Ketika Ilmu Pengetahuan Melaju, tetapi Kebijaksanaan Tertinggal

waktu baca 4 menit
Minggu, 18 Okt 2026 19:41 44 Redaksi

OPINI | TD — Pernahkah kita berpikir, mengapa manusia yang semakin pintar justru memiliki kemampuan yang semakin besar untuk menghancurkan dirinya sendiri?

Hari ini, ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat. Manusia mampu menjelajahi ruang angkasa, mengedit gen, menciptakan kecerdasan buatan, hingga membangun senjata yang dapat memusnahkan kehidupan dalam skala besar. Teknologi yang dahulu hanya hadir dalam imajinasi, kini menjadi bagian dari kenyataan.

Namun, di balik semua pencapaian itu, ada pertanyaan penting yang patut kita renungkan: apakah kebijaksanaan manusia berkembang secepat ilmu pengetahuannya?

Yuval Noah Harari, melalui buku Neksus: Riwayat Jejaring Informasi, dari Zaman Batu ke Akal Imitasi, mengajak kita melihat kembali hubungan manusia dengan informasi, teknologi, dan kekuasaan. Informasi yang semakin melimpah tidak selalu membuat manusia lebih memahami dunia. Teknologi yang semakin canggih juga tidak otomatis membuat manusia lebih mampu mengambil keputusan yang bijaksana.

Di sinilah paradoks peradaban modern muncul. Kita memiliki semakin banyak pengetahuan, tetapi belum tentu semakin pandai menggunakannya.

Manusia Modern, Naluri Zaman Batu

Secara teknologi, manusia telah melangkah sangat jauh dari nenek moyangnya. Kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Kita bisa mengakses jutaan informasi hanya melalui telepon genggam. Bahkan, kecerdasan buatan kini mampu membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan berpikir manusia.

Akan tetapi, cara kita menghadapi konflik, berebut kekuasaan, menyebarkan kebencian, dan mempertahankan kelompok sendiri terkadang masih mencerminkan naluri lama.

Kita mudah terjebak dalam pertentangan, merasa paling benar, dan menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan sendiri. Media sosial memperlihatkan bagaimana informasi yang seharusnya memperluas wawasan justru dapat memperkuat prasangka dan memecah belah masyarakat.

Artinya, kemajuan alat tidak selalu diikuti kemajuan cara berpikir. Kita bisa menggunakan teknologi abad ke-21 dengan pola pikir yang belum sepenuhnya terbebas dari ego, ketakutan, dan kepentingan sempit.

Kemajuan yang Bisa Menjadi Ancaman

Persoalan ini menjadi semakin serius ketika ilmu pengetahuan memberi manusia kekuatan yang luar biasa besar.

Kemampuan mengolah sumber daya alam telah meningkatkan kualitas hidup banyak orang. Namun, eksploitasi yang berlebihan juga menyebabkan kerusakan lingkungan, pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hutan ditebang, lautan dipenuhi sampah, dan perubahan iklim menjadi tantangan yang semakin nyata.

Di sisi lain, kemajuan teknologi militer memungkinkan manusia menciptakan senjata dengan daya hancur yang sangat besar. Senjata nuklir menjadi contoh paling nyata tentang bagaimana kecerdasan ilmiah dapat menghasilkan kemampuan untuk menghancurkan kehidupan dalam skala luas.

Teknologi itu sendiri bukanlah satu-satunya persoalan. Yang lebih menentukan adalah siapa yang menguasainya, untuk tujuan apa teknologi digunakan, dan seberapa bijaksana keputusan yang menyertainya.

Ketika kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu berkembang lebih cepat daripada kemampuannya mengendalikan dampak ciptaannya, kemajuan justru dapat berubah menjadi ancaman.

Informasi Banyak, Kebijaksanaan Belum Tentu

Kita hidup pada masa ketika informasi mudah diperoleh. Namun, kemudahan itu tidak menjamin bahwa kita memahami informasi secara utuh.

Berita palsu dapat menyebar dengan cepat. Potongan informasi dapat digunakan untuk membentuk opini yang menyesatkan. Teknologi kecerdasan buatan bahkan memungkinkan pembuatan konten yang tampak meyakinkan, meskipun belum tentu benar.

Masalahnya bukan semata-mata kekurangan informasi, melainkan kemampuan memilah, memeriksa, dan memahami informasi tersebut.

Kebijaksanaan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Ia menuntut kemampuan mempertimbangkan akibat, memahami sudut pandang orang lain, mengendalikan kepentingan pribadi, dan memikirkan dampak keputusan bagi generasi mendatang.

Dengan kata lain, manusia tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan?” Kita juga harus bertanya, “Apakah kita perlu melakukannya, dan apa akibatnya bagi kehidupan?”

Menyelamatkan Peradaban dari Dirinya Sendiri

Peradaban manusia dibangun melalui kerja sama, pengetahuan, dan kemampuan mengorganisasi kehidupan bersama. Namun, peradaban yang sama juga dapat terancam oleh keserakahan, konflik, kerusakan lingkungan, dan penyalahgunaan teknologi.

Karena itu, tantangan terbesar manusia bukan hanya menciptakan teknologi yang lebih canggih. Kita juga perlu membangun pendidikan yang menumbuhkan daya kritis, kebijakan yang berpihak pada kepentingan bersama, serta budaya yang menghargai tanggung jawab dan kemanusiaan.

Kemajuan ilmu pengetahuan tetap penting. Tanpanya, manusia akan kesulitan mengatasi penyakit, kemiskinan, dan berbagai persoalan kehidupan. Namun, ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan etika dan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul dari refleksi Harari bukan sekadar seberapa jauh manusia dapat melangkah, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk mengelola kekuatan yang telah kita miliki.

Sebab, ancaman terbesar bagi manusia mungkin bukan ketidakmampuan untuk menciptakan masa depan, melainkan kegagalan memahami konsekuensi dari masa depan yang sedang kita bangun.

Kita telah meninggalkan Zaman Batu dalam hal teknologi. Tetapi, apakah kita juga telah meninggalkannya dalam hal kebijaksanaan?

Pertanyaan itu layak kita renungkan sebelum kemajuan yang kita banggakan justru menjadi penyebab kehancuran kita sendiri.

Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, penikmat teks filsaafat dan tasawuf. (*)

LAINNYA