MRT Jalur Timur–Barat Balaraja–Cikarang Mulai Dibangun 2026, Kurangi Kemacetan Jabodetabek

waktu baca 3 minutes
Minggu, 9 Nov 2025 13:40 0 Nazwa

JAKARTA | TD — Proyek MRT Jalur Timur–Barat (East–West Line) yang menghubungkan Balaraja hingga Cikarang akan mulai dibangun pada tahun 2026. Pembangunan jalur baru ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mengurangi kemacetan di kawasan Jabodetabek, sekaligus memperkuat sistem transportasi massal yang ramah lingkungan.

Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda), Ahmad Pratomo, mengatakan saat ini pihaknya tengah memfinalisasi persiapan teknis agar peletakan batu pertama (groundbreaking) dapat terlaksana tepat waktu.

“Jalur lain yang sedang diupayakan terlaksana pada tahun ini adalah jalur East–West Fase 1 Stage 1 dengan rencana groundbreaking pada kuartal III/2026,” ujar Ahmad, dikutip dari bisnis.com, Minggu (9/11/2025).

Sebelumnya, Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menuturkan bahwa jadwal peletakan batu pertama sempat direncanakan pada 2024, namun proses koordinasi antarinstansi memerlukan waktu tambahan sehingga proyek akan dimulai pada 2026.

Jalur Sepanjang 24,5 Km dan 21 Stasiun Modern

Pada Fase 1 Tahap 1, MRT Jakarta akan membangun jalur sepanjang 24,5 kilometer dari Tomang hingga Medan Satria, termasuk jalur akses depo di Rorotan sepanjang 5,9 kilometer.
Rute ini terdiri atas 21 stasiun dengan kombinasi layang dan bawah tanah. Jalur bawah tanah membentang dari Roxy hingga Galur, sementara jalur layang dibangun dari Tomang–Grogol dan Cempaka Baru–Ujung Menteng.

Dorong Transportasi Rendah Emisi

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat menegaskan bahwa jalur Timur–Barat akan menjadi langkah besar dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi dan mendorong pergerakan kota yang lebih efisien.

“Transportasi massal berbasis rel seperti MRT menjadi tulang punggung mobilitas urban yang efisien, ramah lingkungan, dan inklusif,” jelasnya.

MRT Jakarta juga menyiapkan pedoman Design Reference for Sustainable and Resilient Infrastructure untuk memastikan pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim dan efisien energi.

Total Jalur 84 Km, Lintasi 3 Provinsi

Secara keseluruhan, jalur MRT Timur–Barat Balaraja–Cikarang akan membentang 84 kilometer, menghubungkan Balaraja (Banten), Jakarta, dan Cikarang (Bekasi, Jawa Barat).

Tahapan proyek:

1. Fase 1 Tahap 1: Tomang – Medan Satria (24,5 km)

2. Fase 1 Tahap 2: Kembangan – Tomang (9,2 km)

3. Fase 2 Timur: Medan Satria – Cikarang (21,8 km)

4. Fase 2 Barat: Kembangan – Balaraja (29,9 km)

Nantinya, jalur ini akan terintegrasi dengan MRT Utara–Selatan di Stasiun Thamrin, sehingga penumpang dapat berpindah koridor dengan mudah.

Didanai Jepang dan ADB

Pembangunan MRT Balaraja–Cikarang Fase 1 Tahap 1 akan dibiayai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Asian Development Bank (ADB).

  • JICA mendanai pekerjaan bawah tanah sepanjang 8,6 km (Grogol–Cempaka Baru) mencakup delapan stasiun bawah tanah, sistem rel, dan armada.
  • ADB membiayai jalur layang sepanjang 15,9 km (Tomang–Grogol dan Cempaka Baru–Medan Satria) dengan total 13 stasiun layang.

Pinjaman Jepang senilai ¥140,69 miliar (sekitar Rp14,51 triliun) diberikan melalui skema Special Terms for Economic Partnership (STEP) dengan bunga tetap 0,3% per tahun dan tenor hingga 40 tahun.

Daftar 21 Stasiun MRT Balaraja–Cikarang Fase 1 Tahap 1

Tomang, Grogol, Roxy, Petojo, Cideng, Thamrin, Kebon Sirih, Kwitang, Senen, Galur, Cempaka Baru, Sumur Batu, Pakulonan Barat, Pakulonan Timur, Perintis, Pulo Gadung, Penggilingan, Cakung Barat, Pulo Gebang, Ujung Menteng, dan Medan Satria.

Depo MRT akan dibangun di Rorotan dengan jalur akses 5,4 kilometer untuk mendukung operasional dan perawatan armada.

Integrasi dan Dampak Ekonomi

Jalur Balaraja–Cikarang akan menjadi tulang punggung konektivitas baru yang menghubungkan kawasan industri Bekasi, pusat bisnis Jakarta, dan wilayah pengembangan baru di Tangerang.

Selain mempercepat mobilitas, proyek ini diharapkan:

1. Mengurangi kemacetan dan emisi karbon,

2. Meningkatkan efisiensi ekonomi wilayah Jabodetabek,

3. Menjadi simbol transformasi transportasi massal Indonesia menuju masa depan yang hijau dan berkelanjutan. (*)

LAINNYA