KESEHATAN | TD – Belakangan, media sosial ramai membahas anggapan bahwa penyakit autoimun bisa muncul akibat kebiasaan memendam emosi, menahan tangis, atau tidak mengekspresikan perasaan. Narasi ini bahkan diperkuat oleh berbagai konten yang mengaitkan kondisi emosional dengan kesehatan sistem imun tubuh.
Meski terdengar masuk akal bagi sebagian orang, secara medis hubungan antara emosi dan penyakit autoimun tidak sesederhana hubungan sebab-akibat langsung.
Para ahli menilai, emosi memang dapat memengaruhi kondisi tubuh, tetapi autoimun bukanlah penyakit yang muncul hanya karena faktor psikologis semata.
Lalu, Apa Hubungan Emosi dan Sistem Imun?
Dalam dunia medis, stres emosional yang berlangsung lama memang diakui dapat berdampak pada tubuh. Ketika seseorang berada dalam tekanan berkepanjangan, tubuh akan terus berada dalam kondisi “siaga” yang dipicu oleh hormon stres.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan sistem imun, meningkatkan peradangan, serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu.
Namun, penting digarisbawahi: stres bukan penyebab tunggal penyakit autoimun, melainkan salah satu faktor yang dapat memperburuk kondisi pada individu yang sudah rentan.
Penyakit autoimun sendiri masih dipahami sebagai kondisi kompleks yang melibatkan banyak faktor sekaligus.
Penyebab Autoimun yang Telah Diketahui Secara Medis
Penyakit autoimun seperti Systemic Lupus Erythematosus atau Rheumatoid Arthritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Hingga saat ini, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor berikut:
- Faktor genetik atau riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
- Ketidakseimbangan hormon, terutama pada perempuan
- Infeksi tertentu yang dapat memicu respons imun abnormal
- Paparan lingkungan seperti polusi, asap rokok, atau bahan kimia tertentu
- Gangguan regulasi sistem imun yang menyebabkan tubuh gagal membedakan “diri sendiri” dan ancaman
Tidak ada satu penyebab tunggal yang berdiri sendiri dalam memicu autoimun.
Kenapa Narasi “Emosi Menyebabkan Autoimun” Mudah Menyebar?
Secara sosial, narasi ini terasa relevan karena banyak orang mengaitkan kondisi emosional dengan perubahan fisik yang mereka rasakan. Tidak jarang pula, gejala autoimun muncul atau memburuk pada masa stres berat, sehingga hubungan keduanya terlihat seolah-olah langsung.
Namun dalam perspektif medis, hal ini lebih tepat dipahami sebagai pemicu (trigger), bukan penyebab utama.
Stres dapat memperburuk respons imun, tetapi tidak berdiri sebagai akar penyakit.
Penutup: Antara Psikologis dan Biologis
Kesehatan mental dan kesehatan fisik memang saling terhubung. Namun, dalam kasus autoimun, hubungan tersebut tidak bersifat tunggal atau linier.
Emosi yang tidak terkelola dapat memengaruhi kondisi tubuh, tetapi penyakit autoimun tetap merupakan hasil dari kombinasi faktor biologis, genetik, dan lingkungan yang kompleks.
Dengan memahami hal ini, penting untuk tidak menyederhanakan penyakit menjadi satu penyebab tunggal, sekaligus tetap menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari kesehatan tubuh secara menyeluruh. (Nazwa)