Memaknai Ulang Pengetahuan di Era Medsos

waktu baca 5 menit
Minggu, 24 Mei 2026 21:07 23 Redaksi

OPINI | TD — Ada gejala menarik di era media sosial hari ini: semakin banyak orang berbicara tentang pengetahuan, tetapi semakin sedikit yang benar-benar memahami apa yang dibicarakan. Kita hidup di tengah ledakan informasi, namun justru mengalami krisis kedalaman.

Media sosial telah mengubah cara manusia memperoleh ilmu. Pengetahuan kini dikonsumsi seperti makanan cepat saji: singkat, instan, dan mudah dibagikan ulang. Orang merasa cukup memahami filsafat setelah menonton video satu menit. Merasa mengenal spiritualitas setelah membaca kutipan motivasi. Bahkan merasa layak menjadi “guru” hanya karena mampu merangkai ulang opini yang sedang viral.

Fenomena ini melahirkan budaya pengetahuan instan: banyak yang gemar mengutip, sedikit yang mau mengkaji. Banyak yang pandai berbicara, tetapi malas menyelami akar persoalan. Pengetahuan akhirnya tidak lagi menjadi proses pencarian makna, melainkan sekadar komoditas citra sosial.

Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan rendahnya literasi, melainkan hilangnya fondasi berpikir. Orang sibuk memungut serpihan informasi tanpa bekal ontologi yang kuat: tanpa pemahaman tentang hakikat manusia, kehidupan, budaya, bahkan dirinya sendiri. Akibatnya, pengetahuan mudah berubah menjadi kebisingan intelektual. Semua orang merasa tahu, padahal hanya saling mengulang.

Dulu, proses belajar memiliki kedalaman batin. Orang membaca buku hingga tuntas, duduk di hadapan guru, berdialog, lalu merenungkan apa yang dipelajarinya dalam hidup sehari-hari. Ada kesabaran dalam menuntut ilmu. Ada kesadaran bahwa memahami sesuatu membutuhkan waktu panjang.

Kini, algoritma lebih sering menentukan apa yang dianggap benar. Ukuran kedalaman kalah oleh jumlah penonton dan tingkat viralitas. Yang ramai dibicarakan dianggap penting, sementara yang membutuhkan perenungan perlahan ditinggalkan.

Di titik inilah manusia modern mulai tercerabut dari akarnya.

Kita semakin jauh dari budaya berpikir yang lahir dari tradisi, pengalaman hidup, dan kebijaksanaan leluhur. Banyak orang lebih mengenal tren global dibanding akar budayanya sendiri. Lebih hafal istilah asing daripada memahami falsafah hidup yang diwariskan lingkungannya.

Padahal, budaya leluhur tidak hanya berisi ritual atau simbol tradisional. Di dalamnya tersimpan cara manusia memahami kehidupan: bagaimana menghormati alam, menjaga keseimbangan sosial, hingga memaknai hubungan antara manusia dan keberadaan yang lebih besar dari dirinya.

Modernitas memang memberi kecepatan, tetapi tidak selalu memberi arah. Teknologi membuat manusia mudah mengakses informasi, namun tidak otomatis membuatnya bijaksana. Sebab kebijaksanaan tidak lahir dari banyaknya data, melainkan dari kedalaman kesadaran.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita memaknai ulang pengetahuan.

Belajar bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi membangun cara berpikir. Pendidikan bukan hanya soal kecakapan teknis, melainkan kemampuan memahami makna hidup. Dan kesadaran tidak tumbuh dari kebisingan media sosial, tetapi dari keberanian untuk berpikir lebih dalam di tengah dunia yang serba cepat.

Jika tidak, manusia modern hanya akan menjadi generasi yang sibuk terlihat pintar, tetapi kehilangan kemampuan untuk benar-benar memahami.

Almarhum Emmanuel Subangun pernah mengingatkan bahwa pengetahuan modern perlahan berubah menjadi komoditas: diproduksi cepat, dikemas menarik, lalu dikonsumsi tanpa penghayatan.

