Mengikis Antroposentrisme dengan Tazkiyatun Nafs

waktu baca 3 menit
Senin, 11 Mei 2026 10:29 106 Nazwa

OPINI | TD — Manusia modern tanpa pondasi keyakinan yang kuat kepada Tuhan terus mengalami krisis demi krisis diri yang akut tanpa jalan keluar. Krisis ini dipicu oleh sikap sombong dan angkuh yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentrisme). Akibatnya, kerusakan terus merambat di berbagai lini kehidupan: sosial, politik, hingga ekologis.

Tulisan ini berusaha melacak jejak krisis tersebut melalui pendekatan tasawuf sebagai jalan alternatif untuk membebaskan manusia dari belenggu ego yang mengikatnya, hingga sulit bergerak menuju perubahan yang hakiki.

Nalar Antroposentrisme

Ketika dunia Barat berada dalam pergulatan panjang mencari jalan keluar dari abad kegelapan, muncul René Descartes dengan diktumnya yang terkenal: Cogito Ergo Sum — “Aku berpikir maka aku ada.” Diktum ini menegaskan bahwa keberadaan manusia dibuktikan melalui kemampuan berpikirnya. Rasio ditempatkan sebagai fondasi utama kebenaran, sementara manusia menjadi subjek sentral dalam memahami realitas.

Selaras dengan itu, Isaac Newton hadir dengan pandangan mekanistik tentang alam semesta. Melalui hukum-hukum fisikanya, alam dipahami layaknya mesin raksasa yang bekerja secara teratur, matematis, dan dapat dikendalikan manusia. Alam bukan lagi dipandang sebagai entitas sakral yang memiliki keterhubungan spiritual dengan manusia, melainkan objek yang dapat dieksploitasi demi kepentingan manusia.

Pertemuan dua arus pemikiran ini kemudian melahirkan paradigma modernisme dan rasionalisme-positivistik, yang menempatkan manusia sebagai pusat pengetahuan sekaligus penguasa alam. Dari sinilah akar antroposentrisme modern tumbuh subur: manusia merasa mampu menentukan segalanya tanpa keterikatan pada dimensi transenden.

Dalam perkembangannya, paradigma ini memang melahirkan kemajuan teknologi dan sains yang luar biasa. Namun di saat yang sama, ia juga memunculkan krisis eksistensial. Manusia modern kehilangan orientasi ruhani, terjebak dalam budaya materialisme, individualisme, dan kerakusan tanpa batas. Alam dieksploitasi, relasi sosial menjadi kering, sementara batin manusia dipenuhi kecemasan dan kehampaan.

Tasawuf melihat akar masalah ini terletak pada dominasi nafs—ego diri yang tidak terkendali. Ketika ego menjadi pusat kehidupan, manusia cenderung merasa paling benar, paling penting, dan paling berhak atas segalanya. Dalam kondisi inilah, manusia perlahan menjauh dari Tuhan sekaligus kehilangan makna dirinya sendiri.

Tazkiyatun Nafs sebagai Jalan Pembebasan

Tasawuf menawarkan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai jalan untuk mengikis antroposentrisme. Penyucian jiwa bukan sekadar ritual spiritual, melainkan proses panjang untuk menundukkan ego, membersihkan hati dari kesombongan, serta mengembalikan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba di hadapan Tuhan.

Dalam tradisi sufi, manusia tidak ditempatkan sebagai pusat alam semesta, melainkan bagian kecil dari keteraturan kosmik yang seluruhnya berada dalam genggaman Allah. Kesadaran ini melahirkan sikap tawadhu, kasih sayang terhadap sesama, serta penghormatan terhadap alam.

Melalui dzikir, muhasabah, zuhud, dan pengendalian hawa nafsu, manusia diajak keluar dari penjara egonya. Tazkiyatun nafs mengubah orientasi hidup dari “aku adalah pusat segalanya” menjadi “Allah adalah pusat dari segala kehidupan.” Di titik inilah manusia menemukan kembali ketenangan batin sekaligus makna keberadaannya.

Jika antroposentrisme melahirkan eksploitasi, maka tasawuf menghadirkan harmoni. Jika egoisme menciptakan kerusakan, maka penyucian jiwa menumbuhkan kebijaksanaan. Sebab sejatinya, krisis manusia modern bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis ruhani akibat terputusnya hubungan manusia dengan Tuhan.

Maka, mengikis antroposentrisme melalui tazkiyatun nafs bukan hanya kebutuhan spiritual individual, tetapi juga ikhtiar peradaban untuk menghadirkan kembali manusia yang rendah hati, berkesadaran ilahiah, dan hidup selaras dengan sesama dan alam semesta.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)

LAINNYA