Di Era Media Sosial, Mengapa Banyak Anak Muda Takut Bicara?

waktu baca 8 menit
Minggu, 7 Jun 2026 20:52 63 Nazwa

OPINI | TD — Di era ketika semua orang dapat berbicara melalui media sosial, justru semakin banyak anak muda yang takut berbicara secara langsung. Fenomena ini terdengar paradoks. Teknologi menghadirkan berbagai ruang untuk mengekspresikan pendapat, tetapi pada saat yang sama keberanian untuk menyampaikan gagasan di dunia nyata justru tampak semakin rapuh. Kita hidup di zaman ketika satu unggahan dapat menjangkau ratusan orang dalam hitungan menit, namun tidak sedikit mahasiswa yang masih gemetar ketika diminta bertanya di kelas atau menyampaikan pendapat dalam sebuah diskusi.

Menurut saya, kondisi ini bukan terjadi karena generasi muda tidak memiliki kemampuan berpikir atau tidak memiliki pendapat. Sebaliknya, media sosial telah membentuk budaya validasi dan perfeksionisme yang membuat banyak anak muda merasa harus selalu terlihat benar, menarik, dan sempurna sebelum berani berbicara. Akibatnya, kesalahan yang sebenarnya merupakan bagian normal dari proses belajar justru dipandang sebagai sesuatu yang memalukan dan harus dihindari.

Fenomena tersebut dapat ditemukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Banyak mahasiswa yang aktif di berbagai platform media sosial, mampu membuat unggahan yang menarik, bahkan berani menyampaikan opini melalui kolom komentar. Namun ketika harus berbicara secara langsung di depan kelas, situasinya sering kali berbeda. Suara menjadi pelan, tangan mulai berkeringat, dan pikiran yang sebelumnya terasa teratur mendadak kosong.

Saya pernah mengalami hal yang sama. Ketika harus berbicara di depan banyak orang, rasa gugup sering muncul bahkan sebelum kegiatan dimulai. Bukan karena tidak memahami materi yang akan disampaikan, melainkan karena terlalu memikirkan bagaimana orang lain akan menilai apa yang saya katakan. Setelah kegiatan selesai pun, pikiran sering kali masih dipenuhi pertanyaan mengenai penampilan, cara berbicara, atau kemungkinan kesalahan yang telah dilakukan. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa rasa takut berbicara tidak selalu berkaitan dengan kemampuan, tetapi sering kali berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Masalahnya, media sosial telah mengubah cara banyak orang membentuk penilaian terhadap diri mereka. Di ruang digital, hampir semua hal dapat diukur. Jumlah suka, komentar, pengikut, dan jumlah penonton sering kali menjadi indikator yang dianggap menunjukkan nilai seseorang. Semakin tinggi respons yang diperoleh, semakin besar pula perasaan diterima. Sebaliknya, ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, muncul perasaan kecewa, malu, atau tidak percaya diri.

Kondisi tersebut perlahan membentuk budaya validasi digital. Banyak anak muda tanpa sadar mulai mengukur harga dirinya berdasarkan respons yang diberikan orang lain di media sosial. Padahal, penerimaan sosial di internet tidak selalu mencerminkan nilai seseorang yang sebenarnya. Ketika kebiasaan tersebut terus berlangsung, seseorang menjadi semakin sensitif terhadap penilaian orang lain, termasuk dalam kehidupan nyata.

Menurut saya, inilah salah satu akar masalah yang membuat banyak anak muda takut berbicara. Mereka tidak lagi hanya memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga memikirkan bagaimana setiap kata akan dinilai. Akibatnya, komunikasi berubah menjadi aktivitas yang penuh tekanan. Sebelum berbicara, seseorang sudah membayangkan kemungkinan dikritik, dianggap kurang pintar, atau dipermalukan karena melakukan kesalahan kecil.

Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh budaya perfeksionisme yang berkembang di media sosial. Setiap hari, generasi muda disuguhi berbagai konten yang menampilkan pencapaian, prestasi, penampilan menarik, serta kehidupan yang terlihat ideal. Tidak ada yang salah dengan konten positif. Namun masalah muncul ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan apa yang dilihat di layar.

