
Ay Ka (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Di sebuah daerah di bawah garis khatulistiwa, asap hitam kebakaran hutan membumbung tinggi, meliuk-liuk mencakar langit. Tanah mengering dan pecah merekah. Udara dipenuhi debu, sementara angin membawa bau hangus yang menyengat. Lanskap itu bukan sekadar gambaran kerusakan ekologis, melainkan juga cermin tentang kehidupan yang kehilangan keseimbangan.
Di tengah bentang tanah yang gersang, hanya beberapa langkah dari wilayah yang terancam lidah api, sebatang pohon mangga berdiri dalam keheningan.
Cabang-cabangnya masih merindang. Buah-buahnya bergelantungan, sebagian ranum, sebagian lagi hijau menunggu waktu untuk matang. Di sekelilingnya, alam seolah sedang mengumumkan kekalahan kehidupan. Namun, pohon itu tetap menyimpan kemungkinan untuk berbuah.
Pemandangan tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan mendasar: apakah nilai keberadaan ditentukan oleh keadaan yang mengitarinya, atau oleh kemampuan untuk tetap menjaga daya hidup di tengah keadaan yang tidak bersahabat?
Pertanyaan ini membawa kita pada dua pemikiran besar dalam filsafat modern: absurdisme Albert Camus dan eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Keduanya menawarkan jalan untuk memahami manusia yang hidup di tengah ketidakpastian, tanpa jaminan bahwa dunia akan berjalan sesuai harapan.
Pohon mangga dalam tulisan ini tentu bukan makhluk yang secara sadar memilih jalan hidupnya sebagaimana manusia. Ia adalah metafora. Melalui keberadaannya, kita diajak membaca kembali hubungan antara keadaan, kebebasan, tanggung jawab, dan integritas.
Sebab, ketika lingkungan kehidupan mengering oleh krisis nilai, mempertahankan nurani dapat menjadi bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling mendasar.
Dalam pemikiran Albert Camus, absurditas muncul dari perjumpaan antara hasrat manusia untuk menemukan makna dan dunia yang tidak memberikan jawaban pasti atas hasrat tersebut.
Manusia menginginkan keadilan, tetapi ketidakadilan tetap terjadi. Manusia mendambakan keteraturan, tetapi kekacauan terus berulang. Kita berharap kebaikan memperoleh balasan setimpal, tetapi kenyataan tidak selalu bekerja menurut harapan moral kita.
Dunia tidak menjamin bahwa orang yang jujur akan selalu menang, bahwa orang yang bekerja keras akan selalu berhasil, atau bahwa mereka yang menjaga kebaikan akan terhindar dari penderitaan.
Dalam alegori pohon mangga, kemarau panjang dan tanah yang retak menjadi gambaran tentang dunia yang tidak selalu menyediakan kondisi ideal bagi kehidupan. Kebakaran di kejauhan memperlihatkan ancaman yang dapat datang tanpa menunggu kesiapan kita.
Dalam kehidupan sosial, gambaran itu terasa dekat. Kita menyaksikan benturan kepentingan, kerusakan lingkungan, ketimpangan, dan berbagai keadaan yang menguji keyakinan manusia terhadap nilai-nilai yang selama ini dipegangnya.
Di tengah kenyataan seperti itu, manusia dapat tergoda untuk menyerah. Jika kejujuran tidak selalu dihargai, untuk apa tetap jujur? Jika integritas justru membuat seseorang tersisih, mengapa harus mempertahankannya? Jika lingkungan telah dipenuhi praktik yang menyimpang, bukankah mengikuti arus menjadi pilihan yang lebih mudah?
Camus mengajak manusia menghadapi persoalan tersebut tanpa melarikan diri ke dalam harapan yang menutup mata terhadap kenyataan. Mengakui absurditas bukan berarti menyerah kepada kehampaan. Sebaliknya, kesadaran itu membuka kemungkinan untuk tetap hidup dan bertindak tanpa menuntut jaminan bahwa segala sesuatu akan berakhir sesuai keinginan.
Pohon mangga menjadi simbol dari keteguhan semacam itu. Ia tidak mengubah kemarau menjadi hujan. Ia tidak memadamkan kebakaran di kejauhan. Namun, dalam batas alegori ini, keberadaannya mengingatkan kita bahwa ancaman tidak harus menjadi satu-satunya penentu makna tindakan.
