BEM Universitas MH Thamrin Gelar Diskusi Papua Lewat Film Dokumenter Pesta Babi

waktu baca 2 menit
Sabtu, 23 Mei 2026 20:02 17 Nazwa

JAKARTA | TD — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas MH Thamrin, Jakarta, menggelar nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film dokumenter Pesta Babi sebagai ruang refleksi kritis terhadap berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan di Papua, Kamis (22/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 300 mahasiswa dan dosen dari berbagai fakultas.

Film dokumenter Pesta Babi mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua beserta relasinya dengan pembangunan, ruang hidup, dan persoalan lingkungan yang terus menjadi perhatian publik. Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama sejumlah narasumber, salah satunya Direktur Eksekutif IndexPolitica, Alip Purnomo.

Dalam pemaparannya, Alip menekankan pentingnya negara menghadirkan pembangunan yang berpihak pada kemanusiaan dan menghormati hak-hak masyarakat adat Papua. Menurutnya, masyarakat adat memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekologis di wilayah Papua.

“Negeri ini bisa kualat kalau menindas masyarakat adat. Hubungan Indonesia dengan masyarakat adat itu ibarat anak kepada orang tua. Kalau anak merampas hak orang tuanya sendiri, maka itu menjadi bentuk kedurhakaan,” ujar Alip di hadapan peserta diskusi.

Ia menilai berbagai proyek pembangunan di Papua perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan mempertimbangkan aspek sosial serta budaya masyarakat setempat. Menurutnya, pembangunan yang mengabaikan ruang hidup masyarakat adat justru berpotensi memunculkan konflik sosial dan kerusakan lingkungan.

“Papua lebih butuh kasih sayang daripada food estate. Yang dibutuhkan masyarakat Papua adalah penghormatan, keadilan, dan rasa kemanusiaan dari negara,” katanya.

Sementara itu, pihak BEM Universitas MH Thamrin menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang diskusi akademik yang terbuka bagi mahasiswa dalam memahami persoalan nasional dari berbagai sudut pandang.

Melalui pemutaran film dokumenter dan dialog terbuka, mahasiswa diharapkan tidak hanya melihat Papua dari sisi konflik, tetapi juga memahami nilai kemanusiaan, budaya, dan kehidupan masyarakat adat yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas Indonesia. (*)

LAINNYA