Jejak Lisan dan Batin Abah Anom: Hari Santri, Nasionalisme, dan Jalan Pengabdian

waktu baca 9 menit
Jumat, 23 Okt 2026 19:34 55 Redaksi

OPINI | TD — Kita baru saja memperingati Hari Santri Nasional 2026. Peringatan ini bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan kaum santri, melainkan momentum untuk merenungkan kembali peran santri dalam merawat agama, membangun bangsa, dan menjaga masa depan Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren bukan hanya menjadi tempat mempelajari ilmu agama. Dari lingkungan pesantren lahir ulama, pendidik, dan pejuang yang turut membentuk kesadaran kebangsaan.

Ketika kemerdekaan Indonesia dipertaruhkan, kaum santri mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa. Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda penting bahwa bagi kaum santri, tanggung jawab keagamaan dan pembelaan terhadap tanah air dapat berjalan beriringan.

Sejarah tersebut menyampaikan pesan bahwa menjadi santri tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu agama. Santri juga dituntut memiliki tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Ia harus mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bersama, merawat persaudaraan, menghormati perbedaan, dan memberikan sumbangsih bagi kemajuan Indonesia.

Lantas, santri seperti apakah yang sesungguhnya ingin kita lahirkan? Apakah santri yang menguasai banyak ilmu, tetapi belum mampu menjaga akhlaknya? Apakah santri yang pandai berbicara tentang agama, tetapi belum menunjukkan kepedulian terhadap persoalan masyarakat? Ataukah santri yang menjadikan ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan mengabdikan kemampuan bagi kemaslahatan umat serta bangsa?

Pertanyaan ini membawa kita untuk menengok kembali keteladanan Pangersa Abah Anom, Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin r.a., Mursyid Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya. Dalam perspektif kehidupan spiritual dan pendidikan akhlak, keteladanan beliau mengingatkan kita bahwa ilmu, zikir, adab, dan pengabdian tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Semuanya perlu menyatu dalam pembentukan manusia yang baik, bermanfaat bagi sesama, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Dari sini, kita dapat membaca kembali makna Hari Santri: memperkuat hubungan manusia dengan Allah sekaligus menumbuhkan tanggung jawab terhadap sesama manusia dan tanah air.

Ilmu, Akhlak, dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Allah SWT berfirman dalam surat al-Mujadalah ayat 11 yang artinya: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman dan ilmu memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Namun, kemuliaan ilmu tidak semestinya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semakin dalam ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kerendahan hati, memperbaiki perilaku, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dalam kehidupan berbangsa, ilmu juga tidak boleh berhenti sebagai modal untuk meraih kedudukan pribadi. Ilmu harus menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan, menegakkan keadilan, serta membangun kehidupan bangsa yang lebih bermartabat. Nasionalisme, dalam pengertian ini, bukan sekadar kebanggaan terhadap simbol-simbol negara. Nasionalisme merupakan kesadaran untuk mencintai tanah air, menghargai sejarah perjuangan bangsa, menjaga persatuan, dan mengambil tanggung jawab atas masa depan bersama.

Bagi seorang santri, kecintaan kepada tanah air dapat diwujudkan melalui kesungguhan belajar, kejujuran dalam bertindak, penghormatan kepada perbedaan, serta kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan. Ia tidak harus selalu berada di medan perjuangan sebagaimana generasi terdahulu. Pada zamannya sendiri, santri dapat berjuang melalui pendidikan, dakwah yang menyejukkan, pengabdian sosial, penguasaan ilmu pengetahuan, dan keteladanan akhlak. Dengan demikian, ilmu yang disertai iman dan akhlak bukan hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya nasionalisme yang beradab.

Meneladani Perjalanan Keilmuan dan Pembinaan Utuh

Pangersa Abah Anom merupakan teladan dalam kesungguhan menuntut ilmu dan pembinaan kehidupan spiritual. Perjalanan keilmuan beliau mengingatkan kita bahwa ilmu tidak diperoleh melalui jalan yang mudah. Ia menuntut kesabaran, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, serta kerendahan hati untuk terus belajar.

Seorang santri tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya. Kehidupan selalu menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Santri juga tidak boleh berhenti memperbaiki diri, sebab mengetahui kebaikan belum tentu berarti mampu melaksanakannya. Di sinilah kita menemukan pelajaran penting: ilmu bukan untuk membesarkan diri, melainkan untuk memperbaiki diri; bukan untuk merendahkan orang lain, melainkan untuk membimbing dan memberikan manfaat kepada sesama.