Kita mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan, tetapi masih dapat mempertanyakan apa yang hendak kita lakukan di dalamnya.
Jean-Paul Sartre merumuskan salah satu gagasan paling berpengaruh dalam eksistensialisme: l’existence précède l’essence, eksistensi mendahului esensi.
Dalam konteks manusia, gagasan ini berarti bahwa manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh suatu hakikat atau identitas yang telah selesai sejak awal. Manusia membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan yang dijalani, meskipun pilihan-pilihan tersebut selalu berlangsung dalam situasi konkret yang tidak seluruhnya dapat ia kendalikan.
Kita tidak memilih seluruh keadaan tempat kita dilahirkan. Kita tidak menentukan semua kesempatan yang tersedia, kondisi sosial yang membentuk kehidupan, atau peristiwa yang datang tanpa diduga. Namun, kita tetap berhadapan dengan pilihan tentang bagaimana merespons sebagian dari kenyataan tersebut.
Di sinilah kebebasan bertemu dengan tanggung jawab.
Sartre tidak memahami kebebasan sebagai kemampuan untuk melakukan apa saja tanpa batas. Kebebasan justru membawa beban karena manusia harus bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Dalam ungkapannya yang terkenal, manusia seolah-olah “dihukum untuk bebas”: ia tidak dapat sepenuhnya menghindari keharusan memilih dengan berlindung di balik ketiadaan pilihan.
Pohon mangga membantu kita membayangkan persoalan ini, meskipun bukan sebagai contoh langsung kebebasan sadar dalam pengertian Sartre. Pohon tersebut berakar dalam tanah tertentu, menghadapi iklim tertentu, dan hidup di tengah ancaman tertentu. Kondisi itu merupakan bagian dari kenyataan yang membatasi keberadaannya.
Dalam kehidupan manusia, kenyataan serupa hadir sebagai keadaan konkret yang tidak selalu dapat dipilih. Akan tetapi, keadaan bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan ketika kita menilai tindakan seseorang.
Seseorang mungkin bekerja dalam lingkungan yang penuh tekanan. Ia mungkin hidup dalam sistem yang tidak adil atau berada di tengah budaya yang menormalisasi penyimpangan. Semua itu perlu diperhitungkan secara serius. Namun, memahami tekanan lingkungan tidak sama dengan menganggap setiap tindakan yang lahir darinya otomatis benar.
Kebebasan tidak menghapus pengaruh keadaan, sebagaimana keadaan tidak selalu menghapus tanggung jawab.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah kita hidup dalam lingkungan yang baik atau buruk, melainkan nilai apa yang tetap kita pertahankan ketika lingkungan tersebut menguji keyakinan kita.
Pohon mangga, dalam batas metaforanya, mengajak kita melihat bahwa kehidupan tidak cukup dinilai dari kerasnya keadaan yang dihadapi. Kita juga perlu memperhatikan apa yang masih dapat dipelihara dan dihasilkan di tengah keterbatasan.
Dalam L’Être et le Néant atau Being and Nothingness, Sartre membahas konsep mauvaise foi, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai bad faith. Konsep ini merujuk pada penipuan terhadap diri sendiri, ketika seseorang berusaha menghindari kenyataan kebebasan dan tanggung jawabnya dengan bersembunyi di balik pembenaran tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kecenderungan itu dapat muncul melalui kalimat-kalimat yang terdengar masuk akal: saya hanya mengikuti kebiasaan, semua orang juga melakukannya, keadaan memaksa saya, atau tidak ada pilihan lain.
Tentu saja, tidak semua keterbatasan merupakan alasan yang dibuat-buat. Ada keadaan yang sungguh-sungguh membatasi pilihan seseorang. Kemiskinan, ancaman, ketimpangan kekuasaan, dan tekanan sosial bukan persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan nasihat agar seseorang lebih berani.
Namun, persoalannya muncul ketika keadaan digunakan sebagai pembenaran menyeluruh untuk menghindari pemeriksaan moral terhadap tindakan sendiri.
Dalam alegori pohon mangga, tanah yang kering, udara yang panas, dan asap kebakaran merupakan bagian dari kondisi yang mengancam kehidupan. Jika pohon itu kita bayangkan sebagai manusia, semua keadaan tersebut dapat menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Tetapi metafora ini justru mengarahkan perhatian kita pada pertanyaan lain: apakah kenyataan yang buruk harus selalu berakhir dengan keputusan untuk ikut memburuk?
Dalam kehidupan sosial, pertanyaan itu menjadi penting ketika penyimpangan perlahan-lahan dianggap wajar hanya karena dilakukan banyak orang. Ketika kebohongan disebut strategi, ketidakadilan dianggap prosedur, dan pengabaian nurani dibenarkan atas nama kepentingan, kita tidak lagi sekadar menghadapi lingkungan yang bermasalah. Kita menghadapi risiko menjadikan masalah itu sebagai bagian dari diri sendiri.
Mengakui kenyataan bukan berarti membenarkan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya.
Kita dapat mengakui bahwa sistem tidak adil tanpa harus ikut bertindak tidak adil. Kita dapat memahami tekanan ekonomi tanpa menjadikan penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang boleh diabaikan. Kita dapat menyadari bahwa lingkungan sedang rusak sambil tetap mempertanyakan bagian mana dari kerusakan itu yang dapat kita hentikan, sekecil apa pun.
Di sinilah integritas memperoleh maknanya. Integritas bukan keyakinan bahwa kita selalu benar, melainkan kesediaan untuk terus menguji tindakan sendiri, termasuk ketika pembenaran terasa lebih nyaman daripada kejujuran.
Bagaimana pohon mangga dapat tetap hidup ketika permukaan tanah mengering?
Secara biologis, jawabannya berkaitan dengan sistem perakaran, ketersediaan air, kondisi tanah, dan kemampuan tanaman menyesuaikan diri terhadap tekanan lingkungan. Pohon yang tetap berbuah dalam kemarau bukanlah keajaiban yang terbebas dari hukum alam. Keadaan itu bergantung pada berbagai kondisi yang memungkinkan kehidupannya bertahan.
Namun, justru di situlah metaforanya menjadi menarik.
Apa yang tampak di permukaan tidak selalu memperlihatkan seluruh proses yang menopang kehidupan. Buah yang bergelantungan merupakan hasil dari proses yang tidak seluruhnya terlihat oleh mata. Ada akar yang menyerap air dan unsur hara, ada jaringan yang mengangkutnya, serta ada proses biologis yang berlangsung tanpa sorotan.
Dalam kehidupan manusia, integritas pun kerap dibentuk melalui kerja yang tidak terlihat.
Orang mungkin mengenal hasil sebuah keputusan, tetapi tidak mengetahui pergulatan yang mendahuluinya. Mereka melihat seseorang menolak keuntungan yang tidak semestinya, tetapi tidak menyaksikan godaan yang harus dihadapi. Mereka melihat seseorang mempertahankan kejujuran, tetapi tidak selalu memahami konsekuensi sosial yang harus ditanggungnya.
Integritas jarang tumbuh secara mendadak. Ia berakar dalam kebiasaan kecil: keberanian mengakui kesalahan, kesediaan menepati janji, keteguhan untuk tidak memanipulasi fakta, serta kemauan mempertimbangkan dampak tindakan terhadap orang lain.
Akar itu tidak selalu menghasilkan pengakuan. Bahkan, dalam keadaan tertentu, orang yang mempertahankan prinsip justru dapat kehilangan kesempatan yang tersedia bagi mereka yang bersedia mengabaikannya.
Namun, nilai suatu tindakan tidak selalu dapat diukur dari penghargaan yang diterimanya.
Dalam kerangka eksistensialisme Sartre, kebebasan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab atas pilihan. Dalam pembacaan terhadap Camus, perlawanan terhadap absurditas juga tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar yang menjanjikan kemenangan akhir. Ia dapat hadir sebagai kesediaan untuk terus mempertahankan nilai kemanusiaan di tengah kenyataan yang tidak memberikan kepastian.
Akar pohon mangga, dengan demikian, menjadi simbol bagi kerja sunyi yang menopang integritas. Ia mengingatkan bahwa apa yang kelak tampak sebagai keteguhan sering kali dibangun melalui proses panjang yang tidak terlihat.
Meski demikian, metafora akar juga perlu dibaca dengan kesadaran sosial. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap sumber daya untuk bertahan. Karena itu, menghargai keteguhan pribadi tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban bersama untuk memperbaiki keadaan yang mengancam kehidupan.
Integritas personal dan perubahan struktural bukan dua pilihan yang harus saling meniadakan. Keduanya justru dapat saling menguatkan.
