Menelusuri Jejak Ontologis Nalar Manusia Modern

waktu baca 5 menit
Minggu, 17 Mei 2026 15:04 19 Redaksi

OPINI | TD — Belakangan ini, publik kembali dibuat marah oleh berbagai kasus pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Tempat yang seharusnya menjadi ruang tumbuh ilmu, akhlak, dan kepercayaan justru berubah menjadi ruang yang melukai banyak orang. Lebih menyakitkan lagi, sebagian pelaku berlindung di balik otoritas, simbol agama, atau posisi sosial yang dihormati.

Peristiwa-peristiwa seperti ini sebenarnya tidak lahir begitu saja. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pelanggaran hukum atau moral. Kita sedang berhadapan dengan krisis cara manusia memandang dirinya sendiri.

Ketika seseorang merasa dirinya paling tinggi, paling suci, paling berhak atas hidup orang lain, maka kekuasaan mudah berubah menjadi penindasan. Dalam kondisi seperti itu, ilmu kehilangan ruhnya, agama kehilangan kelembutannya, dan manusia kehilangan kesadaran akan batas dirinya sendiri.

Barangkali masalah terdalam manusia modern adalah ia terlalu sering merasa dirinya “ada” secara penuh.

Padahal mungkin, manusia bukan “ada”, melainkan “diadakan”.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi memiliki gema yang sangat dalam dalam tradisi tasawuf dan filsafat Islam. Dalam banyak ajaran para sufi, keberadaan manusia dipahami bukan sebagai sesuatu yang mandiri, melainkan sesuatu yang terus-menerus ditopang oleh Tuhan.

Namun sebelum masuk ke sana, penting memahami bahwa cara pandang manusia modern terhadap realitas sebenarnya dibentuk oleh fondasi filsafat tertentu, terutama warisan Cartesian–Newtonian.

Nama René Descartes dan Isaac Newton menjadi sangat penting dalam membentuk nalar modernitas. Dari keduanya lahir cara pandang dunia yang melihat realitas seperti mesin raksasa: teratur, mekanis, dapat diukur, diprediksi, dan dikendalikan.

Descartes memisahkan subjek dan objek secara tegas. Manusia ditempatkan sebagai pusat kesadaran yang mengamati dunia dari luar. Sementara Newton menghadirkan semesta sebagai sistem mekanik yang tunduk pada hukum-hukum pasti layaknya jam raksasa.

Dari sinilah lahir ontologi modern: manusia sebagai subjek pengendali, dan alam — bahkan kadang manusia lain — sebagai objek yang bisa diatur, digunakan, dan dikuasai.

Paradigma ini memang melahirkan kemajuan besar dalam sains dan teknologi. Namun secara perlahan, ia juga membentuk manusia yang merasa dirinya pusat realitas. Segala sesuatu diukur berdasarkan kontrol, efisiensi, dan dominasi.

Tanpa disadari, pola pikir seperti ini merembes ke hampir seluruh aspek kehidupan: pendidikan, politik, ekonomi, bahkan agama.

Relasi yang seharusnya dilandasi amanah berubah menjadi relasi kuasa. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai sesama makhluk, tetapi sebagai objek.

Di titik paling gelap, tubuh manusia pun bisa diperlakukan sebagai benda yang dapat dikuasai. Dari sinilah berbagai bentuk kekerasan, termasuk pelecehan seksual, menemukan ruangnya: ketika seseorang kehilangan kesadaran bahwa dirinya dan orang lain sama-sama makhluk yang rapuh dan bergantung.

Tasawuf menawarkan arah pandang yang berbeda.

Dalam tradisi sufi, manusia bukan pusat keberadaan. Ia hanyalah makhluk yang “diadakan”. Di sinilah konsep ijad menjadi penting.

Ijad berarti pengadaan — bahwa keberadaan makhluk berasal dari kehendak Allah yang menghadirkannya dari ketiadaan menuju keberadaan. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Ia tidak memilih lahir, tidak menentukan napas pertamanya, bahkan tidak mampu memastikan jantungnya berdetak beberapa saat lagi.

Namun pengadaan itu tidak berhenti pada penciptaan awal. Dalam tasawuf juga dikenal konsep imdad, yakni limpahan penopang keberadaan secara terus-menerus. Artinya, manusia bukan hanya “diciptakan”, tetapi juga “dipertahankan” agar tetap ada.

Jika limpahan itu terputus sekejap saja, manusia kembali pada kefanaannya.

Kesadaran inilah yang perlahan hilang dalam manusia modern. Kita hidup di zaman yang sangat memuja ego. Nilai seseorang diukur dari pengaruhnya, jabatan, kekayaan, dan citra yang ia bangun di hadapan publik. Media sosial mempercepat semuanya: manusia berlomba menjadi pusat perhatian.

“Aku harus dianggap penting.”

“Aku harus dihormati.”

“Aku harus menang.”

Tanpa disadari, “aku” menjadi berhala baru.

Padahal para sufi sejak lama telah mengingatkan bahwa akar kehancuran manusia sering kali bukan kebodohan, melainkan rasa cukup terhadap dirinya sendiri. Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari berkali-kali menyinggung tentang kefakiran eksistensial manusia di hadapan Allah.

Konsep faqr dalam tasawuf bukan sekadar miskin secara materi, tetapi kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya membutuhkan Tuhan dalam seluruh aspek keberadaannya. Bahkan kemampuan untuk taat, berpikir, memahami, dan hidup adalah bentuk pertolongan yang terus mengalir.

Karena itu, seseorang yang benar-benar mengenal dirinya tidak mudah merasa paling tinggi.

Ia sadar bahwa ilmu yang dimilikinya bukan alasan untuk menguasai orang lain. Jabatan bukan legitimasi untuk merendahkan. Otoritas agama bukan tiket untuk merasa suci.

Kesadaran “diadakan” seharusnya melahirkan kerendahan hati.

Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak orang memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan kesadaran ontologis. Mereka memahami hukum, tetapi gagal memahami hakikat dirinya sendiri. Akibatnya, ilmu berubah menjadi alat dominasi, dan agama dipakai untuk melanggengkan kuasa.

Padahal semakin dalam seseorang memahami keberadaan, seharusnya semakin lembut ia terhadap sesama.

Descartes pernah mengatakan:

“Aku berpikir maka aku ada.”

Namun tradisi spiritual Islam mengajak manusia melangkah lebih jauh:

“Aku diadakan, maka aku bisa berpikir.”

Artinya, kesadaran manusia sendiri adalah pemberian, bukan kepemilikan mutlak.

Dari titik ini, hidup tidak lagi dipahami sebagai arena memperbesar ego, tetapi sebagai amanah keberadaan. Guru tidak merasa dirinya penguasa murid. Tokoh agama tidak merasa dirinya wakil mutlak Tuhan. Orang berilmu tidak sibuk mempertontonkan kesalehan demi penghormatan sosial.

Sebab semuanya sama-sama rapuh. Sama-sama bergantung. Sama-sama sedang ditopang agar tetap ada.

Mungkin krisis terbesar manusia modern bukan hanya krisis moral, tetapi krisis ontologis: manusia lupa bahwa dirinya bukan pusat semesta.

Dan mungkin pula, perubahan paling mendasar tidak dimulai dari merasa paling benar, melainkan dari kesadaran sederhana:

Aku tidak sepenuhnya ada karena diriku sendiri.
Aku sedang diadakan.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)

LAINNYA