Jika ditarik ke dalam konteks kebangsaan, pendidikan pesantren memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar menghasilkan individu yang menguasai pengetahuan agama. Pesantren juga berperan membentuk warga negara yang jujur, mandiri, toleran, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Pendidikan yang utuh dapat dipahami melalui empat dimensi yang saling melengkapi. Tarbiyah, yakni pembinaan dan pertumbuhan diri agar terbentuk pribadi yang sabar, ikhlas, disiplin, bertanggung jawab, serta istiqamah dalam kebaikan. Dalam kehidupan kebangsaan, tarbiyah membantu menumbuhkan kedisiplinan, daya juang, dan kesediaan mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.

Ta’lim, yakni proses memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Santri harus mencintai ilmu, menghormati guru, berpikir terbuka, dan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Dalam konteks Indonesia, semangat ta’lim perlu melahirkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Ta’dib, yakni pembentukan adab dan perilaku mulia. Kepandaian harus disertai kesantunan; perbedaan pendapat tidak menjadi alasan untuk menghina; dan kekuasaan tidak boleh menjadikan seseorang sombong. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, adab merupakan fondasi penting untuk menjaga kerukunan dan persatuan.

Talqin, yakni pengajaran zikir dalam tradisi Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya. Dalam tradisi ini, talqin menjadi bagian dari pembinaan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjaga kesadaran batin, dan menumbuhkan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Keempat dimensi tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan, tetapi juga membina hati, membentuk adab, dan menuntun perilaku. Kita tidak ingin melahirkan manusia yang luas pengetahuannya tetapi sempit kasih sayangnya, atau rajin beribadah tetapi mudah menyakiti sesama.

Kita juga tidak ingin menghasilkan generasi yang pandai berbicara tentang cinta tanah air, tetapi tidak jujur dalam menjalankan amanah, tidak menghargai perbedaan, dan tidak peduli terhadap penderitaan masyarakat. Sebab, salah satu ukuran keberhasilan pendidikan adalah sejauh mana pengetahuan, keyakinan, dan nilai-nilai yang dipelajari mampu memperbaiki diri serta memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Harmoni Zikir, Akhlak, dan Pengabdian Kebangsaan

Salah satu ciri khas kehidupan spiritual di Pondok Pesantren Suryalaya adalah pengamalan TQN melalui zikir jahar dan khofi. Dalam tradisi ini, zikir bukan sekadar rangkaian ucapan yang diulang-ulang, melainkan bagian dari ikhtiar seorang hamba untuk senantiasa mengingat Allah dan memperbaiki keadaan hatinya. Allah SWT berfirman: Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

Zikir membimbing manusia untuk menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Kesadaran tersebut semestinya mendorong tumbuhnya kerendahan hati, kemampuan mengendalikan diri, kesabaran, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan. Zikir juga perlu tercermin dalam perilaku: lisan yang terjaga, tindakan yang berhati-hati, penghormatan kepada sesama, serta kesungguhan menjauhi larangan-Nya. Zikir menjadi pembinaan batin, sedangkan akhlak merupakan salah satu wujud nyata dari pembinaan tersebut.

Dalam kehidupan berbangsa, nilai-nilai ini memiliki arti penting. Persatuan tidak akan terpelihara jika masyarakat mudah membenci, merendahkan kelompok lain, atau menyebarkan fitnah. Kehidupan demokratis juga tidak akan tumbuh sehat jika perbedaan pandangan selalu disikapi dengan permusuhan. Karena itu, pembinaan spiritual yang melahirkan akhlak mulia dapat menjadi salah satu fondasi moral dalam merawat Indonesia. Bukan berarti nasionalisme hanya dimiliki oleh orang yang menempuh jalan spiritual tertentu, melainkan bahwa nilai keikhlasan, pengendalian diri, kasih sayang, dan tanggung jawab dapat memberikan sumbangan penting bagi kehidupan kebangsaan.

Keteladanan Pangersa Abah Anom juga dapat direnungkan melalui pengabdian dan pembinaan umat. Perhatian terhadap masyarakat, termasuk pembinaan spiritual bagi mereka yang membutuhkan pemulihan diri, menunjukkan pentingnya menghadirkan agama dalam upaya memperbaiki kehidupan manusia.

Kesalehan tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga perlu diwujudkan melalui hubungan baik dengan sesama (hablum minannas). Dalam kehidupan berbangsa, prinsip ini dapat diperluas menjadi kesediaan berkontribusi bagi kepentingan umum, membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, dan menjaga kerukunan di tengah perbedaan.