Kami yang pernah menempa diri di bawah gemblengannya merasakan perbedaan metode untuk memahami realitas. Ketika ingin mempelajari nalar sosial, kami tidak sekadar disuruh membaca teori di ruang kelas. Kami diterjunkan langsung ke tengah masyarakat di Gunung Kidul. Prasyarat utamanya sederhana tetapi sulit: mengosongkan prasangka.

Kami diminta hadir sebagai manusia yang mau mendengar, bukan sebagai akademisi yang sibuk membenarkan teori. Sebab sering kali teori justru menjadi tembok yang membuat seseorang gagal melihat kenyataan apa adanya. Dalam banyak model pendidikan modern, realitas dipaksa masuk ke dalam kerangka asumsi yang sudah disiapkan sebelumnya. Akibatnya, pengetahuan lebih sering menjadi pembenaran atas teori, bukan perjumpaan dengan kenyataan.

Di lapangan, kami belajar bahwa manusia tidak pernah sesederhana konsep-konsep ilmiah. Kemiskinan, tradisi, keyakinan, bahkan cara masyarakat memandang hidup tidak selalu bisa diterangkan hanya melalui statistik atau pendekatan struktural. Ada pengalaman batin, ingatan budaya, dan kebijaksanaan hidup yang hanya dapat dipahami jika seseorang benar-benar hadir di tengah kehidupan itu sendiri.

Di situlah kami menyadari bahwa pengetahuan sejati bukan hanya sesuatu yang diketahui, melainkan sesuatu yang dialami.

Barangkali pengalaman demikian berdekatan dengan konsep ‘ilm hudhuri’ dalam tradisi filsafat Islam iluminatif: pengetahuan yang hadir melalui kehadiran langsung, bukan semata hasil representasi logika. Dalam tradisi ini, mengetahui bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga keterlibatan eksistensial. Seseorang tidak benar-benar memahami api hanya dengan definisi; ia memahami karena pernah merasakan panasnya.

Persoalannya, dunia media sosial justru bergerak ke arah sebaliknya. Pengetahuan dipisahkan dari pengalaman. Orang merasa memahami penderitaan hanya karena membaca utas. Merasa mengenal kebudayaan hanya karena menonton konten singkat. Bahkan merasa arif hanya karena mampu mengutip kalimat-kalimat bijak.

Padahal, pengetahuan tanpa pengalaman mudah berubah menjadi ilusi intelektual.

Kita akhirnya hidup di zaman ketika citra lebih dihargai daripada kedalaman. Orang berlomba terlihat cerdas, spiritual, atau kritis di ruang digital, tetapi jarang menyediakan waktu untuk benar-benar menguji pikirannya sendiri dalam kehidupan nyata. Ruang refleksi digantikan ruang reaksi. Semua harus cepat, singkat, dan segera mendapat respons.

Akibatnya, manusia modern perlahan kehilangan kemampuan untuk hening.

Padahal, hampir seluruh tradisi kebijaksanaan besar lahir dari keheningan: para filsuf menemukan perenungan dalam kesunyian, para sufi menempuh makrifat melalui pengasingan batin, dan para leluhur membangun falsafah hidup dari kedekatan panjang dengan alam dan pengalaman hidup sehari-hari.

Hari ini, keheningan dianggap membosankan. Orang takut sepi, lalu menenggelamkan dirinya dalam arus konten tanpa jeda. Pikiran terus dipenuhi suara-suara luar, hingga tidak lagi mampu mendengar suara terdalam dari dirinya sendiri.

Di tengah situasi demikian, mungkin yang paling penting hari ini bukan menambah informasi, melainkan memulihkan kesadaran.

Kesadaran untuk kembali membaca dengan utuh, mendengar dengan sabar, berdialog tanpa tergesa menyimpulkan, dan belajar langsung dari kenyataan hidup. Sebab pengetahuan yang tercerabut dari pengalaman hanya akan melahirkan manusia yang pandai berbicara, tetapi miskin pemahaman.

Dan boleh jadi, krisis terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi, melainkan kehilangan kemampuan untuk mengalami hidup secara mendalam.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak sedang kekurangan pengetahuan. Manusia hanya terlalu ramai oleh suara-suara, hingga lupa mendengar makna.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)

LAINNYA