Dosen, Jangan Bohong!

waktu baca 9 menit
Selasa, 25 Agu 2026 15:23 7 Nazwa

OPINI | TD — Ada satu kalimat yang belakangan sering saya katakan kepada diri sendiri: “Dosen, jangan bohong!”

Bukan kepada dosen lain. Bukan kepada mahasiswa. Kalimat itu justru saya tujukan kepada diri sendiri.

Saya harus mengakui, saya pun pernah tergoda untuk tidak sepenuhnya jujur. Tergoda datang terlambat, tetapi absensi tetap penuh. Tergoda menggunakan materi lama karena berpikir, “Mahasiswa juga tidak protes.” Tergoda menulis laporan pengabdian dengan sedikit “bumbu” agar tampak lebih hebat. Bahkan, pernah pula menganggap bimbingan skripsi selesai hanya dengan beberapa pesan WhatsApp: “Sudah bagus. Silakan lanjut.”

Sekilas, semuanya tampak kecil. Tidak ada yang langsung menegur. Tidak ada hukuman. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu.

Namun, semakin direnungkan, persoalannya ternyata bukan sekadar tentang sanksi. Ini tentang amanah. Tentang kejujuran. Dan, bagi saya, lebih jauh lagi, tentang keberkahan.

Kebohongan yang Tidak Terlihat

Kita sering marah ketika menemukan mahasiswa melakukan kecurangan akademik.

Mahasiswa melakukan plagiarisme, kita kecam. Menggunakan jasa joki skripsi, kita protes. Menyontek saat ujian, kita beri sanksi. Semua itu tentu benar.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah di antara kita, para dosen, juga ada bentuk-bentuk ketidakjujuran yang selama ini kita anggap biasa?

Bukan kebohongan besar. Justru kebohongan kecil yang nyaris tidak terasa.

Ada kebohongan terhadap waktu. Tubuh tercatat hadir, tetapi sesungguhnya tidak sepenuhnya hadir di kelas.

Ada kebohongan terhadap ilmu. Mengajar menggunakan materi yang sama selama bertahun-tahun tanpa memperbarui referensi, sementara ilmu pengetahuan terus bergerak.

Ada kebohongan terhadap amanah. Mahasiswa datang untuk bimbingan, tetapi naskah hanya dibaca sekilas lalu dijawab, “Sudah bagus, lanjutkan.”

Ada kebohongan terhadap karya. Penelitian dilakukan bukan karena kegelisahan terhadap persoalan nyata, melainkan semata-mata demi memenuhi tuntutan angka kredit.

Ada pula kebohongan administratif. Laporan BKD terlihat sempurna, tetapi ketika kita bertanya kepada diri sendiri, “Benarkah semua itu saya kerjakan dengan sungguh-sungguh?”, hati mungkin justru terdiam.

Di sinilah persoalannya.

Seorang dosen mungkin tidak sedang berbohong kepada orang lain, tetapi bisa saja sedang tidak jujur terhadap amanahnya sendiri.

Dan bentuk kebohongan seperti ini justru berbahaya. Sebab jika dilakukan oleh satu orang, mungkin hanya menjadi kesalahan pribadi. Namun jika dilakukan oleh ribuan dosen, terus-menerus dan bertahun-tahun, ia tidak lagi sekadar kesalahan individu.

Ia berubah menjadi budaya.

Budaya akademik yang dibangun di atas ketidakjujuran akan menghasilkan sesuatu yang tampak baik di atas kertas, tetapi rapuh di dalam. Akreditasi bisa bagus. Dokumen lengkap. BKD penuh. Publikasi bertambah. Angka kredit meningkat.

Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pendidikan kita benar-benar menjadi lebih baik?

Dosen Bukan Sekadar Pengisi Sistem

Perguruan tinggi memiliki sistem yang semakin berkembang. Ada Tridharma Perguruan Tinggi, BKD, SINTA, akreditasi, audit mutu, serta berbagai instrumen evaluasi.

Semua itu penting. Bahkan sangat penting.

Namun, sistem sebaik apa pun tidak akan pernah mampu menggantikan satu hal: kejujuran manusia yang menjalankannya.

Sistem hanya dapat mengukur apa yang terlihat. Amanah menuntut kita mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak selalu terlihat.

Sistem dapat mencatat bahwa kita hadir. Tetapi apakah kita benar-benar hadir untuk mahasiswa?

Sistem dapat mencatat bahwa kita mengajar. Tetapi apakah kita sungguh-sungguh mempersiapkan ilmu yang akan disampaikan?

Sistem dapat mencatat jumlah penelitian. Tetapi apakah penelitian itu lahir dari kepedulian terhadap persoalan nyata?

Sistem dapat mencatat jumlah bimbingan. Tetapi apakah mahasiswa benar-benar mendapatkan arah dari bimbingan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu muncul dalam formulir evaluasi. Namun, ia bisa muncul di ruang yang jauh lebih sunyi: di hadapan hati nurani sendiri.

Ini Soal Iman, Bukan Sekadar Administrasi

Bagi seorang Muslim, profesi dosen semestinya tidak dipandang sekadar sebagai pekerjaan. Mengajar adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Mahasiswa adalah amanah. Bahkan waktu yang kita gunakan untuk mengajar pun merupakan amanah.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Kejujuran tentu bukan hanya urusan lisan. Ia semestinya hadir dalam seluruh perilaku.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa berdusta merupakan salah satu tanda kemunafikan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, sebagai dosen Muslim, kita semestinya tidak hanya bertanya, “Apakah saya sudah memenuhi kewajiban administratif?”

Kita juga perlu bertanya, “Apakah saya sudah menjalankan amanah ini dengan jujur?”

Dua pertanyaan itu tampak sederhana. Namun jawabannya bisa sangat berbeda.

Kita mungkin sudah memenuhi administrasi, tetapi belum tentu memenuhi amanah.

Kita mungkin sudah memenuhi angka, tetapi belum tentu memenuhi makna.

Kita mungkin sudah memperoleh penghargaan, tetapi belum tentu memperoleh keberkahan.

Ilmu yang Sampai ke Hati

Mahasiswa tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan. Mereka juga belajar dari bagaimana kita menjalani profesi sebagai dosen.

Mereka memperhatikan apakah kita datang tepat waktu. Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan mahasiswa yang kesulitan. Mereka memperhatikan apakah kita mau mengakui kesalahan, membaca sebelum mengajar, menghargai karya orang lain, dan bersikap jujur ketika memberikan penilaian.

Mereka melihat semuanya.

Karena itu, dosen sesungguhnya sedang mengajar bahkan ketika ia tidak sedang menjelaskan materi.

Sikap kita adalah pelajaran. Kedisiplinan kita adalah pelajaran. Kejujuran kita adalah pelajaran. Cara kita berbicara adalah pelajaran.

Bahkan keberanian untuk mengatakan, “Saya belum tahu, mari kita cari tahu bersama,” pun merupakan pelajaran.

Mahasiswa mungkin lupa sebagian besar slide PowerPoint yang kita tampilkan. Mereka mungkin lupa definisi dan teori yang kita jelaskan.

Tetapi mereka bisa saja mengingat satu hal:

“Dulu saya pernah memiliki seorang dosen yang menjadi teladan bagi saya.”

Barangkali, itulah salah satu bentuk keberkahan ilmu yang paling tinggi.

Keberkahan Bukan Sekadar H-Index

H-Index penting. SINTA penting. Publikasi penting. Angka kredit penting. Jabatan akademik juga penting.

Kita tidak perlu bersikap anti terhadap ukuran-ukuran profesionalitas akademik. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab dan perkembangan karier seorang dosen.

Namun, semuanya bukan ukuran terakhir dari keberkahan ilmu.

Ada pertanyaan lain yang mungkin jauh lebih penting.

Berapa mahasiswa yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita?

Berapa orang yang terbantu oleh penelitian kita?

Berapa persoalan masyarakat yang berhasil kita ikut pecahkan melalui pengabdian?

Berapa banyak ilmu yang tetap hidup setelah kita tidak lagi berada di kampus?

Dan ada satu pertanyaan yang mungkin paling sunyi:

Jika suatu hari semua gelar, jabatan, angka kredit, dan publikasi tidak lagi kita miliki, apakah masih ada kebaikan yang tertinggal dari apa yang pernah kita kerjakan sebagai dosen?

Saya kira, di situlah makna keberkahan ilmu.

Ilmu bukan hanya sesuatu yang tercatat dalam CV. Ilmu adalah sesuatu yang hidup dalam diri orang lain.

Lima Kejujuran yang Bisa Dimulai Hari Ini

Kita tidak perlu menunggu aturan baru. Tidak perlu menunggu rektor mengeluarkan surat edaran. Tidak perlu menunggu kementerian membuat instrumen tambahan.

Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri.

1. Jujur pada Waktu

Datanglah tepat waktu. Jika memungkinkan, datang sedikit lebih awal.

Ketika kelas dimulai, hadirkan diri sepenuhnya. Letakkan telepon. Tatap mahasiswa. Dengarkan mereka.

Lima puluh atau seratus menit perkuliahan mungkin terlihat kecil bagi kita. Namun bagi mahasiswa, waktu itu merupakan bagian dari perjalanan masa depan mereka.

Waktu yang kita ambil dari mahasiswa tidak akan pernah kembali.

2. Jujur pada Ilmu

Jangan malu mengatakan, “Saya belum tahu.”

Namun setelah mengatakannya, kita harus berusaha mencari tahu.

Baca jurnal. Perbarui referensi. Ikuti perkembangan ilmu. Luangkan waktu, meskipun hanya 30 menit sebelum masuk kelas, untuk membaca sesuatu yang baru.

