Komdigi Siapkan Peta Jalan AI: Strategi Menuju Kedaulatan Teknologi Indonesia

waktu baca 3 minutes
Rabu, 26 Nov 2025 19:22 0 Redaksi

JAKARTA | TD — Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan Peta Jalan Nasional AI sebagai strategi untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menguasai dan mengembangkannya secara mandiri. Langkah ini sejalan dengan upaya menghadirkan Sovereign AI yang Berdaulat, model kecerdasan buatan yang relevan dengan karakter dan kebutuhan nasional.

Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, menegaskan bahwa arah pengembangan AI Indonesia harus selaras dengan kepentingan nasional. “Yang paling penting adalah kita jangan menjadi budaknya AI, tapi harus menjadi tuannya. Kita jangan hanya menonton, menjadi pasar, tapi harus jadi pemain,” ujarnya dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) NgobrolINdonesia bertema ‘Kecerdasan Artifisial: Jembatan Menuju Indonesia Emas’, Selasa (25/11/2025).

Peta Jalan Nasional AI dan Pedoman Etika AI disusun secara kolaboratif, melibatkan kementerian, lembaga pemerintah, industri, komunitas masyarakat sipil, hingga peneliti AI. Dokumen strategis ini melengkapi kerangka hukum yang ada, mulai dari UU Perlindungan Data Pribadi (PDP), Permenkominfo tentang Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE), hingga aturan hak cipta, agar pengembangan, pemanfaatan, dan distribusi teknologi berada dalam jalur regulasi yang konsisten.

Nezar menekankan pentingnya kedaulatan teknologi, terutama di tengah perkembangan AI global yang sangat cepat. Dalam dua tahun terakhir, kemampuan generative AI tumbuh jauh lebih pesat dari prediksi, sementara fitur baru terus bermunculan setiap enam bulan, memicu persaingan global di bidang data center, GPU, dan computing power.

Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan model asing yang belum tentu sesuai konteks nasional. Kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan AI pun menjadi isu penting. Literasi digital publik menjadi fondasi agar teknologi digunakan secara sadar dan bertanggung jawab.

Melalui program Digital Talent Scholarship, iCall Center, dan AI Talent Factory, Komdigi menyiapkan pelatihan untuk mencetak talenta yang tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga perancang dan pengembang AI. AI Talent Factory saat ini berjalan di Universitas Brawijaya dan akan diperluas ke Universitas Gajah Mada, ITB, Universitas Indonesia, serta sejumlah kampus lain pada 2025.

Literasi AI juga mulai didorong sejak pendidikan dasar dan menengah. Nezar menilai kurikulum sekolah perlu dievaluasi agar siswa memahami teknologi secara menyeluruh. “Anak-anak perlu diajarkan cara kerja AI, dibentuk awareness, dan dilatih berpikir kritis. Mereka hidup di masa ketika teknologi ini sangat dominan,” imbuhnya.

Penggunaan AI tanpa kemampuan kritis dapat mengurangi esensi belajar, apalagi jika siswa menyerahkan seluruh proses berpikir pada mesin. Di sisi lain, AI juga membawa risiko besar, seperti keamanan data, disinformasi, dan manipulasi visual.

Nezar menyoroti risiko data yang diunggah pengguna dapat muncul kembali di tempat lain, termasuk wajah mirip pengguna dalam foto generatif buatan orang lain. Ancaman terbesar berasal dari deepfake, konten palsu yang dibuat AI dengan kualitas sangat realistis, yang bisa digunakan untuk pornografi, ujaran kebencian, atau manipulasi politik.

“Deepfake punya dampak besar karena bisa meniru wajah dan suara kita, bahkan menggambarkan seseorang dalam konteks yang tidak pernah dilakukan,” katanya.

Untuk menanggulangi ancaman ini, pemerintah memperkuat kolaborasi dengan platform digital, kepolisian, kejaksaan, dan lembaga terkait. Platform didorong menyediakan alat deteksi konten AI dan standar content authentication berbasis metadata, agar publik dapat membedakan konten asli dan manipulatif.

Nezar menegaskan bahwa adopsi AI harus dilihat sebagai perjalanan kolektif menuju masa depan ekonomi digital Indonesia. Dengan ‘Sovereign AI yang Berdaulat’, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar bagi produk AI negara lain, tetapi juga menjadi pemain penting dalam percaturan teknologi global, dari infrastruktur hingga algoritma.

“Kita harus menciptakan AI yang berdaulat, menguasai teknologinya, bukan hanya menjadi penonton. Ini bukan hanya untuk hari ini, tapi agar Indonesia punya posisi strategis di percaturan teknologi global,” pungkasnya. (*)

LAINNYA