Banyak orang lupa bahwa media sosial sering kali hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kegagalan, kecemasan, rasa takut, dan proses panjang di balik sebuah pencapaian jarang diperlihatkan secara utuh. Akibatnya, muncul ilusi bahwa orang lain selalu lebih percaya diri, lebih sukses, dan lebih mampu dibandingkan diri sendiri.

Ketika perbandingan tersebut terjadi terus-menerus, rasa percaya diri dapat menurun. Seseorang mulai merasa bahwa pendapatnya tidak cukup penting, tidak cukup menarik, atau tidak cukup berkualitas untuk disampaikan. Dalam situasi seperti itu, diam sering kali dianggap sebagai pilihan yang lebih aman daripada mengambil risiko untuk berbicara.

Temuan tersebut sejalan dengan sebuah penelitian mengenai indikator kerja Generasi Z pada tahun 2022 yang menunjukkan bahwa generasi ini cenderung lebih nyaman berkomunikasi melalui media digital dibandingkan komunikasi tatap muka. Namun menurut saya, temuan tersebut tidak boleh dipahami secara sederhana sebagai perubahan gaya komunikasi semata. Ada persoalan yang lebih dalam, yaitu berkurangnya kesempatan untuk melatih keberanian berinteraksi secara langsung.

Komunikasi digital memungkinkan seseorang untuk berpikir lebih lama sebelum merespons. Pesan dapat diedit, dihapus, atau disusun kembali sebelum dikirim. Situasi tersebut berbeda dengan komunikasi tatap muka yang menuntut respons spontan dan kemampuan menghadapi reaksi orang lain secara langsung. Ketika sebagian besar interaksi terjadi melalui layar, kemampuan menghadapi tekanan dalam komunikasi langsung berpotensi menjadi kurang terlatih.

Dampaknya dapat terlihat di lingkungan kampus. Ketika dosen membuka sesi diskusi, tidak jarang suasana kelas berubah menjadi hening. Mahasiswa yang sebenarnya memiliki pertanyaan atau pendapat memilih untuk tetap diam. Sebagian khawatir pertanyaannya dianggap tidak penting. Sebagian lain takut memberikan jawaban yang salah. Bahkan ada yang memilih tidak berbicara karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Fenomena ini seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan individu semata. Jika terlalu banyak anak muda merasa takut untuk menyampaikan pendapat, maka yang terancam bukan hanya kepercayaan diri mereka, tetapi juga kualitas ruang diskusi dalam masyarakat. Sebuah masyarakat yang sehat membutuhkan individu yang berani menyampaikan ide, bertanya, dan berdialog secara terbuka.

Di sisi lain, budaya komentar di media sosial juga turut memperburuk keadaan. Saat ini, siapa pun dapat memberikan penilaian terhadap orang lain dengan sangat mudah. Kritik yang seharusnya membangun sering kali berubah menjadi ejekan. Perbedaan pendapat tidak jarang berujung pada serangan personal. Dalam lingkungan seperti itu, banyak anak muda belajar bahwa berbicara memiliki konsekuensi sosial yang cukup besar.

Menurut saya, kondisi tersebut menciptakan budaya komunikasi yang kurang sehat. Alih-alih mendorong pertukaran gagasan, media sosial kadang membuat orang lebih fokus pada citra diri. Banyak orang menjadi lebih sibuk memikirkan bagaimana mereka terlihat daripada apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan. Akibatnya, keberanian untuk berpendapat perlahan tergeser oleh keinginan untuk menghindari penilaian negatif.

Penelitian mengenai kepercayaan diri remaja dari Universitas Medan Area pada tahun 2023 juga menunjukkan bahwa lingkungan sosial memiliki peran penting dalam membentuk keberanian seseorang untuk mengekspresikan dirinya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa percaya diri bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi.