Jangan sampai mahasiswa datang membawa pertanyaan abad ke-21, sementara kita masih mengajar dengan materi yang tidak pernah diperbarui selama bertahun-tahun.

Dosen harus terus belajar karena mahasiswa berhak mendapatkan ilmu yang terus tumbuh.

3. Jujur dalam Bimbingan

Jangan menjadi dosen yang sekadar menjadi “tukang tanda tangan”.

Mahasiswa yang datang untuk bimbingan tidak hanya membutuhkan tanda tangan. Mereka membutuhkan pikiran, pengalaman, kritik, arahan, bahkan kadang dorongan untuk tidak menyerah.

Duduklah bersama mereka. Diskusikan. Arahkan. Kritik jika perlu. Dan doakan.

Siapa tahu, dari mahasiswa yang kita bimbing dengan tulus, lahir seseorang yang kelak menjadi orang besar dan masih mengingat gurunya.

4. Jujur dalam Riset

Jangan meneliti hanya karena angka kredit.

Penelitian semestinya lahir dari kegelisahan. Ada persoalan yang kita lihat. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada masyarakat yang membutuhkan solusi. Ada pengetahuan yang perlu dikembangkan.

Karena itu, sebelum memulai penelitian, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

“Mengapa saya melakukan penelitian ini?”

Jika jawabannya hanya, “Karena dibutuhkan untuk kenaikan pangkat,” mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Tidak salah mengejar kenaikan pangkat. Tidak salah mengejar jabatan. Namun jangan sampai tujuan administratif mengalahkan tujuan keilmuan.

Niatkan penelitian sebagai ikhtiar menghadirkan ilmu yang bermanfaat.

5. Jujur Saat Mengisi BKD

Ini mungkin yang paling sederhana sekaligus paling sulit.

Sebelum menekan tombol submit, berhentilah sejenak.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Benarkah saya melakukan semua ini?”

“Benarkah pekerjaan ini memberi manfaat?”

“Jika laporan ini saya pertanggungjawabkan bukan hanya kepada atasan, tetapi juga kepada Allah, apakah saya tetap berani mengisinya dengan cara yang sama?”

Jika jawabannya ya, lanjutkan.

Jika hati mulai ragu, periksa kembali.

Jadikan BKD sebagai cermin, bukan sekadar tempat mencari poin.

Pada Akhirnya, Dosen Harus Berani Bercermin

Saya menulis ini bukan karena merasa sudah menjadi dosen yang sempurna.

Justru sebaliknya.

Saya menulis karena tahu bahwa godaan untuk tidak jujur bisa datang kepada siapa saja, termasuk kepada saya sendiri.

Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat kecil: datang terlambat, kurang persiapan, menunda bimbingan, menggunakan materi lama, terlalu sibuk mengejar angka, atau mengisi laporan dengan cara yang membuat semuanya tampak sempurna.

Justru karena terlihat kecil, kita sering tidak merasa sedang melakukan kesalahan.

Padahal karakter dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Begitu pula ketidakjujuran.

Ia tidak selalu datang sebagai kebohongan besar. Kadang ia hadir sebagai kompromi kecil yang kita izinkan hari ini. Kemudian menjadi kebiasaan besok. Lalu perlahan berubah menjadi budaya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya menuntut mahasiswa untuk jujur.

Mari mulai bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita menjadi dosen yang jujur?

Kemajuan kampus tidak selalu dimulai dari rektorat. Tidak selalu dari kementerian. Tidak selalu dari perubahan sistem.

Kadang ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: satu dosen yang memutuskan untuk tidak berbohong di kelasnya.

Satu dosen yang datang tepat waktu.

Satu dosen yang mempersiapkan ilmunya.

Satu dosen yang membimbing dengan hati.

Satu dosen yang meneliti dengan jujur.

Satu dosen yang mengisi laporan sesuai kenyataan.

Mungkin terlihat kecil.

Tetapi perubahan besar memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil.

Dan saya ingin memulainya dari diri sendiri.

Hari ini saya kembali mengingatkan diri:

Dosen, jangan bohong.

Jangan bohong kepada mahasiswa.

Jangan bohong kepada institusi.

Jangan bohong kepada ilmu.

Dan yang paling penting, jangan bohong kepada hati sendiri.

Sebab pada akhirnya, kita bukan hanya sedang mendidik mahasiswa. Kita sedang mempertanggungjawabkan diri kita sebagai pendidik.

Semoga ilmu yang kita ajarkan menjadi ilmu yang bermanfaat. Semoga penelitian yang kita lakukan menjadi amal. Semoga waktu yang kita berikan kepada mahasiswa menjadi kebaikan. Dan semoga dari profesi yang kita jalani ini, ada keberkahan yang terus mengalir, bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di ruang kelas.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)

Maka, mari kita mulai.

Bukan dari orang lain. Dari diri kita sendiri. Hari ini juga.

Penulis: Nana Suryana
Dosen Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya Tasikmalaya. (*)

LAINNYA