Dalam mitologi Yunani, Sisyphus dihukum untuk mendorong batu besar ke puncak gunung. Setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, batu tersebut kembali menggelinding ke bawah. Pekerjaan itu harus diulang tanpa akhir.
Albert Camus menggunakan mitos tersebut untuk memikirkan kondisi manusia yang berhadapan dengan pekerjaan, penderitaan, dan perjuangan yang tidak menjanjikan penyelesaian definitif.
Dalam Le Mythe de Sisyphe atau The Myth of Sisyphus, Camus menutup esainya dengan kalimat terkenal: Il faut imaginer Sisyphe heureux—kita harus membayangkan Sisyphus bahagia.
Kalimat itu bukan ajakan untuk menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia mengarahkan perhatian pada kesadaran Sisyphus terhadap nasibnya sendiri. Ketika ia memahami keadaan yang harus dihadapinya, Sisyphus tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ilusi bahwa pekerjaannya akan berakhir dengan kemenangan yang permanen.
Dalam pembacaan Camus, perjuangan memperoleh makna bukan karena dunia menjanjikan hasil yang adil, melainkan karena manusia dapat menghadapi kenyataan tanpa menyerahkan seluruh hidupnya kepada keputusasaan.
Pohon mangga dan Sisyphus bertemu dalam ruang simbolik tersebut.
Pohon mangga terus menjalani proses kehidupannya di tengah kemarau. Sisyphus terus mendorong batu meskipun batu itu akan kembali turun. Keduanya menggambarkan keberlangsungan tindakan ketika hasil akhirnya tidak dapat dijamin.
Namun, ada perbedaan penting. Sisyphus merupakan gambaran manusia yang sadar akan absurditas, sedangkan pohon mangga adalah metafora yang kita gunakan untuk mendekati persoalan tersebut. Pohon itu tidak sungguh-sungguh sedang membuat keputusan filosofis. Manusialah yang mengambil pelajaran dari gambaran tersebut.
Dalam kehidupan nyata, kita tidak selalu mengetahui apakah usaha yang dilakukan hari ini akan membuahkan hasil. Seorang guru mungkin tidak segera melihat perubahan pada muridnya. Seorang jurnalis mungkin harus mempertahankan akurasi di tengah tekanan. Seorang warga mungkin terus menjaga lingkungannya ketika perubahan belum tampak. Seseorang yang menolak kecurangan mungkin tidak memperoleh keuntungan yang sama dengan mereka yang memilih jalan pintas.
Tidak ada jaminan bahwa semua perjuangan itu akan berakhir sebagaimana diharapkan.
Tetapi ketiadaan jaminan bukan berarti ketiadaan alasan untuk bertindak.
Menjaga integritas tidak harus menunggu dunia memberikan penghargaan. Berbuat baik tidak harus menunggu semua orang melakukan hal yang sama. Memperjuangkan perubahan tidak harus menunggu kepastian bahwa kemenangan akan datang.
Kita bertindak bukan karena mampu menguasai seluruh hasil, melainkan karena menyadari nilai yang hendak dipertahankan melalui tindakan tersebut.
Di situlah perjuangan memperoleh maknanya: bukan dalam ilusi bahwa kita dapat mengendalikan segalanya, melainkan dalam kesediaan untuk tidak menyerahkan seluruh keputusan moral kepada ketidakpastian.
Pohon mangga yang bertahan di tengah kemarau dapat dibaca sebagai simbol keteguhan. Namun, ada satu hal yang tidak boleh luput: keteguhan tidak berarti bahwa pohon harus dibiarkan menghadapi kebakaran sendirian.
Jika kebakaran hutan disebabkan oleh kerusakan lingkungan, eksploitasi, atau kelalaian manusia, persoalannya tidak cukup dijawab dengan mengagumi pohon yang tetap hidup. Kita juga harus bertanya siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut dan apa yang dapat dilakukan untuk menghentikannya.
Demikian pula dalam kehidupan sosial. Mengajak seseorang menjaga integritas tidak boleh menjadi cara untuk membebaskan lembaga, pemegang kekuasaan, atau sistem dari tanggung jawabnya.
Tidak adil jika orang diminta terus bertahan dalam lingkungan yang merusak, sementara sumber kerusakannya dibiarkan. Tidak cukup pula memuji keteguhan individu apabila ketidakadilan yang menguji keteguhan itu terus dipelihara.
