etika menjadi ancaman nyata bagi stabilitas mental remaja.
“Nah, anak-anak sekalian, kesehatan mental ini sangat berpengaruh untuk masa depan kalian dan ini harus dijaga banget,” jelasnya.
Asep juga menyoroti sebuah ironi kontemporer yang kerap luput dari perhatian publik: kedekatan fisik yang justru terasa hampa di dalam rumah, contohnya remaja hari ini dinilai lebih memilih meluapkan isi hati, mencari validasi instan, atau mencurahkan keluh kesah kepada sesama pengguna di dunia maya ketimbang membuka ruang dialog dengan anggota keluarga terdekat yang duduk tepat di sebelah mereka.
Dia menilai kondisi ini memperlebar jurang komunikasi antargenerasi dan memicu alienasi emosional, yang ketika masalah personal diserahkan kepada algoritma atau lingkungan maya yang salah arah, dampaknya sering kali berujung pada kecemasan berlebih, stres, hingga perilaku menyimpang akibat salah pergaulan.
Sebagai langkah mitigasi preventif, Diskominfo Tangsel bersama Dinas Kesehatan terus mendorong pentingnya penanaman nilai moral (character building).
Asep mengingatkan agar para remaja tidak membiarkan diri mereka terombang-ambing tanpa arah di tengah arus informasi global yang bebas tanpa filter etika.
“Dalam diri generasi muda harus punya nilai. Jangan menjadi kertas kosong yang tidak punya nilai,” tegas Asep.
Ia juga mengingatkan para remaja agar mampu menjadi agen perubahan bagi diri sendiri dengan berani menjauhi segala bentuk potensi kekerasan, penyalahgunaan senjata tajam, serta lingkaran pergaulan bebas yang merusak masa depan.
“Pilihan bukan ada di ibu kamu, pilihan bukan ada di orang tua kamu, pilihan bukan ada di pemerintah kota, tapi ada di diri sendiri untuk jadi orang bernilai. Jadi ingat ya, pilih keputusan dengan baik,” jelasnya.
Asep menuturkan bahwa perlindungan kesehatan mental dan karakter remaja tidak bisa dibebankan kepada satu institusi semata dengan dperlukan sinergi yang solid dan berkelanjutan antara orang tua di lingkungan keluarga, tenaga pendidik di sekolah, serta intervensi kebijakan strategis dari pemerintah daerah.
“Antara orang tua, guru, dan Pemerintah Kota harus dalam satu kesatuan yang utuh menjaga anak dari kesehatan mental ini,” terang Asep.
Pemerintah Kota Tangsel melalui berbagai program edukasi berkelanjutan berkomitmen untuk terus menghadirkan ekosistem digital yang aman dan sehat.
“Di era di mana teknologi menjadi pisau bermata dua, penguatan mental dan moral bagi generasi muda Tangsel diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang tangguh, adaptif, berintegritas tinggi, dan siap menyongsong masa depan yang kompetitif,” pungkasnya. (*)