Cinta tanah air tidak harus selalu dinyatakan melalui kata-kata yang lantang. Ia dapat hadir dalam kesediaan seorang guru mendidik dengan sungguh-sungguh, seorang pejabat menjalankan amanah tanpa korupsi, seorang santri menyebarkan kedamaian, dan seorang warga menghormati hak orang lain. Nasionalisme yang demikian tumbuh bukan dari kebencian terhadap pihak lain, melainkan dari kesadaran untuk merawat kehidupan bersama.

Santri dan Tantangan Nasionalisme di Era Digital

Tantangan santri masa kini berbeda dengan tantangan yang dihadapi generasi terdahulu. Jika pada masa perjuangan kemerdekaan tantangan utama berupa kolonialisme dan ancaman terhadap kedaulatan negara, pada masa sekarang tantangannya juga menyangkut kualitas manusia, ketahanan sosial, integritas, dan kemampuan menghadapi perubahan global.

Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi membuka peluang besar bagi santri untuk belajar, berdakwah, dan memperluas jaringan pengetahuan. Namun, perkembangan ini juga menghadirkan persoalan: penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan digital, intoleransi, dan penggunaan teknologi tanpa tanggung jawab.

Dalam keadaan demikian, nasionalisme tidak cukup dimaknai sebagai kebanggaan terhadap masa lalu. Nasionalisme harus menjadi energi untuk memperbaiki masa kini dan mempersiapkan masa depan Indonesia.

Santri perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan pegangan moral. Mereka harus kritis dalam menerima informasi, jujur dalam berkarya, santun dalam menyampaikan pendapat, serta mampu membedakan kritik yang membangun dari ujaran kebencian.

Meneladani nilai-nilai yang dapat dipetik dari kehidupan Pangersa Abah Anom berarti menerjemahkan ilmu, zikir, akhlak, dan pengabdian ke dalam tindakan nyata sesuai dengan peran masing-masing.

Sebagai santri dan pelajar, kita belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati guru, serta mempersiapkan diri untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa. Sebagai guru dan pendidik, kita membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter, menghargai keberagaman, dan memahami pentingnya hidup bersama secara damai. Sebagai orang tua, kita menanamkan kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan kecintaan kepada tanah air melalui keteladanan sehari-hari.

Sebagai pemimpin dan pejabat publik, kita memandang kekuasaan sebagai amanah untuk melayani rakyat, bukan kesempatan untuk memperkaya diri atau mengutamakan kepentingan kelompok. Sebagai warga negara, kita menjaga kerukunan, menghormati perbedaan agama, suku, budaya, dan pandangan politik, serta menempatkan persatuan Indonesia sebagai tanggung jawab bersama. Dengan demikian, santri masa kini tidak cukup hanya mewarisi simbol dan tradisi kesantrian. Mereka perlu menghidupkan nilai-nilainya dalam menghadapi persoalan nyata bangsa.

Dari Zikir Menuju Khidmat bagi Indonesia

Hari Santri mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan. Generasi sekarang ditantang mengisi kemerdekaan dengan ilmu, integritas, keadilan, dan pengabdian. Dalam konteks itulah, jejak lisan dan batin Pangersa Abah Anom layak direnungkan kembali. Kedalaman spiritual harus mendorong perbaikan akhlak; akhlak harus melahirkan kepedulian; dan kepedulian harus diwujudkan dalam pengabdian yang membawa manfaat bagi kehidupan bersama.

Dari refleksi ini, setidaknya ada lima komitmen yang patut kita perkuat. Pertama, menjadi penuntut ilmu sepanjang hayat, sebab bangsa yang maju membutuhkan warga yang terus belajar dan mampu menjawab perubahan zaman. Kedua, mengamalkan ilmu dengan akhlak mulia, sebab kecerdasan tanpa integritas dapat kehilangan arah dan justru merugikan masyarakat.

Ketiga, menjaga hati melalui zikir, ibadah, dan keikhlasan, agar kehidupan spiritual membimbing kita untuk bersikap rendah hati dan bertanggung jawab. Keempat, merawat persatuan dalam keberagaman, sebab Indonesia dibangun oleh perjuangan bersama dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya, dan daerah. Kelima, mengabdikan kemampuan bagi kemaslahatan bangsa melalui pendidikan, dakwah yang menyejukkan, pelayanan masyarakat, dan keteladanan dalam menjalankan amanah.

Dengan demikian, nilai-nilai keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian yang diwariskan Pangersa Abah Anom dapat terus dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Pada akhirnya, menjadi santri bukan sekadar mewarisi tradisi, melainkan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam tindakan nyata demi menjaga persatuan dan setia merawat Indonesia.

Penulis: Dr. Nana Suryana, M.Pd, Dosen IAILM Suryalaya Tasikmalaya dan pemerhati pendidikan dasar. (*)

LAINNYA