Nana Suryana (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Rilis skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 terbaru kembali menyajikan cermin yang retak bagi pendidikan Indonesia. Kemampuan literasi anak-anak kita masih mengkhawatirkan dan cenderung stagnan di papan bawah.
Berdasarkan data yang baru diumumkan, skor literasi membaca kita berada di angka 365, literasi sains di 389, dan matematika di 364.
Meskipun secara absolut sains dan membaca naik 6 poin dibandingkan tahun 2022, peringkat kita justru merosot. Literasi sains kini berada di peringkat 73 dari 91 negara (sebelumnya 67 dari 81), literasi membaca turun ke peringkat 74 (dari 71), dan matematika meluncur ke posisi 78 (dari 70). Jarak kita dengan rata-rata skor negara-negara OECD pun masih terpaut bagai bumi dan langit, yang bertengger di standar sains 482, membaca 461, dan matematika 463.
Seperti biasa, riak tanggapan publik dan pemangku kebijakan langsung riuh mencari kambing hitam; dari imbas pandemi, serbuan gawai, hingga minimnya infrastruktur perpustakaan di daerah. Namun, menyalahkan variabel luar tanpa menguliti akar masalah di dalam ruang kelas adalah bentuk pengerakan berpikir. Krisis literasi yang berkepanjangan ini sesungguhnya bukan sekadar masalah teknis atau kurangnya fisik buku. Ini adalah cerminan dari krisis paradigma filosofis dalam sistem pembelajaran di Sekolah Dasar (SD). Kita telah salah dalam memahami apa itu membaca, bagaimana pengetahuan dibangun, dan untuk apa membaca itu dilakukan.
Reduksionisme Membaca secara Ontologis
Gagal paham kita bermula dari tataran ontologis, apa sebenarnya hakikat membaca dalam sistem pendidikan kita? Di kelas-kelas SD, khususnya kelas awal, terjadi reduksionisme luar biasa. Membaca disempitkan sekadar sebagai kemampuan mekanis membunyikan abjad (decoding). Seorang anak dinilai sudah bisa membaca apabila ia telah hafal huruf, lancar mengeja, dan mampu menyuarakan kalimat panjang tanpa terbata-bata.
Di sinilah letak tragedi ontologis itu. Anak-anak dibiasakan menyuarakan teks tanpa pernah diajak menangkap “roh” atau makna di balik deretan kata tersebut.
Saat anak melangkah ke kelas tinggi dan dihadapkan pada soal-soal PISA yang menuntut pemahaman makna tersirat, mereka gagap. Mereka tidak tahu bahwa membaca pada hakikatnya adalah proses bernalar dan memetakan realitas. Ketika membaca hanya dihayati sebagai ritual mekanis bibir dan lidah, membaca kehilangan hakikat terpentingnya sebagai alat olah pikir.
Epistemologi Dogmatis dan Hafalan
Secara epistemologis, tentang bagaimana pengetahuan dibangun di dalam kepala siswa, ruang kelas SD kita masih dikuasai oleh watak dogmatis dan pasif.
Pengetahuan diposisikan sebagai fakta mati yang harus dipindahkan secara utuh dari buku paket atau papan tulis ke dalam ingatan anak. Pola pembelajaran berbasis Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal pilihan ganda mengondisikan anak-anak bahwa dalam setiap bacaan hanya ada satu jawaban benar yang sifatnya tekstual. Pembelajaran jarang sekali menyentuh Higher-Order Thinking Skills (HOTS). Siswa tidak dilatih untuk menanya mengapa tokoh dalam cerita mengambil keputusan tertentu, mengevaluasi bias dari sebuah teks, atau membandingkan dua sudut pandang yang berbeda. Padahal, PISA menguji literasi epistemic; kemampuan memproses, memvalidasi, dan mengkritisi informasi. Kegagalan anak-anak kita bukan karena tidak bisa membaca teksnya, melainkan karena mereka tidak pernah dilatih berpikir atas bacaan tersebut.
Dangkalnya Nilai Aksiologis
Krisis ini makin lengkap ketika kita meninjau aspek aksiologi; apa nilai guna dan tujuan dari literasi itu sendiri bagi anak-anak? Di tingkat sekolah dasar, aksiologi literasi terjebak dalam utilitarianisme dangkal yang sifatnya transaksional.
Anak membaca bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu atau memperluas horizon pikirannya, melainkan demi mengejar nilai ujian, menuntaskan tugas sekolah, atau menggugurkan kewajiban administrasi.
Aktivitas membaca akhirnya diperlakukan sebagai beban, bukan pengalaman yang membebaskan (emancipatory).
Program seperti membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajat, kerap menjadi sekadar formalitas tanpa pendampingan dialogis yang menghidupkan teks. Akibatnya, begitu bel istirahat atau bel kelulusan berbunyi, anak-anak dengan gembira meninggalkan buku. Mereka tidak pernah merasakan the joy of reading karena membaca sejak awal diposisikan sebagai alat kontrol, bukan pintu menuju kebebasan kognitif.
Membongkar Tradisi di Kelas SD
Mengurai benang kusut ini menuntut reorientasi radikal atas praktik pembelajaran di Sekolah Dasar. Pertama, reorientasi ontologis. Kelas awal SD harus menghentikan obsesi instan pada calistung mekanis. Pembelajaran harus digeser ke literasi dialogis, seperti metode membacakan nyaring (read aloud) yang diiringi diskusi interaktif mengenai isi cerita, perasaan karakter, dan pesan moralnya. Anak harus paham sejak dini bahwa membaca adalah proses memahami makna.
Kedua, transformasi epistemologis. Tinggalkan model tes yang sekadar menguji ingatan pendek (recall). Guru perlu didorong menyusun pertanyaan-pertanyaan terbuka yang menuntut penalaran, inferensi, dan sintesis. Siswa SD harus dibiasakan berhadapan dengan beragam bentuk teks, dari grafik, cerita pendek, hingga artikel sederhana dan diajak menguji kebenaran informasi di dalamnya.
Ketiga, restorasi aksiologis. Ciptakan ekosistem belajar yang memantik curiosity driven reading. Bebaskan anak memilih bacaan yang sesuai dengan minat alami mereka. Sekolah harus menjadi tempat di mana membaca dirayakan sebagai sarana memuaskan rasa ingin tahu, bukan ajang perburuan nilai numerik semata.
Hasil PISA terbaru bukanlah takdir historis yang harus kita terima dengan pasrah, melainkan kritik tajam atas cara kita mendidik. Jika kita terus membiarkan sekolah dasar mereduksi membaca sekadar sebagai kemampuan mengeja abjad, kita sedang secara sadar mencetak generasi yang fasih melihat teks, tetapi buta akan makna. Dan itu adalah sebuah kerugian peradaban yang amat mahal.
Penulis: Nana Suryana, Wakil Dekan 1 Fakultas IAILM Suryalaya Tasikmalaya. (*)