Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, memimpin rapat koordinasi percepatan pencegahan stunting sebagai bagian dari penguatan intervensi sejak masa pra-kehamilan di Kota Tangerang Selatan. (Foto: Ist) KOTA TANGSEL | TD – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) memperkuat upaya percepatan penurunan stunting dengan mengedepankan langkah pencegahan sejak masa pra-kehamilan. Strategi ini dilakukan untuk menciptakan generasi yang sehat dan bebas stunting melalui penguatan layanan kesehatan ibu dan anak dari hulu.
Komitmen tersebut diwujudkan dengan memastikan setiap calon ibu, ibu hamil, hingga anak pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) memperoleh pendampingan dan intervensi gizi secara optimal. Periode tersebut dinilai sebagai fase paling krusial dalam menentukan tumbuh kembang anak, karena kekurangan gizi pada masa ini dapat berdampak permanen terhadap perkembangan fisik dan kognitif.
Melalui Dinas Kesehatan bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK), Pemkot Tangsel terus mengintensifkan pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, pemantauan pertumbuhan balita di posyandu, serta edukasi gizi secara berkelanjutan. Program ini juga melibatkan kader PKK, pemerintah kecamatan, dan kelurahan agar intervensi dapat menjangkau masyarakat secara tepat sasaran.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai bahkan sebelum kehamilan terjadi. Karena itu, edukasi bagi calon pengantin menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah.
“Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, bahkan sejak masa persiapan kehamilan. Karena itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, memastikan ibu hamil mendapatkan pendampingan, pemenuhan gizi, serta akses layanan kesehatan yang optimal. Dengan intervensi yang dilakukan sejak dini, kita berharap setiap anak di Tangerang Selatan dapat tumbuh sehat, cerdas, dan berkembang secara maksimal,” ujar Benyamin dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).
Menurut Benyamin, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Ia menekankan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta rutin membawa balita ke posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Ia mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan yang telah disediakan sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.
“Investasi terbaik untuk masa depan Kota Tangerang Selatan adalah memastikan anak-anak kita tumbuh sehat sejak dalam kandungan hingga memasuki usia emas pertumbuhan. Untuk itu, kami mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia dan bersama-sama menjaga kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi lahirnya generasi unggul,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, mengatakan prevalensi stunting di Tangsel pada 2026 terus menunjukkan tren penurunan.
“Berkat kerja keras dan sinergi semua pihak, angka stunting di Tangsel saat ini berhasil ditekan hingga menyentuh 8,2 persen. Capaian ini sudah berada jauh di bawah rata-rata target nasional,” kata Asep.
Selain mendukung penyebaran informasi program pemerintah, Diskominfo juga berperan memperluas edukasi terkait pencegahan stunting melalui berbagai platform digital. Menurut Asep, pendekatan ini penting untuk menjangkau generasi muda dan pasangan usia subur sekaligus meluruskan berbagai informasi keliru yang beredar di media sosial.
“Kami menyadari tantangan terbesar saat ini adalah menyamakan persepsi publik. Banyak ibu muda yang masih termakan mitos pola asuh keliru di media sosial. Oleh karena itu, Diskominfo gencar memproduksi konten edukasi berbasis video pendek, infografis, hingga podcast kesehatan yang bekerja sama dengan para dokter anak. Kami ingin literasi stunting ini masuk ke gawai setiap warga Tangsel,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya penurunan stunting juga diperkuat melalui penyediaan akses internet gratis di ruang publik dan balai warga dalam program Smart Kampung atau Smart Kelurahan. Fasilitas tersebut diharapkan memudahkan kader posyandu dan masyarakat mengakses aplikasi pelaporan gizi serta mengikuti edukasi pengasuhan anak secara daring.
“Penurunan stunting ini juga ditopang oleh penyediaan fasilitas internet gratis di ruang publik dan balai warga melalui program Smart Kampung atau Smart Kelurahan. Dengan akses internet yang stabil hingga ke pelosok RT/RW, para kader posyandu dan warga bisa lebih cepat mengakses aplikasi pelaporan gizi serta mengikuti kelas pengasuhan anak secara daring tanpa terkendala kuota,” pungkas Asep. (*)