Ilustrasi konsep budaya Sunda yang menempatkan ngaji sebagai proses menalar diri, dipadukan dengan nilai nyakola (menajamkan nalar), nyantri (menyucikan hati), dan nyunda (menghidupkan nilai dalam kehidupan sehari-hari). (Ilustrasi gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan) KOLOM | TD — Dalam khazanah budaya Sunda, ngaji tidak semata dimaknai sebagai aktivitas membaca kitab suci atau menimba ilmu agama secara formal. Lebih dari itu, ngaji adalah proses menyelami diri—sebuah perjalanan batin untuk memahami hakikat hidup, menimbang laku, serta merawat kesadaran akan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.
Ungkapan Sunda yang berbunyi, “Ngaji mah ulah nuduh kanu jauh, ulah nyawang anu anggang. Padahal ieu (hate) anu caket geura raketan, anu deukeut geura deueusan. Moal jauh tina wujud, moal renggang tina awak,” mengandung pesan filosofis yang dalam. Ia mengingatkan bahwa pencarian kebenaran tidak perlu dimulai dari sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan dari yang paling dekat: diri sendiri.
Dalam konteks ini, hate (hati) menjadi pusat permenungan. Hati bukan sekadar organ biologis, tetapi ruang batin tempat nilai, niat, dan kesadaran bertemu. Budaya Sunda sejak lama menempatkan hati sebagai kompas moral—penentu arah antara benar dan salah, antara hawa nafsu dan kebijaksanaan.
Makna ulah nuduh kanu jauh dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk tidak sibuk mencari kesalahan atau kebenaran di luar diri, sementara batin sendiri belum ditata. Seringkali manusia terjebak dalam penilaian terhadap orang lain, merasa paling benar, namun lalai dalam mengoreksi diri. Di sinilah ngaji menjadi refleksi: proses menalar diri dengan jujur dan rendah hati.
Sementara itu, anu caket geura raketan, anu deukeut geura deueusan mengandung dorongan untuk mendekatkan diri pada hal-hal yang esensial—nilai kebaikan, kejujuran, dan kesadaran spiritual. Apa yang sudah dekat, seperti keluarga, lingkungan, dan diri sendiri, justru kerap terabaikan. Padahal dari situlah pemahaman hidup seharusnya tumbuh.
Budaya Sunda mengajarkan keseimbangan antara rasa dan nalar. Ngaji tidak hanya mengasah logika, tetapi juga memperhalus rasa. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan rasional, dimensi rasa sering kali terpinggirkan. Padahal, tanpa rasa, nalar bisa menjadi kering; tanpa nalar, rasa bisa kehilangan arah.
Ungkapan penutup, moal jauh tina wujud, moal renggang tina awak, menegaskan bahwa kebenaran sejatinya tidak jauh dari diri manusia. Ia hadir dalam keseharian, dalam sikap, dalam pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari. Kedekatan dengan Tuhan dan makna hidup bukan sesuatu yang harus dicari ke tempat yang jauh, tetapi disadari dan dirawat dari dalam diri.
Dengan demikian, ngaji dalam perspektif budaya Sunda adalah proses holistik: membaca, merasakan, dan memahami diri secara utuh. Ia mengajak manusia untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara spiritual. Di tengah dunia yang kian bising, ngaji menjadi ruang sunyi untuk kembali pulang—kepada diri, kepada hati, dan pada akhirnya, kepada Sang Maha Wujud.
Nyakola, Nyantri, Nyunda sebagai Jalan Menyempurnakan Diri
Jika ngaji adalah pintu masuk untuk menalar dan menyadari diri, maka dalam budaya Sunda terdapat tiga laku lanjutan yang menjadi jalan penyempurnaannya: nyakola, nyantri, dan nyunda. Ketiganya bukan sekadar istilah, melainkan tahapan nilai yang membentuk manusia Sunda seutuhnya—cerdas pikir, jernih batin, dan halus laku.
Nyakola: Menajamkan Nalar, Membuka Wawasan
Nyakola berasal dari kata sakola (sekolah), namun maknanya melampaui pendidikan formal. Ia adalah proses belajar sepanjang hayat—mengasah akal, memperluas wawasan, dan membangun cara berpikir yang jernih. Dalam konteks ini, nyakola tidak hanya mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang mampu menimbang, tidak mudah terprovokasi, dan memiliki kedewasaan intelektual.
Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi, nyakola menjadi benteng agar manusia tidak mudah terseret hoaks, fanatisme sempit, atau kesimpulan dangkal. Ia melatih kita untuk berpikir runtut, mempertanyakan, sekaligus memahami dengan utuh. Namun, budaya Sunda mengingatkan: kecerdasan tanpa kebijaksanaan bisa melahirkan kesombongan. Maka nyakola harus selalu dituntun oleh hati.
Nyantri: Menyucikan Hati, Menata Laku
Jika nyakola menajamkan akal, maka nyantri menenangkan batin. Nyantri bukan semata tinggal di pesantren, tetapi proses mendisiplinkan diri dalam nilai-nilai spiritual—keikhlasan, kesabaran, tawadhu, dan kedekatan dengan Tuhan. Di sinilah ngaji menemukan kedalamannya: tidak hanya dipahami, tetapi dihayati.
Nyantri melatih manusia untuk tidak sekadar tahu, tetapi juga menjadi. Ia mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kehampaan. Dalam laku nyantri, seseorang belajar menundukkan ego, menerima keterbatasan, dan memperbaiki diri secara terus-menerus. Ini adalah proses sunyi, namun justru paling menentukan arah hidup.
Nyunda: Menghidupkan Nilai dalam Kehidupan
Puncaknya adalah nyunda—yakni menghidupkan nilai-nilai Sunda dalam keseharian. Nyunda bukan hanya soal bahasa atau identitas kultural, tetapi tentang sikap hidup: lemah lembut, someah (ramah), silih asah, silih asih, silih asuh. Di sinilah ilmu dan spiritualitas menjelma menjadi tindakan nyata.
Nyunda adalah praktik etika sosial: bagaimana menghormati orang lain, menjaga harmoni, serta menempatkan diri dengan tepat dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menjembatani antara nalar dan rasa, antara ilmu dan amal. Tanpa nyunda, pengetahuan dan kesalehan bisa kehilangan makna sosialnya.
Harmoni Tiga Laku: Menjadi Manusia Utuh
Nyakola, nyantri, dan nyunda bukanlah jalan yang terpisah, melainkan satu kesatuan. Nyakola tanpa nyantri bisa melahirkan kecerdasan yang kering nilai. Nyantri tanpa nyakola berisiko menjadi sempit dalam pandangan. Sementara keduanya tanpa nyunda akan kehilangan relevansi dalam kehidupan nyata.
Dalam kerangka ini, ngaji menjadi fondasi—kesadaran awal untuk mengenal diri. Lalu nyakola mengasah pikiran, nyantri membersihkan hati, dan nyunda mewujudkannya dalam laku hidup. Inilah filosofi Sunda yang mengajarkan keseimbangan: antara cipta, rasa, dan karsa.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, konsep ini tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa menjadi manusia tidak cukup hanya dengan pintar atau saleh, tetapi juga harus beradab. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya apa yang kita tahu, tetapi bagaimana kita hidup—dan sejauh mana kita memberi makna bagi sesama.
Penulis: Wahyu Nur Rahman. (*)