Kelompok jurnalis yang tergabung dalam Environmental Journalist Network (EJN) saat menimba pengetahuan tentang pelestarian, budidaya, dan pemanfaatan bambu di Yayasan Bambu Indonesia, Bogor, Kamis, (10/9). (Foto: Romli) BOGOR | TD — Environmental Journalist Network (EJN) mendorong pelestarian bambu di Kabupaten Tangerang dengan memperkuat pengetahuan para jurnalis mengenai konservasi dan budidaya bambu. Langkah itu dilakukan melalui kunjungan belajar ke Yayasan Bambu Indonesia (YBI) di Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (10/9).
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi kunjungan edukasi. Para peserta diajak mengenali berbagai jenis bambu, mempelajari teknik budidaya, serta melihat langsung pemanfaatan bambu untuk kebutuhan lingkungan, kerajinan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pembekalan diberikan langsung oleh pendiri sekaligus pengelola YBI, Jatnika Nanggamiharja atau yang dikenal sebagai Ki Jatnika/Abah Jatnika, serta praktik budidaya oleh para mentor YBI.
Koordinator Presidium EJN Sri Mulyo mengatakan, pembelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perspektif baru mengenai bambu, khususnya untuk dikembangkan sebagai salah satu potensi lingkungan di Kabupaten Tangerang.
“Bambu bukan hanya tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kerajinan. Bambu juga mempunyai fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya. Karena itu, kami ingin belajar bagaimana bambu bisa dilestarikan sekaligus dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Sri Mulyo.
Menurut Sri Mulyo, isu pelestarian bambu perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pertumbuhan kawasan perkotaan dan industri membutuhkan keseimbangan dengan upaya menjaga ruang hijau dan vegetasi yang memiliki manfaat ekologis.
Karena itu, pengetahuan mengenai bambu menjadi penting, terutama bagi jurnalis yang berkecimpung dalam isu lingkungan.
“Jurnalisme lingkungan tidak hanya berbicara tentang kerusakan. Kita juga perlu mengangkat praktik baik, pengetahuan masyarakat, dan potensi yang bisa menjadi solusi. Bambu salah satunya,” katanya.
Di YBI, peserta EJN melihat langsung bagaimana bambu dikembangkan melalui pendekatan konservasi, edukasi, pelatihan dan pemanfaatan.
YBI berdiri di atas lahan sekitar tiga hektare di tepian Sungai Ciliwung, Cibinong. Kawasan tersebut menjadi tempat penanaman dan koleksi berbagai jenis bambu Indonesia sekaligus pusat pembelajaran mengenai bambu.
Peserta EJN juga mengikuti praktik budidaya dan mendapatkan penjelasan mengenai pengolahan bambu menjadi berbagai produk.
Mulai dari kerajinan tangan, furnitur, suvenir hingga bangunan berbahan bambu dikembangkan di kawasan tersebut.
Pengalaman belajar langsung dari Ki Jatnika menjadi bagian penting dalam kunjungan EJN. Pengetahuan yang diberikan tidak hanya menyangkut teknik menanam bambu, tetapi juga bagaimana melihat bambu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Bambu memiliki potensi untuk dikembangkan dari hulu hingga hilir. Selain menjadi tanaman konservasi, bambu dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mempertahankan keterampilan dan pengetahuan lokal.
Bagi EJN, pengalaman YBI menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
“Dari sini kami melihat bahwa bambu memiliki potensi yang sangat luas. Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan mengenai bambu ini bisa ditularkan dan dikembangkan di daerah masing-masing,” ujar Sri Mulyo.
EJN berharap pengetahuan yang diperoleh dari YBI tidak berhenti sebagai pengalaman kunjungan, tetapi dapat dibawa ke Kabupaten Tangerang.
Menurut Sri Mulyo, langkah awal dapat dilakukan melalui edukasi, pengenalan jenis bambu, penanaman, pengembangan komunitas, hingga publikasi mengenai manfaat bambu bagi masyarakat dan lingkungan.
Ia juga membuka peluang kolaborasi antara jurnalis lingkungan dengan pemerintah daerah, komunitas, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat untuk memperluas gerakan pelestarian bambu.
“Harapannya, apa yang kami pelajari dari para pelaku konservasi dan penggiat bambu ini bisa menjadi pengetahuan yang kami bawa kembali untuk memperkuat gerakan jurnalistik lingkungan,” katanya.
Bagi EJN, pelestarian bambu bukan semata-mata urusan menanam dan merawat tanaman. Di dalamnya terdapat isu lingkungan, ekonomi, budaya, pengetahuan lokal, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Dari Cibinong, semangat itu hendak dibawa ke Kabupaten Tangerang: menjadikan bambu bukan sekadar tanaman yang tumbuh di tengah masyarakat, tetapi potensi ekologis yang dikenali, dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan. (*)