Integritas memang bermula dari keputusan personal, tetapi dampaknya dapat meluas menjadi tanggung jawab kolektif. Kejujuran seseorang dapat menjaga kepercayaan. Keberanian mengungkap penyimpangan dapat membuka ruang koreksi. Kesediaan mengakui kesalahan dapat membantu memperbaiki lembaga. Sementara itu, solidaritas memungkinkan mereka yang menghadapi tekanan tidak harus bertahan sendirian.
Karena itu, menjaga integritas bukan sekadar persoalan bagaimana seseorang mempertahankan dirinya agar tidak ikut rusak. Ia juga menyangkut bagaimana manusia bersama-sama memperbaiki keadaan yang membuat kerusakan terus berulang.
Pohon mangga tidak dapat memadamkan kebakaran di kejauhan. Tetapi manusia memiliki kemampuan untuk memahami penyebab kebakaran, mencegahnya, dan membangun sistem yang melindungi kehidupan.
Di sinilah refleksi filosofis perlu bertemu dengan tindakan nyata. Keteguhan personal memberi dasar moral bagi perubahan, sedangkan perubahan sosial membantu menciptakan lingkungan yang memungkinkan kehidupan tumbuh dengan lebih baik.
Pada akhirnya, pohon mangga dan Sisyphus mengajukan pertanyaan yang sama dari dua arah berbeda: apa yang masih dapat kita lakukan ketika keadaan tidak memberikan jaminan bahwa perjuangan kita akan berhasil?
Pohon mangga menghadirkan gambaran tentang daya hidup yang tidak selalu tampak dari permukaan. Sisyphus mengingatkan bahwa kesadaran terhadap absurditas tidak harus berakhir pada penyerahan diri. Keduanya membantu kita melihat bahwa kehidupan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh cara kita menjalani prosesnya.
Namun, menjaga integritas bukan berarti menolak kenyataan, menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja, atau memikul seluruh beban perubahan seorang diri. Integritas justru menuntut kejernihan untuk membedakan apa yang dapat kita kendalikan, apa yang harus kita perjuangkan bersama, dan apa yang perlu kita terima tanpa menjadikannya pembenaran untuk berbuat salah.
Kita mungkin tidak dapat segera mengubah keadaan. Kita tidak selalu mampu menghentikan ketidakadilan, memadamkan seluruh kebakaran, atau memastikan bahwa setiap perjuangan berakhir dengan kemenangan. Namun, kita tetap dapat memilih untuk tidak menjadikan keburukan sebagai alasan untuk ikut berbuat buruk.
Keringnya lingkungan di luar tidak seharusnya menjadi alasan bagi mengeringnya nurani di dalam.
Kalimat itu bukan ajakan untuk mengabaikan keadaan yang tidak adil. Sebaliknya, ia merupakan pengingat bahwa perubahan membutuhkan dua keberanian sekaligus: keberanian menjaga diri agar tidak larut dalam kerusakan dan keberanian memperbaiki keadaan agar kerusakan tidak terus diwariskan.
Sebab, dunia tidak akan menjadi lebih baik hanya karena kita mampu bertahan di dalamnya. Ia juga membutuhkan tindakan untuk mengubah hal-hal yang membuat kehidupan terancam.
Ketika tanah di bawah kaki retak, kita perlu mencari sumber kehidupan. Ketika lingkungan dipenuhi asap krisis moral, kita perlu menjaga kejernihan nurani. Dan ketika batu kehidupan kembali menggelinding ke lembah, kita perlu menemukan alasan untuk melanjutkan perjuangan tanpa kehilangan kesadaran tentang apa yang sedang kita perjuangkan.
Barangkali, buah paling berharga dari sebuah kehidupan bukanlah kemenangan yang selalu terlihat, melainkan integritas yang tetap terjaga ketika tidak ada jaminan bahwa siapa pun akan menyaksikannya.
Di tengah dunia yang tidak selalu memberikan jawaban, manusia masih dapat memilih untuk tidak berhenti mengajukan pertanyaan moral kepada dirinya sendiri.
Dan di tengah krisis yang belum tentu segera berakhir, pilihan itu mungkin merupakan salah satu bentuk perlawanan paling mendasar: tetap menjaga kehidupan, merawat nurani, dan tidak membiarkan diri menjadi bagian dari kerusakan yang ingin kita ubah.
Penulis: Ay Ka, tinggal di Tangerang. (*)