Dalam konteks ini, saya melihat bahwa lingkungan digital maupun lingkungan sosial di dunia nyata memiliki tanggung jawab yang sama. Ketika ruang komunikasi dipenuhi ejekan, cibiran, dan budaya menghakimi, orang akan cenderung memilih diam. Sebaliknya, ketika seseorang merasa aman untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut, keberanian untuk berbicara dapat berkembang secara alami.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian mengenai penerimaan diri Generasi Z oleh Wijaya (2023) yang membahas kecemasan komunikasi dan pembentukan kepercayaan diri pada remaja. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketakutan terhadap penilaian sosial dapat memengaruhi keberanian seseorang dalam berkomunikasi. Menurut saya, hal ini sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini yang hidup di tengah arus informasi dan penilaian publik yang berlangsung hampir tanpa henti.

Karena itu, saya berpendapat bahwa masalah utama yang dihadapi generasi muda saat ini bukanlah kurangnya kesempatan untuk berbicara. Kesempatan tersebut justru semakin banyak. Masalah yang sebenarnya adalah munculnya budaya yang membuat seseorang merasa harus sempurna sebelum berbicara. Padahal, komunikasi yang baik tidak lahir dari kesempurnaan. Komunikasi yang baik lahir dari keberanian untuk menyampaikan gagasan meskipun masih memiliki kekurangan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya dapat terasa dalam berbagai aspek kehidupan. Di dunia pendidikan, mahasiswa akan semakin pasif dalam diskusi. Di lingkungan kerja, generasi muda mungkin kesulitan menyampaikan ide atau berkolaborasi secara efektif. Dalam kehidupan sosial, mereka dapat kehilangan kesempatan untuk membangun relasi yang sehat karena terlalu takut mengekspresikan diri.

Oleh karena itu, diperlukan langkah yang lebih konkret daripada sekadar mengajak generasi muda untuk percaya diri. Kampus perlu menciptakan budaya diskusi yang lebih terbuka dan tidak menghakimi. Mahasiswa harus diberikan ruang untuk bertanya dan berpendapat tanpa takut dipermalukan karena kesalahan kecil. Kegiatan seperti diskusi kelompok, presentasi bertahap, pelatihan public speaking, hingga forum mahasiswa dapat menjadi sarana untuk melatih keberanian berkomunikasi secara langsung.

Selain itu, literasi digital juga perlu diperluas. Selama ini literasi digital sering hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi dan memilah informasi. Padahal, generasi muda juga perlu memahami bagaimana media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental, kepercayaan diri, dan cara mereka memandang diri sendiri. Kesadaran tersebut penting agar mereka tidak menjadikan validasi digital sebagai ukuran utama nilai diri.

Di tingkat yang lebih luas, masyarakat juga perlu membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Kritik perlu disampaikan secara konstruktif, bukan dalam bentuk ejekan. Perbedaan pendapat seharusnya dipandang sebagai bagian normal dari kehidupan demokratis, bukan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Semakin aman sebuah lingkungan bagi seseorang untuk berbicara, semakin besar pula peluang munculnya gagasan-gagasan yang bermanfaat.

Pada akhirnya, saya tidak melihat media sosial sebagai musuh yang harus disalahkan atas menurunnya keberanian generasi muda untuk berbicara. Media sosial hanyalah alat. Yang perlu dikritisi adalah budaya validasi dan perfeksionisme yang berkembang di dalamnya. Ketika nilai seseorang terus-menerus diukur berdasarkan respons publik, rasa takut untuk melakukan kesalahan akan semakin besar.

Karena itu, keberanian berbicara perlu dipahami bukan sebagai kemampuan untuk tampil sempurna, melainkan kemampuan untuk tetap menyampaikan pendapat meskipun ada kemungkinan melakukan kesalahan. Generasi muda tidak membutuhkan tekanan untuk menjadi sempurna. Mereka membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka belajar, bertumbuh, dan didengar.

Jika ruang seperti itu dapat dibangun, maka media sosial tidak lagi menjadi sumber kecemasan, melainkan menjadi pelengkap bagi kemampuan komunikasi yang sehat. Dan ketika generasi muda berani berbicara tanpa dibebani tuntutan untuk selalu sempurna, mereka tidak hanya menjadi lebih percaya diri, tetapi juga lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Penulis: Nabiilah Zahra Wulandari
Mahasiswa Program Studi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA